BACAAJA, SEMARANG- Ayu Prameswari pernah membayangkan masa sekolahnya berhenti setelah lulus SMP. Bukan karena malas belajar atau kehilangan semangat, melainkan karena kondisi ekonomi keluarga yang membuat biaya pendidikan terasa begitu sulit dijangkau.
Siswi SMA Mardisiswa Banyumanik, Kota Semarang itu berasal dari keluarga sederhana. Ayahnya bekerja serabutan dengan penghasilan yang tidak menentu. Di tengah kebutuhan hidup yang terus berjalan, biaya masuk SMA menjadi kekhawatiran besar bagi keluarganya.
“Ekonomi seperti ini, bisa jadi putus sekolah karena tidak bisa membayar biaya sekolah langsung yang jumlahnya besar,” ujar Ayu. Namun kekhawatiran itu perlahan sirna setelah dirinya diterima melalui Program Sekolah Kemitraan Pemprov Jateng.
Melalui program tersebut, Ayu bisa melanjutkan pendidikan di sekolah swasta tanpa harus memikirkan biaya SPP, uang gedung, hingga sejumlah kebutuhan pendidikan lainnya.
Baca juga: Jalin Kemitraan dengan Sekolah Swasta, Pemprov Buka SPMB Tahap II
Menurut Ayu, orang tuanya merasa sangat lega karena tidak lagi dibayangi beban biaya sekolah yang selama ini menjadi hambatan utama. “Orang tua sangat senang karena biaya sekolah kan besar. Saya juga sangat terbantu,” katanya.
Cerita yang hampir sama dialami Keyla Sabrina. Siswi SMA Mardisiswa itu mengaku sempat khawatir tidak bisa melanjutkan pendidikan karena kondisi ekonomi keluarganya.
Baginya, sekolah gratis bukan sekadar bantuan finansial. Program tersebut menjadi kesempatan agar cita-citanya tidak berhenti di bangku SMP. “Kalau tidak ada Sekolah Kemitraan, mungkin putus sekolah dulu,” ujarnya.
Kini Keyla bisa belajar dengan lebih tenang. Orang tuanya tidak lagi terbebani biaya pendidikan, sementara impiannya untuk melanjutkan hingga perguruan tinggi tetap terbuka. “Senang banget karena bisa melanjutkan masa depan yang lebih baik,” katanya.
Komponen Pendidikan
Kepala SMA Mardisiswa Banyumanik, Marwulandari Sayekti mengatakan, bantuan dari pemerintah memungkinkan sekolah menggratiskan berbagai komponen pendidikan bagi siswa penerima program.
Mulai dari SPP, uang gedung, hingga kebutuhan buku dan perlengkapan penunjang pembelajaran dapat difasilitasi melalui program tersebut. “SPP gratis, uang gedung gratis, buku juga bisa kami bantu dari dana program. Ini benar-benar membantu anak-anak yang sebelumnya kesulitan mengakses pendidikan,” jelasnya.
Manfaat program yang sama juga dirasakan siswa di SMA Laboratorium Universitas PGRI Semarang (UPGRIS). Vanesha Angelina, putri seorang buruh, mengaku keluarganya sangat terbantu dengan adanya Sekolah Kemitraan.
Menurutnya, tanpa bantuan tersebut, orang tuanya harus bekerja lebih keras untuk memenuhi kebutuhan pendidikan di tengah berbagai kebutuhan rumah tangga lainnya. “Kalau tidak ada program ini, orang tua pasti lebih terbebani karena kebutuhan lain juga banyak,” ujarnya.
Baca juga: 850 Anak dari Keluarga Miskin di Jateng Mulai Tempuh Pendidikan Berasrama
Sementara itu, Maulida Dewi Novi Yanti mengaku bersyukur bisa menjadi bagian dari program tersebut. Ia kini dapat bersekolah secara gratis dan fokus belajar tanpa dibayangi persoalan biaya. “Sekolah Kemitraan itu gratis. Saya terbantu sekali. Terima kasih Pak Gubernur, akhirnya saya bisa sekolah gratis di sini,” katanya.
Kepala SMA Laboratorium UPGRIS, Nor Khoiriyah menyebut, ada beberapa siswa yang sebelumnya berada dalam kondisi rawan putus sekolah sebelum akhirnya mendapatkan kesempatan melalui program tersebut. “Dengan adanya program ini, anak-anak yang tadinya hampir putus sekolah, akhirnya bisa tetap belajar sampai sekarang,” ungkapnya.
Gubernur Jateng, Ahmad Luthfi menegaskan, Program Sekolah Kemitraan menjadi salah satu upaya pemerintah untuk membuka akses pendidikan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu. “Minimal tiap tahun 5.000 anak miskin ekstrem harus dientaskan,” kata Luthfi.
Sebagai informasi, pada 2026 terdapat 139 SMA dan SMK swasta yang bergabung dalam Program Sekolah Kemitraan Pemprov Jateng. Total kuota yang disediakan mencapai 5.004 siswa dari keluarga kurang mampu agar tetap bisa mengenyam pendidikan tanpa terkendala biaya.
Di saat biaya pendidikan sering naik lebih cepat daripada penghasilan keluarga, ada anak-anak yang sebenarnya tidak kekurangan mimpi, hanya kekurangan kesempatan. Sebab sering kali yang membuat siswa berhenti sekolah bukan nilai rapor yang buruk, melainkan isi dompet yang lebih dulu menyerah. (tebe)

