BACAAJA, KLATEN- Jumlah siswa dan guru di Kecamatan Tulung yang diduga keracunan makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) terus bertambah. Bahkan, angka sementara yang sebelumnya 189 orang kini melonjak jadi sekitar 500 orang yang merasakan gejala.
Kepala Dinas Kesehatan Klaten, Anggit Budiarto bilang, lonjakan ini berasal dari laporan siswa yang mengalami gejala ringan, tapi nggak sampai harus dirawat di fasilitas kesehatan.
Baca juga: Jumlah Korban Diduga Keracunan MBG di Kudus Jadi 118 Orang
“Bertambah yang bergejala, tapi sebagian besar ringan dan tidak dirawat,” jelas Anggit, Kamis (30/4/2026). Ia juga menegaskan, angka 500 itu masih bersifat sementara dan belum final. Pihaknya masih bakal sinkronisasi data bareng puskesmas dan Dinas Pendidikan biar lebih akurat. “Data riilnya masih kita konfirmasi,” tambahnya.
Dari pantauan di Puskesmas Majegan, suasana mulai kondusif. Nggak ada lagi gelombang siswa datang dengan keluhan sakit perut. Beberapa siswa bahkan sudah bersiap pulang dijemput keluarga. Di sisi lain, aktivitas belajar di SMPN 1 Tulung juga terlihat normal. Artinya, kondisi mulai berangsur membaik.
Sempat Bertambah
Camat Tulung, Hendri Pamukas menyebut, jumlah pasien yang dirawat di RS PKU Muhammadiyah Jatinom sempat bertambah. Dari awalnya dua orang, kini jadi enam siswa yang harus menjalani rawat inap. “Di RS PKU ada penambahan jadi enam orang,” ungkapnya.
Sementara itu di Puskesmas Majegan, sempat ada tambahan satu siswa yang masuk, tapi empat lainnya sudah diperbolehkan pulang karena kondisi membaik. “Yang lain juga terus dipantau,” katanya.
Salah satu siswa, Intan, mengaku kondisinya sudah jauh lebih baik. Gejala seperti mual, pusing, dan diare yang sempat dialami kini sudah hilang. “Sekarang sudah nggak. Tadi malam cuma mual sedikit dan muntah sekali,” ujarnya.
Baca juga: Pemkab Grobogan Gratiskan Pengobatan Korban Terduga Keracunan MBG
Sebelumnya, ratusan siswa dan guru di Tulung diduga mengalami keracunan usai menyantap menu MBG berupa sop galantin. Total ada 17 sekolah yang menerima makanan tersebut, dan puluhan di antaranya langsung mengalami gejala seperti mual dan pusing.
Programnya sih “Makan Bergizi Gratis”, tapi kalau ujung-ujungnya bikin ratusan orang antre obat, yang gratis cuma makanannya, efek sampingnya bayar pakai panik. (tebe)

