Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
Reading: Palang Sudah Turun, Gas Masih Naik: Drama Harian di Perlintasan Jrakah
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
© 2025 Bacaaja.co
Fokus

Palang Sudah Turun, Gas Masih Naik: Drama Harian di Perlintasan Jrakah

Palang sudah jelas-jelas ditutup, sinyal bahaya sudah kelihatan, tapi masih aja ada yang nekat nerobos. Di Jrakah, bukan cuma kereta yang melaju cepat, ego pengendara juga kadang nggak mau kalah.

T. Budianto
Last updated: Mei 5, 2026 1:55 pm
By T. Budianto
4 Min Read
Share
KERETA MELINTAS: Musa (50), penjaga palang sekaligus relawan di perlintasan sebidang dekat Stasiun Jrakah, Semarang Barat mengamati kereta api yang melintas, Senin (4/5/2026). (Foto: dul)
SHARE

BACAAJA, SEMARANG- Di perlintasan kereta api kawasan Stasiun Jrakah Semarang Barat, keselamatan tak hanya diuji oleh keterbatasan fasilitas, tetapi juga oleh perilaku pengguna jalan yang kerap abai terhadap risiko. Palang yang sudah ditutup pun belum tentu membuat pengendara berhenti.

Musa (50), penjaga palang sekaligus relawan di lokasi tersebut, hampir setiap hari berhadapan dengan situasi serupa. Ia baru sekitar satu tahun bertugas, namun sudah memahami betul bahwa tantangan terbesar bukan hanya soal teknis, melainkan sikap pengguna jalan.

“Sudah saya tutup, masih saja ada yang menerobos. Padahal itu sudah jelas berbahaya,” ujarnya saat ditemui, Senin (4/5/2026). Perlintasan ini masih menggunakan sistem manual.

Informasi kedatangan kereta biasanya diterima melalui telepon dari petugas lain atau stasiun terdekat. Waktu yang tersedia pun sangat terbatas, rata-rata hanya sekitar satu menit sebelum kereta melintas.

Baca juga: Ketika Disiplin Diabaikan, Wajar Bila Tragedi Berulang di Perlintasan Kereta

Dalam waktu sesingkat itu, Musa harus segera menutup palang dan memastikan tidak ada kendaraan yang melintas. Namun, kondisi di lapangan tak selalu berjalan sesuai harapan.

“Kadang orang itu tidak sabar. Sudah tahu ditutup, masih nekat lewat. Kalau terjadi apa-apa, kita juga yang kena,” katanya. Pengalaman di lapangan membuat Musa paham betul betapa fatalnya risiko kecelakaan di jalur kereta. Ia pernah terlibat dalam penanganan korban kecelakaan di sekitar area tersebut, meski tidak terjadi tepat di titik jagaannya.

Pengalaman itu meninggalkan kesan mendalam. Ia menggambarkan bagaimana kondisi korban yang mengenaskan, menjadi pengingat nyata bahwa kelalaian sekecil apa pun bisa berujung tragedi. “Kalau sudah kejadian, itu berat. Tapi sebagai relawan, kita memang harus siap,” ungkapnya.

Keterbatasan Personel

Selain menghadapi pengendara yang nekat, keterbatasan jumlah petugas juga menjadi persoalan serius. Saat ini, penjagaan hanya dilakukan oleh dua orang yang harus bergantian hampir selama 24 jam.

Di hari tertentu, bahkan ada waktu di mana penjagaan tidak optimal karena keterbatasan tenaga. Situasi ini tentu menambah tingkat kerawanan di perlintasan. “Dua orang itu berat. Harus bagi waktu, jaga hampir seharian,” kata Musa.

Padahal, jalur tersebut tergolong ramai. Selain warga sekitar, perlintasan ini juga menjadi akses bagi pelajar, penghuni kos, hingga masyarakat yang melintas dari kawasan lain.

Menurut Musa, kondisi ini seharusnya menjadi perhatian serius. Ia berharap ada langkah konkret dari pemerintah, baik dalam bentuk penambahan petugas maupun penyediaan sistem palang otomatis. “Harapannya ya ada sistem otomatis, sama tambahan orang. Biar lebih aman,” ujarnya.

