BACAAJA, SEMARANG — Suasana keberangkatan haji mulai terasa di berbagai titik di Jawa Tengah. Satu per satu jemaah calon haji kini sudah masuk ke asrama embarkasi, membawa harapan besar menuju perjalanan spiritual yang ditunggu-tunggu seumur hidup.
Tahun ini, proses pemberangkatan jemaah dari Jawa Tengah dibagi dalam total 96 kelompok terbang atau kloter. Jumlah ini jadi gambaran betapa besarnya animo masyarakat untuk menunaikan ibadah haji.
Kepala Kanwil Kemenhaj Jawa Tengah, Fitriyanto, menjelaskan bahwa seluruh kloter tersebut akan diberangkatkan melalui dua embarkasi utama.
Sebanyak 81 kloter akan dilayani melalui Embarkasi Solo, sementara 15 kloter lainnya melalui Embarkasi Yogyakarta.
Pembagian ini dilakukan untuk memastikan proses keberangkatan berjalan lebih lancar dan terorganisir, mengingat jumlah jemaah yang cukup besar.
Setiap kloter juga tidak dilepas begitu saja. Ada empat petugas yang selalu mendampingi, mulai dari ketua kloter, pembimbing ibadah, tenaga medis, hingga paramedis.
Pendampingan ini jadi bagian penting agar jemaah tetap merasa aman dan terbantu, baik dari sisi ibadah maupun kesehatan selama perjalanan.
Gelombang pertama jemaah sudah mulai masuk embarkasi sejak Selasa. Kloter perdana berasal dari Kabupaten Tegal dengan jumlah sekitar 360 orang.
Momen ini jadi awal dari rangkaian panjang keberangkatan yang akan berlangsung secara bertahap dalam beberapa waktu ke depan.
Secara keseluruhan, jumlah jemaah calon haji asal Jawa Tengah tahun ini mencapai 34.122 orang. Angka ini mencerminkan besarnya minat masyarakat untuk menunaikan rukun Islam kelima.
Menariknya, rentang usia jemaah cukup beragam. Ada yang masih sangat muda, ada juga yang sudah lanjut usia.
Jemaah termuda tercatat berusia 14 tahun, berasal dari Kabupaten Magelang. Sementara yang tertua berusia 94 tahun dari Kabupaten Klaten.
Perbedaan usia ini menunjukkan bahwa panggilan haji bisa datang kapan saja, tanpa mengenal batas umur.
Untuk jemaah lanjut usia, pemerintah memberikan perhatian khusus. Ada kuota prioritas yang disediakan agar mereka bisa berangkat lebih cepat.
Tahun ini, Jawa Tengah mendapatkan kuota lansia sebanyak 1.712 orang. Ini jadi bentuk komitmen agar jemaah usia lanjut tetap mendapatkan kesempatan.
Di tengah berbagai isu global, kekhawatiran soal keamanan sempat muncul. Apalagi kondisi geopolitik di Timur Tengah kerap jadi sorotan.
Namun, pemerintah memastikan bahwa pelaksanaan ibadah haji tahun ini tetap berjalan aman sesuai rencana.
Pernyataan dari pihak Kedutaan Besar Arab Saudi di Indonesia menegaskan bahwa situasi saat ini tidak mengganggu penyelenggaraan haji.
Hal ini tentu jadi kabar yang menenangkan bagi jemaah dan keluarga yang menunggu di tanah air.
Selain itu, sistem perjalanan juga dirancang agar lebih aman. Seluruh jemaah diberangkatkan menggunakan penerbangan langsung.
Dengan skema ini, pesawat tidak akan transit di wilayah yang dianggap rawan konflik. Jadi perjalanan bisa lebih cepat dan minim risiko.
Rute penerbangan langsung menuju Madinah atau Jeddah menjadi pilihan utama dalam pemberangkatan tahun ini.
Langkah ini sekaligus mempersingkat waktu perjalanan, sehingga jemaah tidak terlalu lelah sebelum memulai rangkaian ibadah di tanah suci.
Jadwal keberangkatan juga sudah disusun rapi. Jemaah masuk embarkasi sehari sebelum keberangkatan.
Misalnya, yang masuk pada 21 April akan diberangkatkan keesokan harinya, yaitu 22 April, menuju Arab Saudi.
Pola ini diterapkan untuk memastikan semua persiapan, mulai dari administrasi hingga kesehatan, benar-benar siap sebelum terbang.
Dengan sistem yang lebih tertata, diharapkan proses keberangkatan tahun ini berjalan lebih lancar dibanding sebelumnya.
Bagi para jemaah, momen ini bukan sekadar perjalanan biasa. Ini adalah perjalanan spiritual yang penuh makna dan harapan.
Sementara bagi pemerintah, ini jadi tanggung jawab besar untuk memastikan setiap langkah berjalan aman dan nyaman.
Kini, gelombang haji dari Jawa Tengah sudah mulai bergerak. Satu per satu kloter akan menyusul, membawa doa dan harapan menuju tanah suci. (*)

