BACAAJA, PINRANG – Prestasi membanggakan datang dari Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan. Seorang siswa SMA berhasil mencuri perhatian dunia setelah menerima penghargaan dari Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) berkat kemampuannya menemukan celah keamanan pada salah satu sistem digital milik lembaga tersebut.
Sosok itu adalah Muhammad Syahrir Hamdani, siswa kelas XII SMAN 1 Pinrang. Kemampuannya di bidang keamanan siber membawanya mengikuti Vulnerability Disclosure Program (VDP), program yang memberi kesempatan para periset keamanan untuk melaporkan kerentanan sistem secara resmi.
Dalam program tersebut, Syahrir berhasil menemukan celah keamanan yang dikenal sebagai broken link hijacking. Temuan itu kemudian dilaporkan kepada tim keamanan NASA hingga akhirnya mendapat pengakuan berupa sertifikat penghargaan internasional.
Menurut Syahrir, jenis kerentanan tersebut muncul ketika sebuah tautan atau domain lama masih terpasang di situs resmi meski sebenarnya sudah tidak lagi digunakan. Kondisi itu bisa dimanfaatkan pihak lain untuk mengambil alih alamat tersebut.
Jika berhasil dikuasai, pengunjung yang mengakses tautan lama dapat diarahkan ke halaman yang dikendalikan oleh pihak yang mengambil alih domain. Risiko seperti inilah yang kemudian dilaporkan Syahrir kepada NASA.
Ia mengungkapkan, celah yang ditemukan berkaitan dengan akun YouTube milik NASA yang menggunakan handler lama. Menurutnya, kondisi tersebut berpotensi dimanfaatkan untuk mengambil alih akses tertentu jika tidak segera diperbaiki.
Perjalanan menemukan celah itu bukan perkara mudah. Syahrir membuat skrip atau program buatannya sendiri yang dijalankan sepanjang malam untuk melakukan proses pencarian kerentanan pada sistem.
Setelah memperoleh bukti awal, ia menyusun proof of concept sebagai bahan laporan kepada tim keamanan NASA. Dokumen itu menjadi penjelasan teknis mengenai bagaimana sebuah celah bisa dimanfaatkan.
Meski begitu, laporannya tidak langsung diterima. Beberapa kali hasil temuannya sempat ditolak karena dianggap belum menunjukkan dampak yang cukup signifikan terhadap sistem.
Syahrir tidak menyerah. Ia terus menyempurnakan laporannya hingga akhirnya salah satu temuan yang diajukan beberapa bulan sebelumnya resmi diakui oleh NASA.
Dalam proses pengujian sistem, ia juga menghadapi tantangan dari proteksi Cloudflare yang dirancang untuk memblokir aktivitas mencurigakan. Hambatan tersebut justru menjadi bagian dari pengalaman yang memperkaya kemampuan teknisnya.
Menurut Syahrir, pemahaman mengenai cara kerja sebuah website menjadi bekal paling penting sebelum melakukan pengujian keamanan. Dari situ, ia belajar mengenali struktur hingga potensi celah yang mungkin muncul.
Kemampuan di bidang keamanan siber ternyata sudah lama ia tekuni. Sebelum meraih pengakuan dari NASA, Syahrir telah mengoleksi lebih dari 45 sertifikat keamanan siber tingkat nasional dari berbagai kementerian di Indonesia.
Prestasinya juga membawanya masuk jajaran 10 besar hacker nasional dalam salah satu spesialisasi yang diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Digital. Selain itu, ia kini telah mengantongi enam sertifikat internasional.
Tak hanya sistem milik NASA, Syahrir juga pernah menguji keamanan digital sejumlah perguruan tinggi di Belanda, Amerika Serikat, hingga Jerman. Pengalaman tersebut menjadi modal berharga untuk terus mengembangkan kemampuannya.
Prestasi pelajar asal Pinrang itu mendapat perhatian dari Pemerintah Kabupaten Pinrang. Bupati Irwan Hamid memberikan penghargaan berupa uang pembinaan senilai Rp5 juta saat peringatan Hari Pendidikan Nasional pada 4 Mei 2026.
Apresiasi tersebut menjadi bentuk dukungan atas capaian yang berhasil diraih di tingkat internasional. Pemerintah daerah berharap prestasi Syahrir dapat memotivasi generasi muda lain untuk berani berkarya di bidang teknologi.
Meski telah mengoleksi banyak penghargaan, Syahrir mengaku masih memiliki mimpi yang lebih besar. Ia berharap pengalaman dan sertifikat yang dimilikinya bisa membuka peluang melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi di luar negeri.
Dengan usia yang masih muda, perjalanan Syahrir di dunia keamanan siber diperkirakan masih panjang. Kisahnya menjadi bukti bahwa kemampuan belajar secara mandiri juga mampu mengantar pelajar Indonesia bersaing dan diakui di level dunia. (*)

