BACAAJA, SEMARANG- Di tengah pesatnya perkembangan zaman dan derasnya arus media sosial, kesenian tradisional di Semarang perlahan mulai tergeser. Generasi muda kini lebih akrab dengan tren modern, sementara budaya lokal justru semakin jarang dilirik.
Hal ini dirasakan langsung oleh Suryo Edi (45), warga Bringin, Ngaliyan, Semarang. Baginya, kesenian seperti wayang kulit, wayang orang, hingga tradisi Dugderan sebenarnya masih menyimpan daya tarik yang kuat, terutama dari sisi filosofi.
“Kalau saya pribadi, kesenian tradisional itu tetap menarik. Nilainya dalam, tidak sekadar hiburan,” ujarnya. Senin (20/4/2026). Namun ia tidak menolak, ketertarikan itu kini tidak lagi sekuat dulu, khususnya di kalangan generasi muda.
Ia bahkan mengaku sudah sangat lama tidak menonton pertunjukan secara langsung. Terakhir kali ia menyaksikan Dugderan sekitar 17 tahun lalu saat anaknya masih kecil, sementara wayang orang sudah hampir 20 tahun tidak ia tonton di gedung kesenian.
Baca juga: Dugderan 2026: Tradisi Lama, Energi Baru
Kini, jika ingin menikmati wayang, ia lebih sering mengaksesnya lewat YouTube. Selain lebih praktis, cara ini juga dirasa lebih nyaman dibanding harus datang langsung ke lokasi pertunjukan.
Menurutnya, perubahan ini tidak lepas dari pengaruh budaya asing yang semakin mudah diakses lewat media sosial. Anak muda cenderung mengikuti tren luar, sehingga perlahan menjauh dari budaya sendiri.
“Sekarang semuanya serba mudah diakses. Budaya luar lebih cepat masuk, akhirnya yang lokal jadi kalah menarik,” katanya. Meski begitu, ia menilai kesenian tradisional masih bisa bertahan, asalkan terus diperkenalkan.
Dukungan Pemerintah
Ia menekankan pentingnya peran pendidikan serta dukungan pemerintah dalam menghidupkan kembali minat generasi muda. “Harus sering dikenalkan lagi, misalnya lewat kegiatan di sekolah atau lomba kesenian. Kalau tidak kenal, ya tidak akan tertarik,” tambahnya.
Pandangan yang sama juga disampaikan Suparno (40), yang Tinggal di Gedawang, Banyumanik, Kota Semarang. Ia melihat bahwa di lingkungan perkotaan, budaya kini lebih sering diposisikan sebagai hiburan semata, bukan sebagai sesuatu yang perlu dijaga, Senin (20/4/2026).
“Di kota, budaya itu seperti tontonan saja. Bukan hal yang dianggap penting untuk dilestarikan,” ujarnya. Menurutnya, gaya hidup masyarakat kota yang sibuk membuat perhatian terhadap budaya semakin berkurang.
Bahkan, ia sendiri mengaku tidak terlalu mengenal beberapa kesenian khas Semarang, dan lebih familiar dengan hal-hal yang lebih dekat dengan keseharian, seperti kuliner atau tradisi populer.
Suparno juga menyoroti faktor biaya sebagai salah satu penghambat. Ia menilai, banyak pertunjukan budaya yang kurang terjangkau, sehingga tidak menarik minat masyarakat untuk datang.
Baca juga: Wayang Orang on The Street di Kota Lama Semarang Sedot Perhatian, Penonton Berjubel
“Kalau ingin banyak yang tahu, ya harus sering dipertontonkan. Kalau bisa gratis, supaya orang mau datang dan mengenal dulu,” katanya. Baginya, keterbukaan akses menjadi kunci. Semakin mudah masyarakat menjangkau pertunjukan budaya, semakin besar pula peluang untuk menumbuhkan kembali minat, terutama di kalangan anak muda.
Dari dua sudut pandang tersebut, terlihat bahwa tantangan pelestarian budaya tidak hanya soal minat, tetapi juga soal akses dan cara memperkenalkannya. Di tengah perubahan zaman, kesenian tradisional Semarang dituntut untuk beradaptasi, agar tidak sekadar menjadi cerita masa lalu, tetapi tetap hidup dan dikenal generasi berikutnya.
Ironisnya, kita rela hafal tren luar sampai detail, tapi lupa cerita dari budaya sendiri. Mungkin masalahnya bukan budaya lokal yang kurang menarik, tapi kita yang lebih sibuk ngejar yang viral, daripada yang bermakna. (dul)

