BACAAJA, SEMARANG– Kabar baik datang dari perekonomian Jateng. Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi Jateng pada triwulan I 2026 tembus 5,89 persen (year onyear), lebih tinggi dari rata-rata nasional yang ada di angka 5,61 persen.
Kalau dibandingkan tahun lalu, ini jelas naik signifikan. Di periode yang sama 2025, pertumbuhan Jateng masih di angka 4,96 persen. Artinya, ada akselerasi yang cukup terasa di awal tahun ini. Secara nominal, nilai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Jateng sudah menyentuh Rp511,99 triliun, dengan nilai riil Rp315,73 triliun.
Kepala BPS Jateng, Ali Said menjelaskan kalau industri pengolahan masih jadi tulang punggung ekonomi dengan kontribusi 32,69 persen. Meski begitu, pertumbuhannya relatif kalem di angka 4,04 persen. Ini jadi sinyal kalau mesin ekonomi nggak cuma ditopang industri, tapi mulai menyebar ke sektor lain, terutama jasa dan mobilitas.
Baca juga: Akademisi: Ekonomi Jateng On The Track, Tapi……
Dari sisi pengeluaran, ekonomi Jateng masih “ditopang” oleh konsumsi rumah tangga yang nyumbang 60,01 persen. Alias, roda ekonomi tetap muter karena warga belanja.
Yang menarik, konsumsi pemerintah juga naik cukup tajam, tumbuh 19,36 persen. Ini jadi indikasi kalau belanja negara dan daerah lagi digenjot di awal tahun buat dorong ekonomi.
Secara kuartalan, ekonomi Jateng tumbuh 1,85 persen dibanding akhir 2025. Salah satu pendorongnya datang dari sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan yang melonjak 21,53 persen. Efek musim panen? Jelas. Produksi pangan naik, aktivitas ekonomi di desa ikut hidup.
Permintaan Stabil
Di sisi lain, ekspor juga masih kuat dengan pertumbuhan 8,84 persen, tanda kalau permintaan luar negeri masih cukup stabil. Satu faktor penting lainnya: investasi.
Sepanjang triwulan I 2026, realisasi investasi di Jateng mencapai Rp23,02 triliun, atau sekitar 23,23 persen dari target tahunan. Adapun komposisinya: PMA (asing) Rp12,98 triliun (56,40 persen) dan PMDN (dalam negeri) Rp10,04 triliun (43,60 persen). Dari investasi ini, tercatat ada 24.957 proyek yang jalan dan berhasil menyerap sekitar 92.000 tenaga kerja.
Sektor yang paling diminati? Masih seputar industri pengolahan, mulai dari karet, plastik, mesin, elektronik, sampai tekstil dan alas kaki. Investor pun datang dari berbagai negara besar seperti Singapura, Hongkong, Tiongkok, Jepang, dan Korea Selatan.
Baca juga: Saleh Optimistis Investasi Jateng 2026 Ngebut, Iklim Usaha Dinilai Makin Ramah
Gubernur Jateng, Ahmad Luthfi menyebut, capaian ini sebagai hasil kolaborasi banyak pihak. “Ini bukan kerja satu pihak, tapi hasil gotong royong pemerintah, dunia usaha, akademisi, dan masyarakat,” ujarnya.
Ia juga menegaskan, investasi yang masuk jadi tanda kalau Jateng makin dipercaya sebagai tempat usaha yang kondusif. Ke depan, fokusnya bukan cuma ngejar angka tinggi, tapi memastikan pertumbuhan ini berkualitas dan bisa dirasakan langsung oleh masyarakat.
Angka ekonomi boleh ngebut, investor boleh berdatangan, tapi kalau warung masih sepi dan harga tetap bikin mikir dua kali, mungkin yang tumbuh baru grafiknya, belum sepenuhnya realitanya. (tebe)

