BACAAJA, SEMARANG – Menjelang Iduladha, obrolan soal kurban selalu muncul lagi di tengah masyarakat. Salah satu yang paling sering diperdebatkan adalah anggapan bahwa ibadah kurban cukup dilakukan sekali seumur hidup. Setelah itu, giliran anggota keluarga lain yang berkurban pada tahun berikutnya. Pemahaman seperti ini ternyata masih cukup banyak dipercaya di berbagai daerah.
Pandangan tersebut belakangan kembali disorot oleh Budi Jaya Putra saat memberikan ceramah di Masjid KH Sudja. Dalam pengajiannya, ia menegaskan bahwa kurban bukan ibadah yang selesai hanya dengan sekali pelaksanaan lalu dianggap tuntas seumur hidup.
Menurut Budi, kurban justru dianjurkan terus dilakukan setiap tahun selama seseorang masih memiliki kemampuan finansial. Ia menilai pemahaman “cukup sekali” malah membuat semangat berkurban di sebagian wilayah menjadi menurun drastis.
Ia menggambarkan ada daerah yang jumlah hewan kurbannya sangat sedikit karena banyak orang merasa sudah pernah berkurban di masa lalu. Akibatnya, mereka memilih tidak melakukannya lagi meski sebenarnya masih mampu secara ekonomi.
Di sisi lain, warga yang belum mampu tentu memang belum bisa berkurban. Situasi itu akhirnya membuat pelaksanaan kurban di beberapa tempat semakin sepi dari tahun ke tahun. Padahal Iduladha seharusnya menjadi momentum besar berbagi kepada masyarakat luas.
Budi menjelaskan bahwa dalam Al-Qur’an maupun hadis tidak ada ketentuan yang membatasi ibadah kurban hanya sekali seumur hidup. Ia mengutip ayat dalam Surah Al-Kautsar yang memerintahkan umat Islam untuk sholat dan berkurban tanpa menyebut batas waktu tertentu.
Menurutnya, perintah tersebut dipahami berlaku terus menerus selama seseorang masih diberi kemampuan. Karena itu, kurban dipandang sebagai ibadah tahunan yang terus dihidupkan setiap Iduladha.
Ia juga menyinggung Surah Al-Hajj yang menyebut hewan kurban sebagai bagian dari syiar Allah. Kata “syiar” menurutnya menunjukkan bahwa kurban adalah simbol penting dalam Islam yang seharusnya terus dijaga keberlangsungannya dari waktu ke waktu.
Bukan cuma dari ayat Al-Qur’an, Budi juga menyoroti kebiasaan Nabi Muhammad SAW yang disebut rutin berkurban setiap tahun hingga akhir hayat. Ia mengatakan tidak ada riwayat yang menjelaskan Nabi hanya berkurban sekali lalu berhenti.
Dalam salah satu hadis yang disampaikan, Nabi disebut menyembelih dua kambing. Satu untuk dirinya dan keluarga, sementara satu lagi diniatkan bagi umat Islam yang belum mampu berkurban.
Dari situ, Budi menilai praktik Rasulullah sudah cukup menunjukkan bahwa kurban bukan ibadah sekali jadi. Justru ibadah itu terus diulang setiap tahun sebagai bentuk ketakwaan dan kepedulian sosial.
Ia juga meluruskan anggapan sebagian masyarakat yang merasa hewan kurban harus selalu kambing. Menurutnya, sapi dan unta juga termasuk hewan kurban yang dibolehkan dalam syariat Islam.
Budi menyebut pada masa Nabi, kambing memang lebih sering digunakan karena paling mudah dimiliki masyarakat Arab saat itu. Selain jumlahnya banyak, harganya juga lebih terjangkau dibanding hewan lain.
Karena itu, menurutnya tidak tepat jika sekarang orang malah memperdebatkan apakah kurban harus kambing atau tidak. Yang jauh lebih penting adalah semangat menjalankan ibadah kurban sesuai kemampuan masing-masing.
Ia bahkan menilai kurban sapi punya manfaat sosial yang sangat besar karena dagingnya lebih banyak dan bisa dibagikan ke lebih banyak warga. Di sejumlah daerah yang jarang menikmati daging, keberadaan sapi kurban bisa sangat berarti bagi masyarakat.
Dalam ceramahnya, Budi juga mengingatkan soal hadis yang berisi peringatan keras bagi orang yang sebenarnya mampu tetapi sengaja tidak mau berkurban. Hadis tersebut sering dijadikan pengingat agar umat Islam tidak meremehkan ibadah Iduladha.
Meski begitu, ia menjelaskan para ulama memang memiliki perbedaan pandangan soal hukum kurban. Mazhab Hanafi menganggap kurban wajib bagi yang mampu setiap tahun, sedangkan mazhab lain seperti Syafi’i, Maliki, dan Hanbali menyebutnya sunah muakkadah atau sunah yang sangat dianjurkan.
Namun satu hal yang menurutnya sama, tidak ada mazhab yang mengatakan kurban cukup sekali seumur hidup. Semua pandangan tetap menempatkan kurban sebagai ibadah yang terus dianjurkan dilakukan berulang setiap Iduladha.
Selain bicara soal hukum, Budi juga menyoroti sisi sosial dari ibadah kurban. Ia menyebut masih ada banyak wilayah yang hampir tidak pernah menikmati daging kurban dalam jumlah layak.
Di beberapa kawasan pegunungan, satu ekor kambing bahkan harus dibagikan untuk satu kampung. Kondisi itu menurutnya menjadi bukti bahwa pemerataan distribusi hewan kurban masih sangat dibutuhkan.
Karena itu, ia mengapresiasi masjid dan lembaga yang menyalurkan hewan kurban ke daerah-daerah minim kurban agar manfaatnya bisa dirasakan lebih luas oleh masyarakat yang membutuhkan.
Budi juga sempat menyinggung kebiasaan sebagian orang yang rutin menghabiskan uang untuk hiburan atau gaya hidup, tetapi selalu merasa berat saat diminta berkurban. Menurutnya, persoalan terbesar sering kali bukan soal mampu atau tidak, melainkan ada atau tidaknya niat.
Ia bahkan memberi contoh ada anak sekolah hingga pemulung yang tetap bisa berkurban karena terbiasa menyisihkan uang sedikit demi sedikit. Dari situ ia menilai semangat berkurban sebenarnya bisa dibangun siapa saja selama ada kemauan.
Di akhir ceramahnya, Budi mengajak umat Islam menjadikan kurban bukan sekadar rutinitas tahunan, tetapi juga bentuk cinta kepada Allah sekaligus kepedulian kepada sesama manusia yang jarang menikmati kecukupan makanan. (*)

