BACAAJA, PURWOREJO – Wakil Ketua DPRD Jawa Tengah, Mohammad Saleh, mendampingi Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) RI, Bahlil Lahadalia, meresmikan Program Listrik Desa (Lisdes) dan Bantuan Pasang Baru Listrik (BPBL) di Desa Hardimulyo, Kabupaten Purworejo, Jumat (19/6/2026).
Peresmian tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah memperluas akses listrik hingga ke wilayah-wilayah yang selama ini belum terjangkau layanan energi secara optimal.
Mohammad Saleh menyambut baik program tersebut dan menegaskan pentingnya pemerataan akses listrik bagi seluruh masyarakat, termasuk warga yang tinggal di pelosok desa.
Bacaaja: Dampingi Menteri Wihaji di Purworejo, Saleh Dorong MBG Sasar Ibu Hamil dan Balita
Bacaaja: Cegah Inflasi Imbas Kenaikan BBM, Saleh Minta Pemda Gercep Lakukan Intervensi
Menurut Ketua DPD Partai Golkar Jawa Tengah itu, listrik bukan lagi sekadar kebutuhan tambahan, melainkan hak dasar yang harus bisa dinikmati seluruh warga negara.
“Kami sangat bersyukur masyarakat bisa menikmati listrik gratis dan bisa beraktivitas di malam hari tanpa harus nyalur listrik dari tetangga atau menggunakan senter lagi,” ujar Saleh.
Ia menegaskan DPRD Jawa Tengah siap mendukung berbagai program pemerintah yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat, termasuk percepatan elektrifikasi desa.

Sementara itu, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengungkapkan masih ada sekitar 5.700 desa dan 4.400 dusun di Indonesia yang belum menikmati layanan listrik secara memadai, meski Indonesia telah memasuki usia 80 tahun kemerdekaan.
Karena itu, pemerintah terus mempercepat Program Lisdes agar akses listrik bisa dirasakan lebih merata di seluruh wilayah Indonesia.
“Ide program pemerataan ini muncul ketika saya berdiskusi dengan Bapak Presiden. Saya sampaikan bahwa masih ada ribuan desa dan dusun yang belum ada listrik. Negara harus hadir untuk melayani seluruh rakyat,” kata Bahlil.
Bahlil mengaku memiliki kedekatan emosional dengan program elektrifikasi karena pernah merasakan hidup tanpa listrik saat kecil di Papua. Ia bahkan baru menikmati aliran listrik ketika duduk di bangku kelas enam sekolah dasar.
“Saya juga lahir tidak ada listrik. Belajarnya pakai lampu pelita. Karena itu saya tahu betul bagaimana rasanya hidup tanpa listrik,” ujarnya.
Menurut Bahlil, persoalan keterbatasan akses listrik bukan hanya terjadi di kawasan Indonesia Timur. Sejumlah wilayah di Pulau Jawa pun masih ditemukan dusun yang belum mendapatkan layanan listrik secara maksimal.
“Kita sering berpikir persoalan ini hanya terjadi di Papua atau wilayah timur. Faktanya, di Jawa pun masih ada dusun-dusun yang belum mendapatkan layanan listrik secara penuh,” ungkapnya.
Melalui program Lisdes dan BPBL, pemerintah berharap semakin banyak masyarakat yang dapat menikmati akses listrik yang layak sehingga mampu mendorong peningkatan kualitas hidup dan aktivitas ekonomi warga. (*)

