BACAAJA, SEMARANG – Siapa sangka, media sosial dan game online yang tiap hari jadi tempat nongkrong digital anak muda ternyata juga bisa dimanfaatkan buat nyebarin paham radikal. Karena itu, generasi Gen Z diminta lebih waspada dan nggak gampang percaya dengan orang atau informasi yang ditemui di dunia maya.
Isu ini jadi salah satu pembahasan utama dalam kegiatan bacaaja.co Goes to School bertajuk “Cegah IRET Kalangan Gen-Z di Ruang Digital” yang digelar di Soegijapranata Catholic University (SCU) Semarang, Kamis (18/6/2026).
Dalam kegiatan tersebut, para pelajar diajak memahami kalau penyebaran paham intoleransi, radikalisme, ekstremisme, dan terorisme (IRET) sekarang nggak lagi dilakukan secara terang-terangan. Modusnya makin berkembang dan ikut menyesuaikan kebiasaan anak muda yang aktif di ruang digital.
Bacaaja: Bacaaja.co Goes to School, Ajak Pelajar Semarang Melek Bahaya IRET di Dunia Digital
Bacaaja: Pengakuan Siswa SMAN 6 Semarang: Auto Melek Isu Radikalisme Usai Meet & Greet Densus
Chief Operating Officer (COO) bacaaja.co, Puji Utami, ngungkapin kalau media sosial dan game online saat ini jadi dua platform yang cukup rentan dimanfaatkan pihak tertentu untuk menyasar generasi muda.
“Fokus utama yang kami angkat adalah bagaimana media sosial dan game online bisa menjadi ruang yang dimanfaatkan untuk menyebarkan paham-paham ekstrem. Dari berbagai laporan yang ada, korbannya bukan cuma satu dua orang, tapi sudah cukup banyak dan bahkan menyasar anak usia sekolah,” ujar Puji.
Menurutnya, pelajar SMP hingga SMA kini menjadi target yang cukup rentan karena sebagian besar aktivitas mereka nggak jauh dari internet, media sosial, dan berbagai platform digital lainnya.
Karena itu, bacaaja.co terus menggelar program edukasi ke sekolah-sekolah agar anak muda punya bekal yang cukup untuk mengenali berbagai bentuk propaganda maupun ajakan yang mencurigakan di internet.
“Kami ingin anak-anak muda punya pemahaman yang cukup sehingga nggak gampang percaya dengan informasi yang beredar di internet dan nggak mudah terpengaruh ajakan-ajakan yang mengarah pada paham ekstrem,” katanya.
Sementara itu, Katim Semarang Raya Satgas Wilayah Jawa Tengah Densus 88 Antiteror, Iptu Yusuf, mengungkapkan kalau pola penyebaran paham radikal saat ini memang sudah berubah mengikuti perkembangan teknologi.
Menurutnya, salah satu modus yang ditemukan adalah memanfaatkan game online sebagai pintu masuk membangun komunikasi dengan calon target.
“Awalnya dari interaksi biasa saat bermain game. Setelah akrab, komunikasi diarahkan ke ruang chat yang lebih tertutup. Dari situ mulai dilakukan pendekatan secara bertahap,” jelas Yusuf.
Ia menyebut pola seperti itu pernah ditemukan di Jawa Tengah. Bahkan sepanjang 2025 ada sekitar 22 anak yang teridentifikasi membutuhkan pendampingan terkait paparan paham ekstrem.
Meski begitu, Yusuf menegaskan penanganan yang dilakukan lebih mengedepankan pendekatan psikologis dan sosial dengan melibatkan keluarga serta berbagai pihak terkait.
Senada dengan itu, akademisi SCU, Dr. dr. Gregorius Yoga Panji Asmara, S.H., M.H., C.L.A., C.C.D., C.M.C., menilai kemampuan berpikir kritis menjadi bekal paling penting bagi generasi muda di era digital.
Menurutnya, nggak semua informasi yang muncul di internet bisa langsung dipercaya. Karena itu, anak muda perlu membiasakan diri untuk mengecek ulang informasi dan memahami konteks sebelum ikut menyebarkan atau mempercayainya.
“Ketika anak-anak memiliki karakter yang kuat dan kemampuan berpikir kritis, mereka nggak akan mudah kebawa arus informasi ataupun pengaruh yang mengarah pada paham ekstrem,” ujarnya.
Lewat kegiatan ini, para pelajar diharapkan nggak cuma jadi pengguna media sosial yang aktif, tapi juga lebih cerdas, kritis, dan peka terhadap berbagai ancaman yang bisa muncul di ruang digital. Sebab di era sekarang, ancaman nggak selalu datang di dunia nyata, tapi juga bisa nyusup lewat layar ponsel yang setiap hari ada di genggaman. (dul)

