BACAAJA, JAKARTA – Pasar saham Indonesia lagi nggak baik-baik aja. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ambruk 4,11 persen pada perdagangan Rabu (3/6/2026) dan ditutup di level 5.941,066.
Bahkan sepanjang perdagangan, IHSG sempat nyungsep sampai ke level 5.841 atau minus lebih dari 5 persen. Kondisi ini bikin banyak investor panik karena tekanan di pasar makin terasa.
Pengamat pasar modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana, bilang anjloknya IHSG kali ini bukan cuma gara-gara faktor global seperti memanasnya konflik Amerika Serikat dan Iran yang bikin harga minyak dunia naik.
Bacaaja: IHSG Ambruk saat Prabowo Pidato di Paripurna DPR
Bacaaja: Dolar Melesat Rupiah Ambruk, Pelanggan Warteg Mulai Tinggalkan Lauk Ayam
Menurutnya, masalah di dalam negeri juga ikut bikin pasar makin tertekan. Bahkan, faktor internal lebih dominan menekan IHSG.
“Penurunan ini bukan semata-mata dipicu faktor eksternal, tapi juga diperberat berbagai sentimen domestik yang sampai sekarang belum menemukan titik terang,” ujar Hendra.
Salah satu yang jadi sorotan adalah nilai tukar rupiah yang terus melemah dan mendekati Rp18.000 per dollar AS. Belum lagi arus dana asing yang terus keluar dari pasar saham Indonesia.
Data perdagangan menunjukkan investor asing kembali melakukan aksi jual bersih alias net sell sekitar Rp864 miliar dalam sehari. Kalau dihitung sejak awal tahun, total dana asing yang keluar dari pasar saham Indonesia sudah tembus Rp67 triliun.
Arah ekonomi Indonesia dipertanyakan
Gokilnya lagi, di saat bursa saham negara Asia lain banyak yang menguat, IHSG justru jadi salah satu yang paling jeblok sepanjang 2026. Terburuk di dunia.
Menurut Hendra, kondisi ini bikin pasar mulai kehilangan kepercayaan terhadap arah ekonomi domestik.
“Pasar itu bergerak bukan cuma karena pidato optimistis, tapi karena persepsi terhadap risiko dan prospek ke depan,” katanya.
Ia menjelaskan, ketika pemerintah bilang fundamental ekonomi masih kuat tapi rupiah terus melemah dan investor asing terus jualan saham, akhirnya muncul jarak antara narasi dan kenyataan yang dirasakan pasar.
Meski situasinya lagi panas, Hendra meminta investor nggak buru-buru panik. Menurutnya, banyak saham unggulan di Bursa Efek Indonesia (BEI) sekarang justru sudah turun cukup dalam dan mulai menarik untuk investasi jangka panjang.
Tapi tetap ada catatan penting. Karena sentimen pasar masih negatif, peluang koreksi lanjutan masih terbuka. IHSG bahkan diprediksi masih bisa turun menguji level 5.800 sampai 6.000 sebelum benar-benar stabil.
Buat investor jangka panjang, strategi hold atau beli bertahap masih bisa dipertimbangkan, terutama untuk saham dengan fundamental bagus. Sedangkan buat trader harian, Hendra mengingatkan pentingnya disiplin mengatur risiko karena kondisi pasar lagi super volatil.
“Investor harus lebih selektif, fokus ke fundamental perusahaan, menjaga likuiditas, dan jangan mengambil keputusan karena panik sesaat,” tegasnya.
Sekarang pasar tinggal menunggu satu hal penting: kapan kepercayaan investor bisa pulih lagi. Karena kalau sentimen membaik dan dana asing mulai balik masuk, peluang IHSG buat rebound juga bakal terbuka lebar. (*)

