BACAAJA, SEMARANG- Anggota Komisi VII DPR RI, Samuel JD Wattimena, mengajak masyarakat Jawa Tengah, khususnya di Daerah Pemilihan (Dapil) Jateng I yang meliputi Kota Semarang, Kabupaten Semarang, Kabupaten Kendal, dan Kota Salatiga, menghadapi El Nino 2026 dengan sikap tenang namun tetap waspada.
Pesan itu disampaikan Samuel saat menjadi narasumber Podcast di Stasiun RRI Semarang, Jumat (7/8/2026) yang membahas ancaman El Nino terhadap kesehatan, ketahanan pangan, ketersediaan air bersih, hingga kondisi sosial ekonomi masyarakat.
Menurut Samuel, El Nino bukan sekadar membuat cuaca terasa lebih terik. Dampaknya bisa merembet ke berbagai sektor kehidupan jika masyarakat tidak bersiap sejak dini.
“El Nino bukan sekadar cuaca panas. Dampaknya menyentuh air bersih, pangan, kesehatan, bahkan penghasilan keluarga. Karena itu komunikasi kepada masyarakat harus menenangkan, berbasis data, sekaligus memberikan langkah-langkah yang bisa dilakukan,” ujarnya.
Samuel menegaskan, informasi yang disampaikan pemerintah dan lembaga terkait seharusnya dipahami sebagai peringatan dini, bukan alasan untuk panik. “Data bukan untuk menakut-nakuti. Data adalah alarm agar kita bergerak lebih cepat,” katanya.
Baca juga: Siap Hadapi El Nino Ekstrem Pompa Air Disiapkan Massal
Dalam podcast tersebut dipaparkan data BMKG yang menunjukkan El Nino 2026 telah masuk kategori kuat. Indeks Nino 3.4 pada Dasarian II Juli 2026 mencapai +2,26, sementara 72,8 persen zona musim di Indonesia telah memasuki musim kemarau.
Selain itu, 92,93 persen wilayah mengalami curah hujan rendah dan hampir 90 persen wilayah memiliki sifat hujan di bawah normal. Samuel menjelaskan secara sederhana bahwa El Nino terjadi ketika pusat pembentukan awan hujan bergeser menjauh dari Indonesia sehingga musim kemarau berlangsung lebih panjang dan lebih kering.
Meski demikian, ia mengingatkan masyarakat agar tidak salah memahami kondisi tersebut. “El Nino bukan berarti hujan berhenti total. Hujan lokal masih mungkin terjadi. Yang berubah adalah secara umum curah hujan menjadi lebih sedikit dan musim kemarau berlangsung lebih panjang,” jelasnya.
Sebagai legislator dari Dapil Jateng I, Samuel menilai setiap daerah memiliki tantangan yang berbeda. Di Kota Semarang, perhatian utama diarahkan pada meningkatnya suhu perkotaan, kebutuhan air bersih, serta potensi rob yang tetap bisa terjadi meski sedang musim kemarau.
Irigasi Terganggu
Sementara di Kabupaten Semarang, ancaman lebih banyak dirasakan sektor pertanian akibat berkurangnya debit mata air dan terganggunya irigasi. Petani diminta mulai menyesuaikan pola tanam dan menjaga sumber-sumber air.
Adapun Kabupaten Kendal dan Kota Salatiga telah menetapkan status siaga kekeringan. Di dua daerah tersebut, fokus penanganan diarahkan pada penyediaan air bersih, perlindungan kesehatan masyarakat, serta penguatan infrastruktur air seperti embung dan pompa. Samuel menilai langkah pemerintah harus diiringi kesadaran masyarakat.
“Jangan menunggu sumur kering baru bergerak. Kita harus mulai menghemat air, menjaga lingkungan, dan melindungi kelompok rentan sejak sekarang,” tegasnya.
Sebagai anggota Komisi VII DPR RI yang membidangi kesehatan, Samuel juga mengingatkan bahaya cuaca panas berkepanjangan terhadap kesehatan masyarakat.
Menurutnya, risiko dehidrasi, kelelahan akibat panas (heat exhaustion), hingga heatstroke meningkat, terutama pada anak-anak, lansia, ibu hamil, pekerja lapangan, dan penderita penyakit kronis.
Baca juga: Samuel Wattimena Ingatkan Ancaman El Nino, Pariwisata dan UMKM Diminta Siaga
Ia mengimbau masyarakat memperbanyak minum air putih, mengurangi aktivitas di bawah terik matahari, memakai pelindung kepala, serta segera mencari pertolongan medis jika mengalami gejala seperti pusing, mual, tubuh lemas, kebingungan, atau kulit yang terasa sangat panas.
Samuel juga meminta masyarakat hanya mengandalkan informasi resmi dari BMKG maupun pemerintah daerah dan tidak mudah percaya pada informasi yang belum terverifikasi. “Hemat air bukan panik, tetapi disiplin. Informasi resmi akan membantu keluarga mengambil keputusan yang tepat,” ujarnya.
Di akhir diskusi, Samuel mengajak seluruh elemen masyarakat bergotong royong menghadapi musim kemarau panjang agar dampaknya bisa ditekan sejak awal.
“Kesiapan hari ini akan menentukan apakah El Nino menjadi krisis besar atau risiko yang bisa kita kendalikan bersama. Kalau semua bergerak lebih awal, dampaknya bisa kita tekan,” pungkasnya.
Musuh terbesar saat El Nino bukan hanya cuaca yang makin panas, tetapi kebiasaan menunggu sampai masalah datang. Sebab sumur yang sudah kering tak pernah bisa diisi dengan penyesalan. (tebe)

