BACAAJA, SEMARANG – Ketua DPP PDIP Bidang Pemerintahan dan Otonomi Daerah, Ganjar Pranowo, menyoroti kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terus berulang di Indonesia. Ia menyebut, berdasarkan penelitian 99 persen kebakaran hutan di Indonesia karena kesengajaan atau kelalaian manusia.
“Mengapa? Karena hutan di Indonesia yang berikan tropis ini kelembabannya tinggi, sehingga kecil kemungkinannya untuk muncul api tanpa ada yang menyulutnya,” kata Ganjar dalam video yang diunggah dalam akun Instagram miliknya @ganjar_pranowo pada Selasa (20/10/2026).
Dipaparkan lebih lanjut, karhutla di Indonesia bukanlah yang pertama. Peristiwa ini terus berulang hampir tiap tahun. Sebelum karhutla parah pada 2026 ini terjadi, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG ) telah memberi peringatan akan adanya kemarau panjang.
“Bahkan sudah ada julukannya, mengerikan, Elnino Godzilla. Kemarau tahun ini bakal panjang sekali hingga diperkirakan sampai Februari 2027,” tuturnya.
Bacaaja: DPR Dorong Karhutla Kalimantan Naik Status Jadi Bencana Nasional
Bacaaja: Gus Mus hingga Wantimpres Desak Prabowo Tetapkan Karhutla Jadi Bencana Nasional
Inilah mengapa sebagian pengamat mengatakan Karhutla ini bukan saja pembiaran, tapi kesengajaan. Mengapa terkesan kesengajaan? Karena polanya terus saja berulang di zona langganan. Di Riau, Jambi, Sumsel, Kalbar, Kalten, Kaltim, dan Kalsel.
Titik api munculnya di lokasi yang sama tiap musim kemarau. Bahkan kini, zonanya meluas. Merembet ke timur Indonesia, ada di epicenter baru yang ada di Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara, Papua, Papua Barat, dan Selatan.
“Fakta bahwa separuh titik api muncul di lahan berizin, dan munculnya bibit sawit baru di lahan bekas Karhutla semakin menguatkan asumsi ini,” tegasnya.
Ganjar menyatakan, mmendukung upaya kepolisian yang telah menangani 97 laporan terkait Karhutla, di mana 92 diantaranya sudah naik ke tahap penyidikan. Sementara dugaan keterlibatan korporasi masih didalami oleh penyidik.
“Karena api bisa diramal, asap bisa dicegah, tinggal kemauan dan keberanian kita untuk memastikan bencana itu tidak terulang kembali,” sambung dia.
Menurut Ganjar, ada lima langkah yang bisa dilakukan pemerintah untuk menuntaskan karhutla.
- Umumkan Karhutla sebagai bencana nasional.
- Mobilisasi sumberdaya secara maksimal. Dengan menerjunkan lebih banyak orang terlatih, dan mengkonversi peralatan transportasi darat, laut, udara menjadi alat bantu pemadaman secara massif dan terkoordinasi dengan baik.
- Refocusing anggaran. Alihkan sementara waktu anggaran program berdana besar untuk bencana nasional karhutla ini. Untuk apa saja? Selain pemadaman, juga untuk membantu ekonomi warga terdampak, bantuan sosial bagi warga, pedagang, dan UMKM misalnya. Pemerintah juga sebaiknya menanggung biaya pengobatan warga terdampak, mendistribusikan masker, oksigen dan kebutuhan lainnya untuk warga.
- Jika asap masih mengepung wilayah tertentu, baiknya siswa diliburkan saja. Laksanakan pembelajaran jarak jauh, demi keselamatan dan kesehatan anak-anak kita.
- Kerahkan seluruh pejabat terkait untuk ngantor di wilayah karhutla. Dengan merasakan sendiri sesaknya bernafas dalam kepungan asap dan mengetahui sendiri kondisi lapangan, para pejabat akan lebih mengetahui tingkat urgensinya sehingga penanganan bisa lebih cepat dilakukan.
Menanggapi pernyataan Ganjar, Steffanus Wahid Prasetiyono dengan akun @steff_whd mengatakan laporan yang sampai ke atas dengan kondisi lapangan sangat berbeda.
“Pak ganjar kami sedang menangani kebakaran di taman nasional tanjung puting. Anggaran sangat minim, penanganan lambat, info ke atas yang dbuat baik, aman, sangat berbeda dengan keadaan dilapangan. Intinya Pemda sangat lambat. Didukung pula gubernur setiap propinsi kalimantan yang sdh kita tau semua gmn kinerjanya. BERSAMA KITA TEGUH, BERCERAI KAWIN LAGI,” tulisnya dalam kolom komentar. (*)

