BACAAJA, SEMARANG – Ganjar Pranowo berduka atas meniggalnya maestro seni lukis Indonesia, Nasirun.
Kepergian maestro seni lukis Indonesia Nasirun meninggalkan duka mendalam bagi banyak kalangan. Salah satunya datang dari mantan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, yang mengaku masih sulit percaya mendengar kabar berpulangnya sang seniman.
Melalui akun Instagram pribadinya @ganjar_pranowo, Ganjar mengawali pesannya dengan ucapan belasungkawa dan doa untuk almarhum.
“Innalillahi wainna ilaihi rojiun. Selamat jalan, Mas Nasirun @nasirunstudo. Alfatihah,” tulis Ganjar.
Ganjar mengenang pertemuan terakhirnya dengan Nasirun yang terjadi belum lama ini saat menghadiri pameran Arundhati. Pameran karya Nasirun bersama Duna Dista Aji.
Saat itu, Ganjar bahkan sempat menunggu lama di Pendapa Art Space sambil menikmati secangkir kopi.
Menurut Ganjar, hal itu sudah biasa karena Nasirun dikenal sebagai sosok “orang malam” yang lebih banyak beraktivitas hingga larut.
“Saya paham, Mas Nasirun orang malam. Kalau siang banyak tidurnya. Salah saya juga datang mendadak tanpa kasih kabar,” kenangnya.
Dari pertemuan itu, keduanya bahkan sempat berjanji akan kembali bertemu di rumah Nasirun untuk mengobrol santai sambil menikmati kopi, seperti yang sering mereka lakukan.
Namun, rencana itu tak pernah terwujud.
“Saya kira masih ada banyak waktu. Ternyata Allah berkehendak lain,” tulis Ganjar.
Di akhir unggahannya, Ganjar memberikan kesaksian tentang sosok Nasirun yang dikenalnya selama ini.
“Saya bersaksi, Mas Nasirun orang baik. Semoga Allah SWT mengampuni segala dosanya, memberi jalan terang dan tempat terbaik di sisi-Nya. Husnul khatimah. Amin,” tutupnya.
Ganjar memang dikenal cukup dengan sejumlah circle seniman Yogyakarta. Dalam berbagai kesempatan, Ganjar tampak begitu akrab dengan Nasirun, Butet Kertaradjasa, Agus Noor, Sri Krisna, dan lainnya.
Nasirun meninggal dunia pada Sabtu (1/8/2026) di Yogyakarta. Kepergiannya menjadi kehilangan besar bagi dunia seni rupa Indonesia.
Karya-karyanya yang khas dan penuh makna telah menjadi bagian penting dari perjalanan seni kontemporer Tanah Air.
Alumnus Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta itu dikenal sebagai salah satu pelukis paling berpengaruh di Indonesia. Namanya melejit pada era Reformasi lewat karya-karya yang memadukan simbol budaya Jawa, kritik sosial, hingga ekspresi kontemporer yang khas.
Sebelum dikenal luas, Nasirun telah menggelar pameran tunggal pertamanya pada 1993 di Mirota Kampus Cafe, Yogyakarta. Sejak saat itu, karya-karyanya terus mendapat apresiasi dari kolektor seni di dalam maupun luar negeri.
Kepergian Nasirun menjadi kehilangan besar bagi dunia seni rupa Indonesia. Warisan karya dan gagasannya akan terus dikenang sebagai bagian penting dalam perjalanan seni kontemporer Tanah Air.
Jenazah seniman kelahiran Cilacap, Jawa Tengah, pada 1 Oktober 1965 itu rencananya dimakamkan pada hari yang sama pukul 14.00 WIB di Makam Seniman Girisapto, Imogiri, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa (DI) Yogyakarta. (*)

