BACAAJA, SEMARANG – Ada yang berjalan membawa bendera daerah, ada yang mengenakan pakaian khas daerah, sementara dari barisan lain terdengar suara marching band. Sabtu (12/9/2026) pagi, ruas jalan Kota Semarang berubah menjadi panggung keberagaman saat ribuan peserta mengikuti Pawai Ta’aruf MTQ Nasional XXXI.
Dari Balai Kota Semarang, rombongan bergerak menuju Kantor Gubernur Jawa Tengah. Sekitar 1.000 orang ikut dalam pawai sepanjang kurang lebih 2,5 kilometer tersebut.
Kafilah dari 38 provinsi menjadi bagian dari iring-iringan. Mobil hias ikut mempercantik barisan, sementara sejumlah kafilah menampilkan ciri khas daerahnya masing-masing.
Begitu tiba di depan kompleks Gubernuran Jawa Tengah, suasana kembali ramai. Para kafilah bergantian menunjukkan penampilan di hadapan Menteri Agama RI Nasaruddin Umar dan Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen.
Salah satu yang mencuri perhatian yakni kafilah Banten dengan atraksi debusnya. Penampilan tersebut menjadi gambaran bahwa MTQ tidak hanya mempertemukan peserta untuk berkompetisi membaca dan memahami Alquran, tetapi juga membawa warna budaya dari berbagai penjuru Indonesia.
Bagi Taj Yasin, pertemuan berbagai budaya dalam satu panggung itu justru menjadi pesan penting dari gelaran MTQ XXXI. Ia menyebut pawai tersebut sekaligus menandai dimulainya rangkaian MTQ yang akan berlangsung di 12 venue di Kota Semarang.
“Keberagaman kebudayaan dan adat ini bisa bersatu padu membangun Indonesia. Lewat MTQ Nasional, kita membumikan Alquran. Ini adalah buah keberkahan untuk kita bersama. Tidak melihat suku, ras, agama, semuanya berkumpul dan kita bersatu,” ujarnya, Sabtu (12/9/2026).
Cerita Berbeda
Semangat itu tak hanya terlihat dari kemeriahan pawai. Kafilah Nusa Tenggara Timur (NTT) datang membawa cerita berbeda. Di tengah kondisi daerah yang sempat diguncang bencana gempa, 80 anggota kafilah NTT tetap berangkat ke Semarang. Mereka datang dari wilayah kepulauan Flobamorata, meliputi Flores, Sumba, Timor, Alor, dan Lembata.
Pengurus LPTQ NTT, Hamdan Saleh Batjo mengatakan, kondisi tersebut tidak menyurutkan semangat mereka untuk mengikuti MTQ. Justru momentum ini menjadi ruang untuk kembali menguatkan ukhuwah sekaligus semangat memasyarakatkan Al-Qur’an.
“Sekalipun NTT mengalami bencana, tetapi semangat ukhuwah Islam dan memasyarakatkan Alquran di seluruh Indonesia dan Nusantara ini, menjadi satu hal yang membangkitkan semangat NTT dalam mengikuti kegiatan MTQ kali ini,” katanya.
Dari jalanan Semarang pagi itu, pesan MTQ pun terasa lebih sederhana. Puluhan rombongan datang dengan pakaian, budaya, dan cerita yang berbeda. Namun, semuanya berjalan dalam satu iring-iringan yang sama.
Pawai pun bukan sekadar pembuka acara. Ia menjadi semacam potret kecil Indonesia. beragam ketika datang, tetapi bisa bertemu dan berjalan bersama dalam satu tujuan.
Indonesia memang kadang terlihat seperti kumpulan puzzle yang berbeda bentuk. Tapi di Semarang pagi itu, semuanya dipaksa ketemu dalam satu frame. Beda pakaian boleh, beda budaya boleh, tapi barisannya jangan sampai beda arah. (dul)

