NAMA DADAN HINDAYANA belakangan ramai menjadi bahan perbincangan publik. Sorotan yang mengarah kepadanya kini bukan perkara kecil, apalagi setelah muncul kasus yang membuat perhatian masyarakat tertuju pada sosok yang saat ini menjadi eks Kepala Badan Gizi Nasional tersebut. Namun jauh sebelum namanya menjadi sorotan, ada cerita unik yang jarang diketahui banyak orang tentang bagaimana kedekatannya dengan Presiden Prabowo Subianto sebenarnya bermula.
Kisah itu bahkan tidak berawal dari ruang rapat, urusan politik, ataupun pembahasan program negara. Sebaliknya, cerita tersebut justru berakar dari sebuah pohon cemara udang yang tumbuh di kawasan Hambalang, Bogor, Jawa Barat.
Saat itu Prabowo masih menjabat Menteri Pertahanan. Di kediamannya di Hambalang terdapat pohon cemara udang yang memiliki nilai khusus bagi dirinya. Tanaman dengan nama latin Casuarina equisetifolia itu ditanam tepat di depan kamar dan menjadi salah satu tanaman yang mendapat perhatian khusus.
Masalah muncul ketika pohon tersebut terserang cendawan. Daun-daunnya mulai layu dan kondisi tanaman semakin memburuk. Situasi itu membuat Prabowo mencari seseorang yang benar-benar memahami penyakit tanaman dan mampu menyelamatkan pohon kesayangannya.
Di sinilah nama Dadan Hindayana mulai masuk dalam cerita. Sosok akademisi lulusan IPB University itu saat itu dikenal sebagai ahli di bidang perlindungan tanaman. Namun hubungan Dadan dengan Prabowo belum terjalin secara langsung.
Jembatan yang mempertemukan keduanya adalah Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional, Rachmat Pambudy. Rachmat yang merupakan kolega Dadan sejak lama sudah lebih dulu memiliki hubungan baik dengan Prabowo melalui aktivitas mereka di organisasi pertanian.
Ketika Prabowo bertanya siapa pakar yang bisa membantu mengatasi masalah pada pohon cemara udangnya, Rachmat mengajukan beberapa nama. Dari sejumlah kandidat yang disebutkan, nama Dadan menjadi salah satu yang masuk dalam daftar rekomendasi.
Pilihan akhirnya jatuh kepada Dadan. Bukan hanya karena keahliannya dalam bidang penyakit tanaman, tetapi juga karena wajahnya dianggap cukup familiar oleh Prabowo. Saat itu Dadan memang beberapa kali terlihat di lingkungan Kementerian Pertahanan.
Dadan sendiri pernah berkelakar bahwa salah satu alasan dirinya mudah diingat adalah karena penampilannya yang khas. Dengan kepala plontos yang mencolok, ia merasa lebih gampang dikenali dibanding orang lain yang sering lalu-lalang di lingkungan kementerian.
Pertemuan yang awalnya hanya membahas pohon yang sakit itu ternyata berkembang jauh lebih besar dari yang dibayangkan. Setelah urusan cemara udang selesai, komunikasi antara Dadan dan Prabowo tidak berhenti begitu saja.
Prabowo mulai sering mengajak Dadan berdiskusi mengenai berbagai persoalan, terutama yang berkaitan dengan ketahanan pangan, pertanian, hingga isu-isu yang menyentuh kebutuhan dasar masyarakat. Dari situlah hubungan profesional mereka semakin erat.
Perlahan, Dadan tidak lagi sekadar dikenal sebagai akademisi atau pakar tanaman. Ia mulai masuk dalam lingkaran orang-orang yang kerap memberikan masukan kepada Prabowo dalam berbagai kesempatan.
Meski demikian, perjalanan karier Dadan menuju pemerintahan ternyata tidak sesuai dengan bayangannya sendiri. Dalam sejumlah kesempatan, ia pernah mengungkapkan bahwa dirinya sempat membayangkan posisi yang lebih sederhana jika suatu saat dipercaya masuk ke pemerintahan.
Dadan bahkan pernah beranggapan jabatan komisaris di perusahaan milik negara akan menjadi posisi yang cukup nyaman baginya. Menurutnya, peran tersebut masih memungkinkan dirinya tetap dekat dengan dunia akademik yang telah lama digelutinya.
Namun rencana yang tersusun di kepalanya ternyata berbeda dengan keputusan Prabowo. Ketika kabinet baru dibentuk, nama Dadan justru muncul untuk mengisi jabatan yang jauh lebih strategis dan penuh tantangan.
Prabowo menunjuknya sebagai Kepala Badan Gizi Nasional, lembaga yang menjadi ujung tombak salah satu program prioritas pemerintah. Penunjukan itu membuat Dadan berada di pusat perhatian karena bertanggung jawab terhadap pelaksanaan program makan bergizi yang menyasar jutaan masyarakat.
Sejak saat itu, namanya semakin sering muncul dalam berbagai pemberitaan. Setiap perkembangan program gizi nasional hampir selalu berkaitan dengan lembaga yang dipimpinnya.
Posisi tersebut juga membuat Dadan menjadi salah satu figur yang cukup dekat dengan agenda-agenda utama pemerintahan Prabowo. Tidak mengherankan jika keduanya kerap terlihat berada dalam forum yang sama untuk membahas berbagai kebijakan strategis.
Kini, ketika namanya kembali menjadi sorotan karena persoalan yang tengah berkembang, publik mulai menengok kembali perjalanan panjang yang membawanya ke lingkaran terdekat Presiden. Banyak yang baru mengetahui bahwa awal mula hubungan tersebut ternyata berangkat dari sesuatu yang sangat sederhana.
Bukan dari kampanye politik, bukan pula dari pertemuan elite yang penuh protokol. Kedekatan itu justru berawal dari upaya menyelamatkan sebuah pohon cemara udang yang terserang penyakit di Hambalang.
Cerita tersebut menjadi pengingat bahwa dalam dunia politik dan pemerintahan, hubungan penting kadang lahir dari peristiwa yang sama sekali tidak terduga. Dari pohon yang layu di halaman rumah, jalan Dadan Hindayana menuju lingkaran dalam Prabowo perlahan terbuka hingga akhirnya membawanya ke salah satu jabatan paling strategis di kabinet. (*)

