Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
Reading: Selamat Jalan Sang Sukarnois
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
© 2025 Bacaaja.co
Opini

Selamat Jalan Sang Sukarnois

Redaktur Opini
Last updated: September 11, 2026 1:31 pm
By Redaktur Opini
5 Min Read
Share
SHARE

Nezar Patria, penulis buku Sejarah Mati di Kampung Kami (2023).

Pergi saat berkarya, adalah kepergian yang indah bagi seorang intelektual.

Saya tak mengira mendapat kabar duka itu hari ini, 9 September 2026. Airlangga Pribadi Kusman, seorang intelektual muda dan pemikir berbakat mendadak pergi dengan cara yang indah bagi siapa saja yang menekuni ilmu.

Dia tiba di Jakarta dari Surabaya dengan menumpang kereta dan turun di Stasiun Gambir. Hari masih terlalu pagi, dan Angga, demikian dia disapa, menuju kedai kopi Atjeh Connection di Jalan Sabang, yang selalu buka sepanjang hari dan malam.

Dia memesan kopi kesukaannya dan sejumlah kudapan untuk sarapan pagi. Kedai masih sepi. Sambil menunggu dijemput sang istri yang harus mengantarkan anaknya sekolah di daerah Pamulang, Angga membuka laptop dan dia melanjutkan menulis makalah tentang Sukarno, sebuah artikel riset yang ditulisnya bersama Vijay Prashad, seorang sejarawan dan intelektual dari India.

“Laptopnya masih terbuka ketika Angga bangun dari tempat duduknya di kedai itu, dan lalu berdiri sempoyongan, dan akhirnya jatuh”, ujar Didik, sahabatnya di Penerbit GDN, sebuah perusahaan yang menerbitkan buku-buku karya Angga.

Di laptop, artikel yang hampir jadi itu masih tampil di layar, dan Angga baru ditemukan oleh penjaga kedai dalam keadaan tergeletak di lantai. Istrinya, Lia mengontak melalui telepon genggam dan penjaga kedai itu memberitahukan keadaan Angga yang pingsan. Ambulans datang, dan dia dilarikan ke unit gawat darurat RSPAD Gatot Subroto.

“Penjaga kedai menceritakan saat-saat Angga terjatuh melalui rekaman CCTV mereka,” kata Didik.

Di dalam ambulans tekanan darahnya 240, dan terus meningkat hingga di ruang emergensi. Gula darahnya 400. “Angga dalam keadaan koma sejak dia dibawa ke RS,” kata Didik. Sekitar pukul 13.35, Angga mengalami henti jantung. Di ruang itu, para dokter berupaya keras agar jantungnya bisa kembali berdetak. Tapi takdir punya jalannya sendiri.

Angga akhirnya meninggal. Dia berusia 49 tahun, dan tercatat sebagai dosen di FISIP Universitas Airlangga, kampus yang juga sama dengan nama depannya.

Saya, seperti para kawan dekatnya, terkejut. Saya mengenalnya saat dia mengambil program doktoral di Universitas Murdoch, Australia, sekitar 2010, di bawah asuhan Prof. Vedi Hadiz dan Richard Robison. Saat itu kami mendiskusikan 25 tahun terbitnya buku The Rise of Capital, karya Robison. Kelak, pendekatan ekonomi politik itu menjadi ciri khas kampus Murdoch, atau bolehlah disebut sebagai “Murdoch School”.

Angga adalah salah satu intelektual yang mewarisi disiplin ilmu politik itu. Dia menulis satu karya penting “The Vortex of Power: Intellectuals and Politics in Indonesia’s Post-Authoritarian Era”, yang diterbitkan Palgrave Macmillan pada 2019. Sebuah buku hasil riset doktoralnya yang menelisik jejaring kekuasaan yang tumbuh di Jawa Timur setelah reformasi. Bukunya yang lain, yang mencerminkan kegigihannya adalah Merahnya Ajaran Bung Karno: Narasi Pembebasan ala Indonesia (2022).

