BACAAJA, SEMARANG– Pemprov Jateng lagi tancap gas urusan perumahan rakyat. Sampai triwulan I 2026, total sudah 281.312 unit rumah berhasil dibangun untuk warga berpenghasilan rendah.
Angka itu bukan datang tiba-tiba. Sepanjang 2025, sudah terealisasi 274.514 unit dari berbagai sumber pendanaan, mulai dari APBN, APBD provinsi dan kabupaten/kota, sampai CSR dan Baznas. Lalu di awal 2026, ditambah lagi 6.798 unit baru.
Baca juga: Jateng Ngebut Beresin Backlog
Kepala Disperakim Jateng, Boedyo Dharmawan bilang, capaian ini jadi langkah penting buat “ngurangin PR lama” bernama backlog perumahan. Di akhir 2025, backlog masih di angka 1,33 juta unit. Tapi berkat kerja bareng lintas sektor, jumlah itu berhasil ditekan jadi sekitar 1,05 juta unit di awal 2026.
“Targetnya bisa terus turun dalam empat tahun ke depan,” jelasnya. Program ini nggak cuma bangun rumah baru, tapi juga ngebenerin rumah yang sudah ada lewat program Rumah Tidak Layak Huni (RTLH). Jadi bukan sekadar punya rumah, tapi juga layak, aman, dan sehat buat ditinggali.
Verifikasi Langsung
Penentuan penerima bantuan pun nggak asal tunjuk. Data diambil dari DTKS dan diverifikasi langsung di lapangan, mulai dari status tanah sampai kondisi bangunan.
Buat Gubernur Luthfi, program ini lebih dari sekadar proyek fisik. “Kami ingin setiap keluarga punya tempat tinggal yang layak sebagai fondasi hidup yang lebih baik,” ujarnya.
Dampaknya mulai terasa di level warga. Salah satunya Subali, warga Wonogiri, yang akhirnya punya rumah sendiri setelah lama numpang. Sebagai penjual bakso bakar keliling, penghasilannya nggak menentu, punya rumah jadi sesuatu yang dulu terasa jauh.
Baca juga: Sepanjang 2025, Backlog Jateng Turun 274 Ribu
Cerita serupa datang dari Sumar, yang rumahnya direnovasi dari dinding kayu jadi tembok kokoh. Buatnya, bantuan ini bukan cuma soal bangunan, tapi rasa tenang.
Ratusan ribu rumah sudah berdiri, angka backlog mulai turun, dan program terus jalan. Tapi dengan sisa lebih dari sejuta rumah yang belum terpenuhi, realitanya masih sederhana: mimpi punya rumah itu sekarang bukan lagi mustahil, tapi juga belum bisa dibilang dekat. (tebe)

