Hidar Amaruddin, dosen FIP Universitas Nahdlatul Ulama Yogyakarta.
Pada anak yang belum punya keyakinan matang, algoritma ikut membentuk cara anak memandang dunia.
Ketika masih menjadi guru dan mengajar di sekolah dasar, ada satu hal yang lama mengganggu pikiran saya. Sesuatu yang sulit dijelaskan, bahkan kepada diri sendiri.
Saya melihat murid-murid duduk, mata menghadap ke depan, tapi seperti ada jarak antara mereka dan apa yang sedang saya sampaikan. Saya terus mengajar, sambil dalam hati bertanya-tanya: sinyal ini sampai atau tidak sebenarnya.
Lama-lama saya menduga jawabannya bukan di dalam kelas. Jonathan Haidt, psikolog sosial dari NYU, menulis dalam The Anxious Generation bahwa bahkan ketika anak-anak tampak hadir secara fisik, duduk di kelas, makan, berbicara dengan orang di sebelahnya, sebagian besar perhatian mereka sebenarnya sedang memantau atau mengkhawatirkan apa yang terjadi di dunia maya.
Sherry Turkle dari MIT menyebutnya dengan kalimat yang pendek tapi berat: “We are forever elsewhere.” Kita selalu berada di tempat lain. Dan itu bukan soal Gen Z yang kurang ajar atau tidak menghargai guru. Itu soal apa yang sudah terbentuk jauh sebelum mereka duduk di bangku kelas.
Para peneliti neurosains punya istilah untuk kondisi ini: attention residue. Setiap kali otak terlalu sering berpindah dari satu stimulus ke stimulus lain sebelum yang pertama selesai dicerna, kemampuan untuk bertahan lama di satu hal perlahan aus.
Pada orang dewasa kondisi ini terasa sebagai kelelahan. Pada anak yang otaknya masih dalam tahap pembentukan, prosesnya berbeda. Kebiasaan itu mengakar dan menjadi cara kerja default otak mereka. Otak yang ratusan kali sehari dibiasakan untuk melompat, akhirnya memang hanya tahu cara melompat.
Di luar sekolah, ada sesuatu yang bekerja sangat keras memastikan kebiasaan itu terbentuk dan terjaga. Algoritma platform digital dirancang bukan untuk mencerdaskan penggunanya, melainkan untuk mempertahankan perhatian mereka selama mungkin.
Konten yang muncul adalah yang paling mungkin disukai, paling akrab, paling tidak mengejutkan. Tentunya berdasarkan riwayat tontonan mereka sebelumnya. Makin lama anak berada di platform, makin sempit sebetulnya dunia yang masuk ke kepalanya.
Dalam kajian komunikasi, kondisi ini dikenal sebagai echo chamber. Cara kerjanya pada anak usia SD berbeda dari orang dewasa. Pada orang dewasa, echo chamber memperkuat keyakinan yang sudah terbentuk.
Pada anak yang belum punya keyakinan matang, algoritma ikut membentuk cara anak memandang dunia—sebelum pengalaman hidup, sebelum buku, bahkan sebelum percakapan panjang dengan orang tua sempat melakukan hal yang sama.
Anak tidak merasa dikurasi karena memang tidak pernah tahu ada dunia informasi lain di luar yang selama ini muncul di layarnya. Gelembung itu tidak terasa sempit karena dari dalam, memang terasa seperti seluruh dunia.
Sementara itu guru berdiri di depan kelas, empat puluh menit, mencoba mengajak anak untuk ragu sebelum yakin, untuk mau duduk lama bersama pertanyaan yang belum ada jawabannya. Haidt menutup bukunya dengan satu kalimat yang menohok: guru seharusnya tidak perlu bersaing memperebutkan perhatian muridnya dengan seluruh internet.
Kenyataannya, itulah yang terjadi setiap hari di setiap kelas. Di luar jam sekolah, ada kurikulum lain yang bekerja, dengan waktu yang jauh lebih panjang dan cara yang jauh lebih menyenangkan dari papan tulis mana pun.
Sean Parker, salah satu pendiri Facebook, pernah mengakui terang-terangan bahwa platform media sosial memang dirancang untuk mengeksploitasi kelemahan psikologis manusia demi mempertahankan perhatian pengguna. Anak-anak tidak ada dalam pertimbangan etis desain itu. Mereka masuk ke dalam mesin yang bahkan untuk orang dewasa sudah terbukti menggerus kemampuan berpikir panjang, tanpa bekal apa pun untuk mengenali bahwa mesin itu sedang bekerja pada mereka.
Persoalannya bukan pada layarnya sendiri. Melarang layar tidak pernah benar-benar berhasil. Yang lebih mendesak ialah mengubah cara kita membingkai masalahnya. Literasi digital di sekolah selama ini berhenti terlalu di permukaan. Ia mengajarkan anak mengenali berita palsu, seolah cukup sampai di situ. Padahal yang sedang terbentuk jauh lebih dalam: cara berpikir, toleransi terhadap sudut pandang yang berbeda, kesediaan untuk bertahan dengan sesuatu yang belum dipahami.
Orang tua juga perlu masuk ke percakapan ini. Grup keluarga yang setiap hari meneruskan klaim tanpa sumber, video tanpa konteks, artikel tanpa verifikasi. Hal itu tanpa disadari juga mengajarkan sesuatu kepada anak yang duduk di sebelahnya. Anak belajar dari apa yang dilihat jauh lebih banyak dari apa yang diajarkan.
Saya masih ingat murid-murid pada momen saat di kelas dulu. Mata menghadap ke depan, pikiran entah di mana. Saat itu saya belum punya penjelasan yang memadai. Sekarang saya menduga mereka tidak sedang melamun. Mereka sedang berada di dalam terowongan yang sudah terbentuk jauh sebelum bel sekolah berbunyi, dan akan terus terbentuk jauh setelah bel pulang berdering.
Guru mengajarkan cara meragukan sesuatu. Algoritma mengajarkan cara yakin tanpa harus meragukan apa pun. Keduanya bekerja pada anak yang sama, dan salah satunya punya waktu yang jauh lebih banyak. (*)
*Tulisan dari penulis esai dan artikel tidak mewakili pandangan dari redaksi. Hal-hal yang mengandung konsekuensi hukum di luar tanggung jawab redaksi.

