Ahmad Rofiul Khoir, mahasiswa UIN Walisongo Semarang.
“Saat mau kesurupan, ada dorongan dari atas. Waktu coba bertahan, dorongan itu makin kuat — sampai akhirnya nggak sadar, mati rasa, dan nggak ingat apa-apa.”
Begitu pengakuan Heri Ardianto (21), pemain Ebeg Banyumasan Paguyuban Karyo Budoyo di Karang Agung, Bulungan, Kalimantan Utara kepada saya.
Buat yang belum familiar, Ebeg adalah kesenian khas Banyumasan. Itu sejenis tarian kuda lumping yang diiringi oleh musik gamelan disertai alunan lagu yang penuh dengan unsur mistis dan spiritual.
Ebeg Banyumasan berkembang di wilayah Banyumas, Purbalingga, Cilacap, Kebumen, dan Banjarnegara diperkirakan sejak abad ke-16 dan pada tahun 2021, kesenian ini resmi ditetapkan UNESCO sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia.
Di Kalimantan, Ebeg dibawa oleh masyarakat transmigran yang kemudian dimainkan secara kolaboratif dengan masyarakat lokal Kalimantan. Sejak grup Ebegnya berdiri pada tahun 2014, aturan mainnya jelas. Pemain dewasa harus melalui ritual khusus sebelum tampil. Salah satunya adalah mandi kembang.
Sebelum pertunjukan, ketua grup memimpin doa khusus. Semua pemain duduk melingkar, mendengarkan bacaan yang berfungsi memanggil indang untuk hadir. Dalam kesenian Ebeg, indang adalah roh atau energi spiritual yang merasuki pemain saat pertunjukan. Setiap pemain punya indang berbeda-beda, ada yang indang kethek (monyet), macan (harimau), jaran (kuda), dan lain-lain. Indang inilah yang membuat pemain bisa melakukan atraksi-atraksi ekstrem.
Kesurupan di kesenian Ebeg bukan sembarang kesurupan. Bukan tiba-tiba atau kebetulan. Ini terencana, ada ritualnya, bahkan sudah diplot siapa aja yang bakal kesurupan.
“Pemain-pemain dewasa sudah diplotin dia bakal kesurupan,” ujar Heri. Artinya, sebelum naik panggung, mereka sudah tahu apa yang bakal terjadi. Mereka sudah siap untuk jatuh, untuk kehilangan kontrol, untuk menyerahkan tubuh mereka pada indang yang akan merasuki mereka.
Heri bilang, momen kesurupan itu datangnya tiba-tiba tapi tidak bisa ditolak. “Di saat momen kesurupan yang dirasain semacam ada dorongan dari atas dan gak bisa dielakkan. Seakan-akan pemain dipaksa jatuh,” ujar Heri mengenang pengalamannya. Para pemain bisa merasakan sesuatu yang mulai datang. Semacam tekanan atau energi dari luar tubuh mereka. Beberapa pemain bahkan sempat melawan, mencoba tetap berdiri, tetap sadar, tapi usaha itu sia-sia.
“Karena ada beberapa momentum pemain memaksa tidak jatuh tapi dorongan dari atas semakin kuat,” tambah Heri. Dorongan itu makin kuat, sampai akhirnya tubuh mereka menyerah, dan saat sudah jatuh semuanya jadi gelap.
“Pas jatuh pemain tidak merasakan apa-apa. Mati rasa,” jelasnya. Mati rasa. Blank. Tidak ingat apa-apa. Itulah yang dirasakan pemain Ebeg saat kesurupan. Mereka melakukan berbagai atraksi ekstrem, seperti menari tidak karuan. Makan barang-barang aneh. Bahkan kadang berperilaku seperti binatang sesuai dengan indang yang merasuki mereka. Tapi saat sadar pemain ebeg tidak mengingat apa-apa.
Proses penyembuhan dari kesurupan dilakukan oleh penimbul atau dukun Ebeg. Dialah yang jadi penjembatan antara pemain dan indang. Penimbul inilah yang mengendalikan jalannya pertunjukan. Dia memberi makan sesaji untuk indang, dan akhirnya mengembalikan pemain ke kesadaran normal.
“Pas sadar dari kesurupan pemain lemes seperti bangun dari pingsan,” kata Heri.
Pemain biasanya merasa sangat lelah, lemas, bahkan kadang bingung soal apa yang baru aja mereka lakukan. Beberapa pemain sampai harus dibantu berdiri atau berjalan karena tenaga mereka habis total. Tapi buat mereka, ini bagian dari seni. Bagian dari tradisi yang harus dijaga.
Di balik kesurupan yang tampak ekstrem itu, ada kebanggaan yang tidak bisa disembunyikan. Orang-orang seperti Heri rela kehilangan diri sejenak, demi menjaga tradisi di tengah disrupsi kehidupan modern dan derasnya perubahan zaman.(*)
*Tulisan dari penulis esai dan artikel tidak mewakili pandangan dari redaksi. Hal-hal yang mengandung konsekuensi hukum di luar tanggung jawab redaksi.