Setelah itu, dia terus menekuni pemikiran Sukarno dan Marhaenisme. Menulis banyak artikel dan buku antara lain yang terbaru adalah “Marhaenisme: Dalil Baru untuk Gen Z”, yang ditulisnya bersama Rocky Gerung, dan rencananya akan dikupas dalam satu diskusi buku di Tangerang Selatan, Kamis besok.

Ketika mendengar kabar duka yang mengagetkan itu, saya bergerak ke Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD). Lia dan Didik masih berada di ruang emergensi. Di depan kami Angga tidur terbujur dengan tenang. Saya berdoa dan mengirimkan Al Fatihah untuknya. Lia tampak sangat tabah, dan dia menceritakan detik-detik terakhir suaminya pergi.

Saya terus membayangkan bagaimana dia menulis di saat-saat terakhirnya, laptop yang masih menyala, dan bangkit dari kursi lalu sesaat kemudian kakinya goyah, limbung sejenak, dan jatuh tergeletak di lantai. Saya percaya saat itu dia bergulat dengan pemikiran dan juga bertempur dengan kata-kata yang harus dituliskannya untuk menjadi abadi.

Pergi saat berkarya, adalah kepergian yang indah bagi seorang intelektual. Selamat jalan, kawan. Karyamu akan selalu hidup dalam perdebatan dan sanjungan.(*)

*Tulisan dari penulis esai dan artikel tidak mewakili pandangan dari redaksi. Hal-hal yang mengandung konsekuensi hukum di luar tanggung jawab redaksi.

You Might Also Like

Valuasi Sumber Daya Alam dan Lingkungan: Jalan Tengah Pembangunan Banjarnegara Maju 2025

Membaca Sisi Psikologis dan Relasi Manusia pada Kasus Reyhan dan Fara

Merayakan Kebebasan dengan Kata-Kata

Meluruskan Pandangan Keliru terkait Konseling ke Psikolog

Bersama-sama Tapi Sendiri

Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article TANAM BIBIT--Petugas sedang menanam bibit karang di perairan Tanjung Gelam, Taman Nasional Karimunjawa, Jepara. (ist) 1.300 Bibit Terumbu Karang Ditanam untuk Pulihkan Ekosistem Laut Karimunjawa
Next Article PERSIAPAN MTQ NASIONAL - Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti, bercengkrama dengan sejumlah stakeholder di sela memberikan pembekalan serta penyerahan uang saku kepada 16 peserta kafilah asal Kota Semarang di Lobby Wali Kota Semarang pada Jumat (4/9/2026). Siap Jadi Tuan Rumah, Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Bekali 16 Anggota Kafilah MTQ XXXI

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

BERBAGI - HUT ke-26, PLN Icon Plus salurkan santunan kepada anak yatim dan dhuafa melalui enam yayasan, serta bantuan kepada dua masjid di sekitar operasional perusahaan.

Berbagi pada Usia ke-26, PLN Icon Plus Hadir untuk Anak Yatim dan Dhuafa

Ilustrasi BPJS Kesehatan.

BPJS Kesehatan Ditutup? Begini Infonya

Agustina Genjot Ketahanan Pangan Semarang: Dari Kebun Warga hingga Pasar Murah

Investasi Jateng Tembus Rp72,54 Triliun, 340 Ribu Orang Kebagian Peluang Kerja

Tinggal Satu Titik Api di Gunung Lawu, Luthfi Minta Petugas Jangan Pulang Dulu

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo membentuk Tim Transformasi Reformasi Kepolisian di saat Presiden Prabowo juga sedang membentuk Tim Reformasi Kepolisian dari eksternal kepolisian. Foto: dok.
Opini

Polisi Masa Kini: Antara Transformasi Serius dan Upgrade Aplikasi yang Masih Loading

September 15, 2025
Opini

Krisis Identitas Seorang Santri Ketika Menjadi Mahasiswa Baru

Januari 23, 2026
Opini

Grup WA Kelas Bukan Ruang Penghakiman

Januari 28, 2026
Opini

Perihal Pajak dan Kekhawatiran Seorang Lelaki Beristri

Februari 19, 2026

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: Selamat Jalan Sang Sukarnois
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?