BACAAJA, KENDAL – Di Mojoagung, emping melinjo bukan sekadar cemilan renyah. Ia adalah nafas dan urat nadi kehidupan warga. Namun sayang, perajin emping melinjo belum mereguk keuntungan yang sepadan.
Pagi baru saja dimulai di Dusun Majasem, Desa Mojoagung, Kecamatan Plantungan, Kabupaten Kendal. Dari balik rumah-rumah sederhana, suara pukulan kayu mulai terdengar bersahutan. Satu per satu biji melinjo dipipihkan menjadi emping, pekerjaan yang sudah dilakukan warga selama puluhan tahun.
Bagi masyarakat Mojoagung, emping melinjo bukan sekadar camilan. Makanan tradisional ini menjadi sumber penghasilan yang menghidupi puluhan keluarga dari generasi ke generasi.
Bacaaja: Investasi Rp15 Triliun Mendarat di Kendal
Bacaaja: Mahasiswa dan LBH Turun ke Dayunan Kendal, Solidaritas Petani Terdampak Konflik Agraria
Di tengah hamparan sawah, kebun kopi arabika, dan tanaman durian yang mulai berkembang, usaha rumahan membuat emping tetap bertahan sebagai denyut ekonomi desa.
Saat menjalankan program pengabdian di desa tersebut, Tim Mahasiswa Mengabdi Desa (Mahesa) Universitas PGRI Semarang (UPGRIS) menemukan lebih dari 50 rumah tangga masih aktif memproduksi emping melinjo setiap hari. Jumlah produksinya pun tidak sedikit.
Namun, di balik aktivitas yang nyaris tak pernah berhenti itu, para perajin masih menghadapi persoalan lama. Sebagian besar hasil produksi dijual kepada pengepul sehingga keuntungan yang diperoleh belum maksimal.
“Selama ini hasil emping maupun hasil pertanian sebagian besar masih dijual ke pengepul. Kami berharap ada pendampingan agar produk-produk masyarakat bisa dipasarkan lebih luas dan memiliki nilai jual yang lebih baik,” ujar Kepala Dusun Majasem, Murdi, Selasa (30/6/2026).
Kondisi itulah yang kemudian menjadi fokus pendampingan Tim Mahesa UPGRIS. Mereka melihat kualitas emping Mojoagung sebenarnya mampu bersaing, hanya saja masih membutuhkan sentuhan pada sisi pemasaran.
Mahasiswa pun mulai mendampingi pelaku UMKM, mulai dari membuat identitas merek, memperbaiki kemasan produk, hingga mengenalkan pemasaran digital melalui media sosial dan marketplace.
Koordinator Desa Mamesa Mojoagung UPGRIS 2026, Imam Suyuti, mengatakan potensi ekonomi desa sebenarnya sudah sangat besar. Yang dibutuhkan saat ini adalah membuka akses pasar agar produk lokal tidak berhenti di tangan pengepul.
“Emping melinjo di sini punya kualitas yang baik. Harapannya, ke depan produk warga tidak hanya dikenal di sekitar Kendal, tetapi juga bisa menjangkau pasar yang lebih luas sehingga nilai jualnya ikut meningkat,” katanya.
Mojoagung sendiri bukan hanya kaya hasil bumi. Desa ini juga masih menjaga semangat gotong royong yang menjadi kekuatan masyarakat. Tradisi Nyadran, pengajian, kerja bakti, posyandu, hingga kegiatan karang taruna masih berjalan dan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Bagi Tim Mahesa, potensi ekonomi dan kekuatan sosial itulah yang menjadi modal utama desa untuk terus berkembang. Harapannya, emping melinjo yang selama ini menjadi tumpuan hidup puluhan keluarga tak lagi hanya dikenal sebagai produk rumahan, tetapi mampu menembus pasar yang lebih luas dan memberi nilai tambah bagi para perajinnya. (dul)

