BACAAJA, SEMARANG- Kampung Jajanan Pasar Bangetayu Kulon, Genuk, Kota Semarang dinilai punya potensi besar untuk berkembang menjadi penggerak ekonomi lokal. Namun, potensi itu tidak akan maksimal kalau pemerintah dan masyarakat belum benar-benar tahu apa saja yang dimiliki kampung tersebut.
Menurut Samuel, pendataan harus dilakukan secara lengkap. Bukan hanya mencatat jenis jajanan pasar yang tersedia, tetapi juga resep, bahan baku, kandungan gizi, pelaku usaha hingga potensi ekonominya.
“Yang utama data,” tegasnya usai kegiatan Bimtek Pemberdayaan Masyarakat Destinasi Wisata di Kampung Jajanan Pasar, Bangetayu Kulon, Genuk, Kota Semarang, Sabtu, (12/9/2026).
Ia menjelaskan, jajanan pasar merupakan bagian dari local wisdom yang sebenarnya punya banyak keunggulan. Bahan bakunya umumnya tersedia di sekitar masyarakat, cara pengolahannya relatif mudah, sekaligus bisa menjadi sumber penghasilan keluarga.
Baca juga: Ketika Sampah Tekstil Bicara: Perlawanan Sunyi Samuel Wattimena
Namun, di era sekarang, kekayaan kuliner tradisional itu perlu dilihat lebih detail. Termasuk memastikan kandungan gizinya sehingga makanan tradisional tidak hanya terlihat menarik, tetapi juga benar-benar memiliki nilai gizi. “Resep itu kalau zaman sekarang harus di-breakdown lagi, ada gizinya apa nggak?” ujarnya.
Hal serupa berlaku untuk pendampingan UMKM. Pemerintah, menurutnya, tidak bisa menentukan bentuk bantuan kalau data pelaku dan kebutuhannya tidak jelas. Dengan data, bisa diketahui siapa pelakunya, berapa modal yang dibutuhkan, produk apa yang akan dikembangkan, hingga ke mana produk tersebut akan dipasarkan.
“Dari data kita tahu pelakunya siapa, pelaku ini membutuhkan dana berapa, apa yang akan dibikin, mereka mau memasarkan di mana,” kata politikus PDIP ini. Data tersebut juga membantu pemerintah menentukan bentuk dukungan yang lebih tepat. Jika target pasar sudah diketahui, kebutuhan modal dan strategi pengembangannya pun bisa dihitung dengan lebih realistis.
Hambatan Pengembangan
Ia menilai hambatan dalam pengembangan UMKM sebenarnya ada, tetapi sebagian masih tergolong minor. Yang lebih mendasar adalah memastikan pemerintah tahu apa yang memang harus dibantu. “Kalau saya pemerintah, saya akan bertanya, saya perlu memperhatikan apa? Apanya yang mau diperhatikan? Kembali ke data,” katanya.
Ia juga menyinggung persoalan kualitas data di Indonesia yang masih menjadi pekerjaan rumah. Menurutnya, penentuan kondisi ekonomi masyarakat tidak bisa hanya berdasarkan indikator yang terlihat dari luar. Rumah yang sudah berlantai keramik, misalnya, belum tentu menunjukkan pemiliknya sudah mampu secara ekonomi. Bisa saja kondisi tersebut terjadi karena adanya bantuan pemerintah.
Soal fluktuasi harga bahan baku yang kerap menghantam UMKM kuliner, ia menilai pelaku usaha juga perlu melihat kondisi dan kekuatan yang mereka miliki. Dukungan terhadap UMKM memang penting. Namun, masyarakat juga harus bijak menentukan kebutuhan. Ia mencontohkan keinginan membeli laptop atau kamera untuk menunjang pemasaran digital.
Menurutnya, sebelum membeli perangkat baru, pelaku UMKM sebaiknya memaksimalkan lebih dulu perangkat yang sudah dimiliki, termasuk telepon seluler. “Maksimalkan dulu hape yang mereka miliki,” ujarnya.
Baca juga: Samuel Wattimena: Stop Jalan Sendiri, Yuk Kolaborasi Biar Budaya Lokal Bisa Mendunia!
Digitalisasi juga tidak boleh sekadar ikut tren. Pelaku usaha harus memastikan kualitas produk yang akan dijual memang sudah baik sebelum sibuk memikirkan kemasan digital dan pemasaran. “Jangan selalu serba pingin mengikuti keberadaan sekarang tanpa melihat diri sendiri. Kekuatan diri sendiri, potensi diri sendiri,” katanya.
Ketika ditanya apa persoalan yang paling mendesak untuk dibenahi di Kampung Jajanan Pasar, apakah modal, bahan baku, pemasaran, atau legalitas, ia kembali pada jawaban yang sama. Yang pertama harus dilakukan adalah mengenali apa yang sudah dimiliki.
“Yang paling utama, mengetahui apa yang mereka miliki, introspeksi apa yang mereka mesti lakukan dengan apa yang mereka miliki, yang lain akan mengikuti,” pungkasnya.
Kampung Jajanan Pasar ternyata tidak selalu butuh kamera mahal untuk terlihat keren. Sebelum sibuk bikin konten, lebih baik tahu dulu: jajanannya apa, siapa yang bikin, gizinya bagaimana, dan duitnya bisa muter ke mana. Jangan-jangan yang selama ini kurang bukan potensi, tapi datanya. (tebe)

