BACAAJA, SEMARANG – Apa hubungan memelihara ayam dan merawat suara konstituen bagi politikus? Di tangan politikus PDIP Semarang, Rahmulyo Adi Wibowo, ayam punya peranan penting dalam menjaga suara konstituen.
Halaman rumah Rahmulyo Adi Wibowo (RAW) dipenuhi suara ayam. Sebagian di dalam kandang, sebagian lainnya bebas berkeliaran di lapangan. Pemandangan itu mungkin tak lazim bagi seorang politikus.
Namun, bagi Ketua Fraksi PDIP DPRD Kota Semarang itu, kandang ayam bukan sekadar hobi, melainkan bagian dari cara membangun kedekatan dengan masyarakat, sekaligus memelihara suara.
Bacaaja: DPRD Semarang Minta SPPG Karang Turi Ditutup Permanen
Bacaaja: Viral Ayah Tewas Gara-Gara Ayam, Legislator Semarang: “Butuh Ayam? Ambil Saja di Rumah Saya”
Cerita tersebut diungkap Rahmulyo saat menjadi narasumber podcast Ruang Baca yang tayang di kanal YouTube BacaAjaDotCo pada Selasa (4/8/2026). Dalam wawancara itu, ia memperkenalkan gagasan yang ia sebut sebagai “politik yang bisa dimakan”, yakni berbagi kebutuhan pangan kepada warga melalui ayam kampung yang dipeliharanya.
Awalnya, ratusan ekosr ayam kampung yang ia pelihara berasal dari kuburan. Lha kok bisa? Semua bermula dari tradisi masyarakat saat pemakaman.
Di beberapa wilayah Kota Semarang, keluarga yang berduka kerap melepas ayam di area pemakaman. Tradisi ini berlaku bila yang dimakamkan semasa hidupnya masih melajang.
Ayam yang dilepas itu, kemudian ditangkap oleh relawan yang menjadi sopir ambulans gratis. Selanjutnya dibawa pulang ke rumah Rahmulyo dan dipelihara.
“Jadi, kami ini kan menyediakan fasilitas mobil jenazah gratis, ada mobil ambulans gratis, klinik gratis juga. Nah, saat ada pemakaman itu, sama keluarga yang dimakamkan bilang ‘ayamnya ditangkap dan dibawa pulang saja, pak’. Dari satu, dua, tiga ekor, lama-lama berkembang sampai seperti sekarang. Sudah sekitar satu setengah tahun,” ujar Rahmulyo.
Kini jumlahnya mencapai sekitar 50 ekor ayam yang besar, sementara puluhan lainnya masih kecil-kecil. Ayam yang besar sengaja diumbar agar tumbuh lebih sehat dan berkembang biak secara alami.
Yang menarik, ayam tersebut bukan untuk dijual. Rahmulyo justru membebaskan warga mengambilnya. Siapa pun yang membutuhkan ayam untuk dimasak atau ingin memeliharanya dipersilakan datang. Namun, ia akan lebih senang bila ayam-ayam itu dikembangbiakkan kembali.
“Kalau ada warga yang ingin makan ayam, silakan ambil. Kalau mau dipelihara juga boleh, sepasang jantan dan betina. Harapan saya nanti dikembangkan lagi lalu dibagikan ke orang lain,” katanya.
Baginya, berbagi tidak perlu dibatasi hanya untuk konstituen atau warga di daerah pemilihannya.Selama memang membutuhkan, siapa pun dipersilakan datang.
Konsep itu bahkan lahir sebelum ia prihatin melihat berbagai kasus yang dipicu persoalan sepele, termasuk kasus pencurian ayam yang berujung aksi main hakim sendiri.
Ia berharap, jika ada orang yang benar-benar membutuhkan, lebih baik meminta daripada mengambil secara diam-diam.
“Kalau butuh ayam, ambil saja. Tidak perlu sampai terjadi hal-hal yang tidak diinginkan,” ujarnya.
Ada filosofi mendalam di balik kandang
Di balik kandang ayam itu, tersimpan filosofi politik yang menurutnya jauh lebih penting daripada sekadar mempertahankan jabatan.
Rahmulyo mengaku sengaja memilih cara-cara sederhana agar selalu dikenang masyarakat.
“Memelihara suara itu bukan hanya supaya mempertahankan jabatan. Saya ingin dikenang. Kalau orang mengingat kebaikan kita, itu lebih berarti,” katanya.
Menurutnya, biaya memelihara ayam setiap hari memang tidak sedikit. Dalam sekali memberi makan saja, dibutuhkan sekitar lima kantong pakan dengan harga sekitar Rp10 ribu per kantong.
Namun seluruh biaya tersebut dikeluarkan dari kantong pribadi, bukan menggunakan anggaran pemerintah.
“Ini uang pribadi. Kalau pakai APBD nanti ribet pertanggungjawabannya. Saya menerima gaji sebagai anggota DPRD karena dipilih masyarakat, jadi saya kembalikan lagi ke masyarakat dalam bentuk seperti ini,” tegasnya.
Tak berhenti di ayam, Rahmulyo bahkan sudah menyiapkan kolam lele di samping rumahnya.
Ia ingin konsep “politik yang bisa dimakan” terus berkembang sebagai bagian dari ketahanan pangan sekaligus kepedulian sosial.
“Kalau ada yang lapar, ingin ayam atau lele, ya bisa dinikmati. Saya ingin masyarakat yang membutuhkan makan tidak terlalu kesulitan,” ujarnya.
Bagi Rahmulyo, politik tak selalu harus hadir lewat pidato, baliho, atau kampanye menjelang pemilu. Sesekali, politik juga bisa hadir dalam bentuk seekor ayam yang dibawa pulang warga untuk memenuhi kebutuhan dapur mereka. (dul)

