Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
Reading: Banjir Ngaliyan-Tugu, Peneliti Amerta: Kota Salah Ditata
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
© 2025 Bacaaja.co
Fokus

Banjir Ngaliyan-Tugu, Peneliti Amerta: Kota Salah Ditata

Banjir di Ngaliyan dan Tugu datang lagi. Jalan rusak, rumah terendam, tanggul jebol, sampai makan korban jiwa. Tapi menurut peneliti Amerta Air Indonesia, masalahnya bukan sekadar hujan deras. Yang dianggap lebih gawat justru cara Kota Semarang berkembang: kawasan atas dibeton, hilir disuruh nerima kiriman air tiap musim hujan.

T. Budianto
Last updated: Mei 22, 2026 10:13 am
By T. Budianto
4 Min Read
Share
LUMPUR TEBAL: Banjir yang terjadi pada Jumat, (15/5/2026) malam di di wilayah Purwoyoso, Ngaliyan menyisakan lumpur tebal yang menutupi jalan dan masuk ke dalam rumah warga, Sabtu (16/5/2026). (dul)
SHARE

BACAAJA, SEMARANG- Banjir besar yang balik menghantam Ngaliyan dan Tugu belum lama ini bikin jalan rusak, tanggul jebol, rumah terendam, sampai menelan korban jiwa. Tapi buat peneliti Amerta Air Indonesia, masalah utamanya bukan cuma hujan deras.

Periset Amerta, Bagas Yusuf Kausan, menilai banjir yang terus berulang ini nunjukin ada yang salah dengan cara Kota Semarang ditata. Dari kawasan atas sampai hilir, semuanya disebut saling nyambung.

“Bencana ini tidak dapat dipahami semata sebagai kegagalan infrastruktur sungai. Ini adalah cerminan dari kegagalan tata ruang yang berlangsung sistemik dan struktural,” kata Bagas, Kamis (21/5/2026).

Baca juga: Semarang Jangan Terbiasa dengan Banjir dan Longsor

Sekadar latar belakang, hujan ekstrem Jumat (15/5/2026) malam bikin Sungai Plumbon dan Kali Silandak meluap bersamaan. Tanggul di Mangkang Kulon jebol sekitar 40 meter, ratusan rumah kebanjiran, dan dua warga dilaporkan meninggal dunia akibat terseret arus.

Amerta mencatat, sejak Desember 2025 sampai Mei 2026 sudah ada 18 titik tanggul jebol di sepanjang Sungai Plumbon. Tapi penanganan yang muncul dinilai masih sebatas tambal sulam pakai karung pasir dan trucuk bambu.

Menurut Bagas, kawasan atas seperti Bukit Semarang Baru (BSB) dan Podorejo sekarang makin padat perumahan. Lahan resapan yang dulu jadi penahan air hujan perlahan berubah jadi kawasan beton.

Akibatnya, air hujan nggak lagi punya ruang buat meresap. Begitu hujan deras turun, limpasan air langsung meluncur ke wilayah bawah seperti Ngaliyan dan Tugu.

Di tengah kondisi itu, Sendang Kaliancar di Podorejo juga disebut ikut terancam pembangunan. Padahal mata air itu selama ini jadi penopang kebutuhan warga dan punya fungsi ekologis penting.

Alih Fungsi

“Jika kawasan atas mengalami alih fungsi lahan cukup masif, apakah sungai yang ada mampu menampung air hujan? Jika hujan intensif dan lama apakah fungsi resapan daerah atas masih berfungsi?” ujarnya.

Selain soal kawasan resapan, Amerta juga menyoroti Ngaliyan yang sekarang berkembang jadi koridor industri padat. Truk-truk besar lalu lalang tiap hari di ruas jalan yang dinilai belum siap menopang aktivitas sebesar itu.

Menurut Bagas, pembangunan kawasan industri berjalan cepat, tapi kesiapan infrastruktur justru jalan di tempat. Dampaknya bukan cuma banjir, tapi juga risiko kecelakaan dan kerusakan jalan yang makin sering terjadi.

Baca juga: Pemkot Salurkan Bantuan Korban Banjir Tugu dan Ngaliyan

Sementara di bagian hilir, Sungai Plumbon sekarang jadi benteng terakhir yang dipaksa menahan semua limpasan air dari kawasan atas. Masalahnya, benteng itu sudah berkali-kali jebol.

