BACAAJA, SEMARANG– Hoaks mungkin tidak pernah benar-benar habis. Tapi setidaknya, Jateng kini punya cara untuk membuat informasi palsu lebih cepat ketahuan.
Dinas Komunikasi dan Informatika Digital (Diskomdigi) Jateng terus memperkuat penanganan informasi palsu melalui inovasi bernama Pantauan Data Hoaks Jawa Tengah atau Padhang. Sesuai namanya, platform ini dirancang untuk menghadirkan informasi yang lebih terang dan jernih di tengah derasnya arus konten digital.
Kepala Diskomdigi Jateng, Lilik Henry Ristanto mengatakan, Padhang menjadi bagian dari upaya Pemprov dalam membangun ekosistem pemerintahan digital yang sehat sekaligus meningkatkan literasi masyarakat.
Menurutnya, penyebaran informasi palsu tidak bisa dianggap sepele. Dampaknya bisa memicu keresahan, penipuan, konflik sosial, hingga menurunkan kepercayaan publik terhadap informasi resmi. “Padhang” sendiri dapat diakses melalui situs resmi Pemprov Jateng maupun aplikasi Jateng Ngopeni Nglakoni (JNN).
Baca juga: Polri Buru Penyebar Hoaks Intimidasi Saksi Kasus Aipda Robig, Jerat dengan UU ITE
Di balik layar, sistem ini bekerja melalui proses pengumpulan data, analisis, hingga verifikasi informasi yang melibatkan banyak pihak. Mulai dari 50 Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Pemprov Jateng, 35 Dinas Kominfo kabupaten/kota, komunitas antihoaks, akademisi, hingga pemantauan pemberitaan media massa.
Artinya, Padhang bukan sekadar tempat mengunggah klarifikasi. Platform ini dibangun sebagai ruang kolaborasi untuk melawan informasi palsu secara bersama-sama.“
“Sesuai namanya, Padhang (terang), kami ingin menghadirkan kanal informasi yang mencerahkan masyarakat. Melalui Padhang ini, akan dapat menyajikan berbagai informasi yang jernih dan terang benderang kepada masyarakat, setelah melalui berbagai tahapan verifikasi,” ujarnya, Senin (1/6/2026).
Meski proses verifikasinya melibatkan banyak pihak, Diskomdigi memastikan hal itu tidak menghambat kecepatan respons ketika muncul informasi yang perlu segera diklarifikasi.
Data yang dimiliki Padhang menunjukkan bahwa produksi hoaks masih cukup tinggi. Pada tahun 2023 tercatat sebanyak 161 isu hoaks, kemudian 51 isu pada 2024, dan kembali meningkat menjadi 82 isu sepanjang 2025.
Modus Penipuan
Menariknya, sebagian besar kasus yang ditemukan bukan berasal dari isu politik besar atau teori konspirasi rumit, melainkan modus penipuan menggunakan nomor palsu yang mengatasnamakan pejabat.
Sementara itu, selama Mei 2026, kanal Padhang tercatat telah dikunjungi lebih dari 4.200 kali oleh masyarakat yang ingin memastikan kebenaran suatu informasi.
Menurut Lilik, kehadiran Padhang menjadi penting karena masyarakat saat ini menerima informasi dalam jumlah sangat besar setiap hari. Kemampuan memverifikasi informasi menjadi keterampilan yang sama pentingnya dengan kemampuan membaca.
“Saat masyarakat dapat memverifikasi berita atau konten menjadi sebuah informasi yang objektif, masyarakat dapat menyimpulkan apakah konten yang diterima ini benar atau tidak, kontekstual atau tidak. Maka, sistem Padhang ini juga dapat menghindarkan masyarakat dari penipuan, hasutan, atau bahkan dalam kondisi tertentu verifikasi hoaks ini juga bisa menghindarkan suatu komunitas dari kerusuhan,” jelasnya.
Baca juga: 18,3 Persen Anak di Jateng Alami Pelecehan di Internet
Ke depan, Diskomdigi Jateng berencana terus mengembangkan Padhang melalui penguatan kolaborasi, peningkatan publikasi, serta pemanfaatan teknologi digital yang lebih luas. Bahkan, inovasi ini juga dibuka untuk direplikasi oleh pemerintah daerah lain yang ingin membangun sistem pemetaan dan verifikasi hoaks serupa.
Sebagai inovasi pertama di Jawa Tengah yang secara khusus memetakan dan mengelola informasi palsu, Padhang diharapkan menjadi rujukan masyarakat saat menemukan informasi yang meragukan di ruang digital.
Karena di zaman ketika semua orang bisa menjadi penyebar informasi, kemampuan untuk memeriksa kebenaran informasi menjadi kebutuhan yang tidak kalah penting.
Dulu orang takut rumahnya gelap karena tidak ada lampu. Sekarang banyak orang justru tersesat di tempat yang terlalu terang karena kebanyakan informasi. Masalahnya, tidak semua yang viral itu benar, dan tidak semua yang sering dibagikan itu fakta.
Di tengah banjir konten seperti sekarang, mungkin yang paling dibutuhkan bukan sinyal yang lebih kuat, melainkan kebiasaan untuk berhenti sejenak sebelum menekan tombol “teruskan”. (tebe)

