SEMARANG, BACAAJA- Lomba kaligrafi MTQ XXXI Tingkat Nasional 2026 di Jateng tak cuma menguji ketelitian peserta menyelesaikan karya. Kenyamanan venue dan pelayanan panitia lokal ternyata ikut mendapat perhatian.
Hal itu dirasakan peserta saat bertanding di Auditorium Imam Barjo Universitas Diponegoro (Undip), Pleburan, Kota Semarang, Senin (14/9/2026). Pelaksanaan lomba tersebut juga sempat ditinjau langsung Gubernur Jateng, Ahmad Luthfi.
Peserta kaligrafi dekorasi putri dari DKI Jakarta, Pevi Diana, misalnya, harus menghabiskan waktu hingga delapan jam untuk menyelesaikan karya di atas media triplek. Waktu tersebut sudah termasuk jeda istirahat.
Persiapan pun dilakukan sejak dua hari sebelum lomba setelah makro soal diberikan kepada peserta. “Untuk kaligrafi dekorasi itu di triplek dengan waktu delapan jam, sudah termasuk istirahat,” katanya.
Baca juga: Usai Pembukaan MTQ, Simpang Lima Langsung Dibersihkan
Menurut Pevi, salah satu hal yang membuatnya nyaman adalah desain venue lomba yang cukup privat. Penonton tidak diperbolehkan masuk ke area perlombaan sehingga peserta bisa lebih fokus mengurus karya masing-masing.
“Untuk arena dan segala macamnya enak, nyaman. Ruang privasi lebih ada. Lebih terjaga,” ungkapnya.
Bukan cuma ruangan yang mendapat pujian. Pelayanan panitia lokal, terutama para liaison officer (LO), juga membuat Pevi merasa terbantu. Dia menyebut para LO cukup sigap menyiapkan kebutuhan transportasi. Mereka juga dinilai ramah selama mendampingi peserta.
“Asyik banget. Di mobil segala macam mereka langsung prepare dan ramah-ramah. Kalau mengantar ke mana-mana mereka selalu ramah, ngajak ngobrol,” jelasnya.
Pevi bukan wajah baru di ajang MTQ nasional. Sejak 2020, dia sudah mengikuti MTQ tingkat nasional di Padang, Sumatera Barat, kemudian Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur.
Dari sejumlah keikutsertaan itu, dia pernah meraih juara harapan satu di Kalimantan Timur, juara harapan tiga di Kalimantan Selatan, serta masuk 10 besar saat tampil di Padang. Tahun ini targetnya pun naik kelas: menembus final dan membawa pulang juara pertama. “Semoga final dan juara satu tahun ini,” harapnya.
Berburu Kuliner
Namun, Pevi rupanya tak cuma membawa target juara dari Jakarta. Ada agenda lain yang sudah masuk daftar setelah lomba: jalan-jalan dan berburu kuliner Semarang.
Dia bahkan sudah mendapat referensi dari TikTok dan penasaran dengan bazar MTQ. “Jalan-jalan sih, karena sudah lihat di TikTok, cari-cari food-nya apa saja, terus tempat wisatanya. Pingin banget ke bazar MTQ untuk lihat apa saja yang ada di sana,” tuturnya.
Cerita serupa datang dari Andi Faiz Azizi, peserta cabang kaligrafi hias mushaf yang mewakili Papua Barat. MTQ XXXI menjadi pengalaman perdana Andi mengikuti kompetisi MTQ tingkat nasional. Datang ke Jateng juga menjadi pengalaman pertamanya.
“Saya sebagai cabang kaligrafi hias mushaf mewakili Provinsi Papua Barat. Ini yang pertama kali dan perdana mengikuti. Alhamdulillah, bisa berkontribusi dalam event ini. Tentunya sangat bersyukur dan sangat senang juga, karena baru pertama kalinya,” kata Andi.
Dia menilai venue lomba cukup luas dan nyaman. Kondisi ruangan yang sejuk serta suasana yang tidak terlalu bising dianggap pas untuk peserta kaligrafi yang membutuhkan konsentrasi tinggi.
Baca juga: 12 Venue MTQ Nasional Dilengkapi Posko Kesehatan, 306 Tim Medis Siaga
“Tempatnya cukup luas dan nyaman. Pada umumnya kaligrafi itu tempat yang sejuk dan tidak terlalu berisik, dan saya rasa di sini cukup bagus dan efisien,” terangnya.
Begitu lomba selesai, Andi juga sudah punya agenda sederhana: jalan-jalan dan mencicipi makanan khas Jateng. Namun untuk saat ini, fokusnya masih satu. Menyelesaikan karya dan berharap hasilnya bisa membawa prestasi untuk Papua Barat.
“Jalan-jalan ke Jateng, mau coba jalan-jalan ke tempat wisata. Makanan khas sini sih mau,” imbuhnya. Setelah berjibaku menyelesaikan karya kaligrafi hias mushaf, Andi mengaku bersyukur karena tugasnya sudah dituntaskan.
“Alhamdulillah tadi sudah selesai karyanya. Insyaallah juara saja sih,” pungkasnya. Jadi, setelah delapan jam menatap triplek dan mengejar detail huruf, ternyata hadiah paling awal peserta bukan piala. Ada venue yang nyaman, LO yang ramah, plus daftar kuliner Semarang yang sudah mengantre. Tinggal satu yang belum pasti: juaranya. (tebe)