Baca juga: 13 Titik Rawan Bencana dan 39 Perlintasan KA Tanpa Penjaga jadi Perhatian Serius Daop 4

Di tengah segala keterbatasan, Musa tetap menjalankan tugasnya dengan penuh tanggung jawab. Baginya, keselamatan pengguna jalan adalah prioritas utama, meski sering kali harus berhadapan dengan risiko dan tekanan di lapangan.

Apa yang terjadi di perlintasan Stasiun Jrakah Semarang Barat menunjukkan bahwa persoalan keselamatan tidak hanya soal infrastruktur, tetapi juga kesadaran. Selama masih ada pengendara yang mengabaikan aturan, potensi kecelakaan akan selalu ada.

Pada akhirnya, palang yang ditutup bukan sekadar tanda berhenti, melainkan peringatan bahwa nyawa sedang dipertaruhkan. Palang itu dibuat buat dihormati, bukan ditantang. Tapi kalau masih banyak yang anggap itu sekadar formalitas, ya jangan heran kalau suatu saat bukan keretanya yang terlambat, tapi nyawa yang nggak sempat diselamatkan. (dul)

 

Tulisan ini bagian dari fokus utama bacaaja.co pekan ini, “Keselamatan dan Kenyamaanan Berkendara di Kota Semarang”. (Red)

You Might Also Like

Imlek di Sam Poo Kong Tak Sekadar Barongsai

Indonesia Masuk 2 Besar Kasus Campak Tertinggi Dunia, IDAI: Jangan Tunda Imunisasi Anak

Semarang Masuk Smart City ASEAN, Agustina: Jangan Kebanyakan Aplikasi, Warga Malah Bingung

Cara Pemkot Semarang “Ngobrol” dengan “Masa Lalu”

Zulhas Minta Waktu Sebulan Benahi MBG

TAGGED:dishub kota semarangheadlinepemkot semarangperlintasan sebidangpt kai daop 4
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article Kasus Ponpes Pati: Baru 1 Korban Lapor, Lainnya Masih Diam atau Dipaksa Diam?
Next Article Bukannya Ikan, Tiga Nelayan Juwana Kegep Bawa Burung Langka

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

Paskibraka Bukan Cuma Kibarkan Bendera, 45 Anak Muda Digembleng Jadi Duta Pancasila

Operasi SAR KMP Mutiara Sentosa II Ditutup, 238 Korban Dievakuasi

Belum Mau Turun, Sudah Enam Bulan Harga Beras Terus Naik

MENIKMATI MALAM - Kawasan Candi Tugu kini jadi magnet spot wisata untuk menikmati Kota Semarang dari ketinggian. (dul)

Angkringan Monspace Jadikan Kawasan Candi Tugu Magnet Wisata Malam Semarang

Hendi ke Anak Muda: Jangan Cuma Jago Scroll, Berani Juga Bersuara

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

Kasat Reskrim Polrestabes Semarang, AKBP Andika Dharma Sena saat konferensi pers, Kamis (5/3/2026). (ist)
Hukum

Kasus Pengeroyokan Mahasiswa Undip Naik Penyidikan, Siapa jadi Tersangka?

Maret 5, 2026
Wakil Walikota Semarang Iswar Aminudin saat peresmian Gereja Blenduk sebagai ikon wisata heritage atau Kota Lama Semarang, Minggu (7/9/2025). Foto: dok/humas
Info

Gereja Blenduk Comeback! Jadi Ikon Kota Lama, Makin Kinclong dan Sarat Makna Toleransi

September 7, 2025
Ilustrasi pesilat menggelar konvoi dengan mengendarai sepeda motor.
Info

Konvoi Pesilat di Boyolali Ricuh: 4 Orang Kena Bacok, Bengkel Dirusak, Motor Dibakar

Juni 30, 2026
Mantan Rektor UGM Prof. Sofian Effendi.
Unik

Mantan Rektor UGM Tiba-tiba Cabut Pernyataan soal Ijazah Palsu Jokowi, Ada Apa?

Juli 19, 2025

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: Palang Sudah Turun, Gas Masih Naik: Drama Harian di Perlintasan Jrakah
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?