BACAAJA, SEMARANG- Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Semarang memastikan kondisi siswa dan guru SMKN 6 Semarang yang mengalami gejala keracunan pangan terus menunjukkan perkembangan positif.
Berdasarkan hasil pemantauan hingga Sabtu (1/8/2026), tidak ditemukan penambahan kasus baru, sementara sebagian besar pasien telah dinyatakan pulih.
Kepala Dinkes Kota Semarang, Mochamad Abdul Hakam mengatakan, seluruh pasien yang sebelumnya menjalani perawatan di Puskesmas Halmahera sudah diperbolehkan pulang.
Baca juga: 707 Siswa dan Guru SMKN 6 Semarang Keracunan MBG, Ini Gejala yang Dirasakan
“Siswa yang sempat dirawat di Puskesmas Halmahera seluruhnya sudah membaik dan dipulangkan. Pasien yang masih berada di RSUD KRMT Wongsonegoro, RS Bhakti Wira Tamtama, serta Puskesmas Bangetayu juga terus mengalami perbaikan kondisi secara signifikan,” ujarnya.
Hakam menjelaskan, hasil surveilans aktif maupun pasif yang dilakukan petugas menunjukkan situasi di lapangan sudah terkendali. Hingga kini, pihak sekolah juga tidak melaporkan adanya siswa maupun guru lain yang mengalami gejala serupa.
Skema JKN
Selain memastikan kondisi kesehatan pasien, Dinkes juga menjamin seluruh proses pelayanan medis berjalan tanpa kendala melalui skema Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) atau BPJS Kesehatan.
“Seluruh proses perawatan medis para siswa dan guru berjalan optimal dengan skema penjaminan JKN. Kami memastikan hak pelayanan kesehatan masyarakat terpenuhi sesuai prosedur yang berlaku,” katanya.
Meski kondisi terus membaik, Dinkes belum menghentikan proses pemantauan. Tim Gerak Cepat (TGC) masih disiagakan untuk memonitor perkembangan kesehatan seluruh pasien hingga benar-benar pulih.
Baca juga: KLB Keracunan MBG: Enam Langkah Pemerintah
Langkah tersebut dilakukan agar setiap perkembangan dapat dipantau secara menyeluruh sebelum penanganan kasus dinyatakan selesai. “Tim TGC tetap siaga di lapangan sampai seluruh kasus terkonfirmasi sehat. Setelah seluruh rangkaian pemantauan selesai dan dinyatakan tuntas, kami segera mengirimkan laporan pembaruan akhir kepada Kementerian Kesehatan melalui sistem SKDR MBG,” pungkas Hakam.
Saat kondisi mulai membaik, kewaspadaan justru tak boleh ikut mengendur. Sebab, kabar terbaik bukan hanya pasien pulang ke rumah, tetapi juga memastikan kejadian serupa tak kembali terulang. (tebe)

