BACAAJA, BANJARNEGARA – Guru Besar Teknik Geologi Universitas Gadjah Mada (UGM), Profesor Dwikorita Karnawati, melakukan pemantauan langsung ke lokasi longsor di Dusun Situkung, Desa Pandanarum, Kecamatan Pandanarum, Banjarnegara, Rabu (19/11/2025). Ia meninjau kondisi tebing dan struktur batuan yang dianggap berperan memicu bencana tersebut.
Dalam pengecekan di titik longsor, Dwikorita menemukan adanya lapisan batuan lempung berwarna biru kehitaman. Menurutnya, lapisan inilah yang menjadi pemicu utama karena sifatnya yang mudah berubah saat terkena air.
“Batuan lempung ini kalau kering keras seperti meja, tapi kalau kena hujan berubah jadi bidang luncur untuk tanah di atasnya. Fenomenanya sama di mana-mana,” kata Dwikorita saat memberikan keterangan di Posko Utama, Kantor Kecamatan Pandanarum.
Ia juga menjelaskan bahwa di bagian atas tebing terdapat mahkota retakan serta sumber mata air yang meningkatkan risiko terjadinya longsor susulan. Kondisi ini membuat area tersebut masuk kategori rawan.
Dalam proses pencarian hari itu, anjing pelacak mengendus satu titik yang diduga lokasi tubuh korban tertimbun. Tim langsung menandai titik tersebut untuk pemeriksaan lebih lanjut.
Terkait kelayakan permukiman, Dwikorita menyampaikan bahwa warga masih dapat tinggal di kawasan tersebut, namun wajib meningkatkan kewaspadaan terutama pada musim hujan.
“Kalau warga ingin tetap tinggal, harus rutin memperbaiki bagian rumah yang retak atau amblas. Biasanya tanda-tandanya muncul ketika hujan,” ujarnya.
Sementara itu, Pos Induk Penanganan Longsor Desa Pandanarum melaporkan bahwa hingga hari keempat ada 931 warga yang mengungsi. Sebanyak 26 orang masih dinyatakan hilang dan 48 rumah diketahui tertimbun material longsor. (*)

