BACAAJA, JAKARTA – Safari politik Joko Widodo (Jokowi) gak ngefek alias tak berdampak banyak untuk mendongkrak elektabilitas Partai Solidaritas Indonesia (PSI)
Boleh jadi, Jokowi masih bisa menarik perhatian publik. Namun, perhatian publik tak otomatis bisa dikonversi jadi suara.
Masyarakat tahu, Jokowi melakukan safari politik untuk membesarkan PSI, tapi mereka tetap tak menjatuhkan pilihan politik pada partai berlambang gajah itu.
Bacaaja: Nasib PSI Jadi Ujian Pamor dan Kesaktian Politik Jokowi
Bacaaja: Partainya Keluarga Jokowi, Kaesang Kembali Terpilih Jadi Ketua Umum PSI
Survei terbaru Parameter Politik Indonesia (PPI) justru menunjukkan hasil yang cukup menarik. PPI mencatat 37,1 persen responden mengetahui aktivitas politik Jokowi untuk PSI.
Akan tetapi dari kelompok yang tahu itu, hanya sekitar 13 persen yang mengaku tertarik bergabung atau memilih PSI.
Sementara itu, 34,8 persen menyatakan tidak tertarik. Kemudian 28,1 persen memilih bersikap biasa saja dan 24,2 persen tidak memberikan jawaban.
Artinya, nama besar Jokowi memang masih bisa menarik perhatian. Tapi soal mengubah perhatian menjadi dukungan politik, ceritanya beda.
Direktur Eksekutif PPI Adi Prayitno mengatakan angka 13 persen tetap menunjukkan adanya peluang bagi PSI.
“Dari 37 persen masyarakat yang tahu kalau Jokowi bekerja untuk PSI ada sekitar 13 persen yang berpotensi memilih dan kemudian bergabung dengan PSI. Intinya ada potensi,” kata Adi dalam pemaparan survei PPI, dikutip Sabtu (5/9/2026).
Temuan survei ini bisa menjadi alarm buat PSI. Safari politik Jokowi memang membuat PSI lebih banyak dibicarakan. Tetapi popularitas seorang tokoh tidak otomatis membuat partainya ikut disukai.
PSI tetap harus membangun daya tariknya sendiri. Mulai dari gagasan, kader, kerja politik, sampai isu yang benar-benar dirasakan masyarakat.
Adi juga mengingatkan, angka 13 persen tersebut masih sebatas potensi. Realisasinya sangat bergantung pada kerja politik PSI ke depan.
“Namanya potensi itu ya bisa menjadi bagian dari PSI atau tidak menjadi bagian dari PSI. Sangat tergantung dengan kerja-kerja politik yang akan dilakukan oleh PSI di masa-masa yang akan datang,” ujarnya.
Jadi, Jokowi mungkin bisa membuka pintu. Tapi apakah publik mau masuk, itu tetap bergantung pada PSI.
Sebab kalau kekuatan partai terlalu bertumpu pada satu figur, pertanyaan berikutnya jelas: seberapa kuat PSI kalau sorotan terhadap Jokowi mulai mereda?
Survei PPI dilakukan terhadap 1.200 warga negara Indonesia berusia minimal 17 tahun atau sudah menikah.
Responden tersebar secara proporsional di 38 provinsi, 116 kabupaten/kota, 120 kecamatan, dan 120 desa/kelurahan.
Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara tatap muka oleh surveyor mahasiswa pada 20 Juli hingga 3 Agustus 2026.
Survei tersebut memiliki margin of error sekitar 2,8 persen dengan tingkat kepercayaan 95 persen.
Hasilnya memberi gambaran cukup jelas: Jokowi masih bisa mendatangkan perhatian, tetapi perhatian belum otomatis berubah menjadi suara untuk PSI.
Pada akhirnya, kerja politik Jokowi mungkin bisa membantu mengerek nama PSI. Namun untuk benar-benar mendongkrak elektabilitas, PSI tetap harus membuktikan dirinya sendiri. (*)