Pemerintah memang sudah punya rencana normalisasi sungai sejak 2024. Tapi sampai sekarang prosesnya masih seret karena pembebasan lahan belum selesai seluruhnya.

Bagas mengingatkan, solusi banjir juga nggak bisa cuma mengandalkan pengerukan sungai atau proyek beton. Menurutnya, pengalaman normalisasi Kali Bringin menunjukkan solusi teknis tanpa mempertimbangkan dampak sosial malah bisa bikin masalah baru buat warga sekitar.

“Solusi teknis yang tidak mempertimbangkan dimensi sosial hanya memindahkan masalah, bukan menyelesaikannya,” tegasnya.

Di saat hujan makin ekstrem dan beton makin luas, Semarang seperti sedang menghadapi ironi sendiri: kota terus tumbuh ke atas, tapi airnya justru makin nggak punya tempat pulang. (bae)

You Might Also Like

Puan: Transformasi Harus Pelan tapi Nempel

Mantan Kaprodi Anestesi Undip Dituntut Tiga Tahun Bui Gara-Gara “Iuran Siluman”

Sultan Jogja Sentil Pelaksanaan MBG: Ngak Masuk Akal Toh!

Cuma 15 Desa di Jateng Berstatus Tertinggal, Pemprov: Sangat Tertinggal 0

Semarang Mau 2026 Lebih ‘Hijau’, Agsutina Gaspol di Pangan & Lingkungan

TAGGED:amertabanjir semarangheadlinengaliyanpemkot semarangtugu
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article Jateng Media Summit 2026: Jadi Ajang Media Lokal “Reset Arah”
Next Article GURU KEREN - Sri Husodo, guru seni musik SMP Nasima Semarang yang akrab dipanggil Dodo, jadi juara pertama lomba cipta lagu atau mars MTQ nasional yang digelar Kementerian Agama RI. (ist) Keren! Guru Sekolah Nasima Menang Lomba Bikin Mars MTQ Nasional

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

Mantan Wakil Menteri Luar Negeri Indonesia, Dino Patti Djalal.

Dino Patti Djalal Kembali Sentil Pemerintahan Prabowo: Tak Kirim Delegasi ke Iran, Takut Amerika?

SETOR UANG--Kontraktor Ferry Septha Indrianto alias Ferry Gareng beranjak usai menjadi saksi sidang korupsi terdakwa Sudewo, di Pengadilan Tipikor Semarang, Senin (6/7/2026). (bae)

Kontraktor Ngaku Setor Duit Rp125 Juta ke “Orangnya” Sudewo untuk Garap Proyek Ini

SAKSI SIDANG--Mantan Pangdam IV/Diponegoro, Letjen TNI Widi Prasetijono (layar monitor, tengah) jadi saksi sidang kasus pencucian uang hasil korupsi lahan BUMD Cilacap, Senin (6/7/2026). (bae)

Jadi Saksi Sidang, Eks Pangdam Widi Pakai Loreng dan Baret Merah

Saleh Wakil Ketua DPRD Jateng Soroti Tantangan Komunikasi Publik Era Digital

Balik Lagi! Thaufan Hidayat Pilih Tetap Berseragam PSIS

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

Foto titik gempa bumi yang terjadi pada Senin (27/4/2026).
Info

Pagi Bergetar di Jateng: 3 Gempa Bumi Terjadi Beruntun, Warga Sempat Rasakan Goyang-goyang

April 27, 2026
Sepak Bola

Andri Minta Pemain Tetap Fokus

Februari 24, 2026
Info

Columbia Asia Semarang Kenalkan Cara Modern Atasi Batu Empedu

Mei 29, 2026
Pimpinan DPR RI diwakili oleh Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad, Cucun Ahmad Syamsurijal dan Saan Mustofa, Rabu (3/9/2025) menggelar jumpa pers usai ketemu dengan 16 eprwakilan organisasi mahasiswa. Foto: dok/ist
Unik

Seru! DPR Ajak 16 Organisasi Mahasiswa Ngobrol Bareng soal Aksi Demo Agustus 2025

September 3, 2025

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: Banjir Ngaliyan-Tugu, Peneliti Amerta: Kota Salah Ditata
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?