BACAAJA, SEMARANG – Populasi ternak sapi di Jawa Tengah (Jateng) anjlok sekitar 400 ribu ekor. Saat ini, populasi ternak sapi di Jateng diperkirakan 1,3 juta ekor. Sebelum wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) menyerang, populasi sapi di Jateng mencapai lebih dari 1,7 juta.
Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jateng melalui Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) genjot program inseminasi buatan (IB) untuk memulihkan populasi ternak sapi.
Teknologi sexing inseminasi buatan diharapkan bisa meningkatkan peluang kelahiran anak sapi betina yang nantinya dapat dikembangkan menjadi indukan.
Bacaaja: Peternakan di Purworejo Sukses Kembangkan Sapi Premium
Bacaaja: Djarum Bangun Peternakan Sapi Terbesar di Brebes
Kepala Distanak Jateng, Defrancisco Dasilva Tavares (Frans), mengatakan penambahan populasi sapi betina menjadi salah satu kunci untuk mendongkrak kembali jumlah ternak lembu di wilayahnya.
“Dulu memang sempat sampai lebih dari 1,7 juta ekor, tapi ada PMK jadi turun. Nah, sekarang kita berupaya untuk kembali menuju dan meningkatkan angka itu,” ujar Frans saat ditemui di kantornya, Selasa (20/10/2026).
Teknologi sexing bekerja dengan memisahkan sperma berdasarkan kromosom jenis kelamin. Dalam penerapannya melalui inseminasi buatan, metode ini digunakan untuk meningkatkan peluang lahirnya anak sapi betina.
Menurut Frans, semakin banyak sapi betina yang tersedia, semakin besar pula peluang untuk memperbanyak populasi melalui perkembangbiakan dari pejantan unggul.
“Dengan semakin banyaknya betina yang tersedia, peluang memperbanyak keturunan dari pejantan unggul juga semakin terbuka,” jelasnya.
Siapkan Impor Sapi Perah Bunting
Selain mengoptimalkan inseminasi buatan, Pemprov Jateng juga menyiapkan langkah lain untuk menambah populasi sapi, yakni melalui pengadaan sapi perah impor.
Sapi yang didatangkan harus sudah dalam kondisi bunting sebelum dikirim ke Indonesia. Skema ini diharapkan bisa mempercepat ketersediaan indukan sekaligus menambah kelahiran anak sapi.
Langkah tersebut juga ditujukan untuk mendukung produksi susu dalam jangka panjang. Dengan begitu, penambahan sapi tidak hanya berfokus pada jumlah ternak, tetapi juga pada keberlanjutan pengembangbiakan dan produksi peternakan.
Distanak Jateng berharap kombinasi teknologi sexing, inseminasi buatan, dan pengadaan sapi perah bunting dapat membantu memulihkan populasi sapi yang menurun akibat wabah PMK.
Tantangannya, upaya pemulihan perlu berjalan konsisten agar jumlah indukan terus bertambah dan populasi sapi di Jawa Tengah kembali meningkat. (dul)

