Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
Reading: Budaya Lokal Semarang Makin Tenggelam di Timeline
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
© 2025 Bacaaja.co
Fokus

Budaya Lokal Semarang Makin Tenggelam di Timeline

Jujur aja, sekarang nonton wayang atau Dugderan kalah pamor sama scroll TikTok. Di tengah gempuran tren global dan konten serba instan, kesenian tradisional di Semarang pelan-pelan kayak “ke-skip”, bukan karena nggak keren, tapi karena kalah exposure.

T. Budianto
Last updated: April 21, 2026 6:07 pm
By T. Budianto
4 Min Read
Share
NGESTI PANDOWO: Pagelaran Wayang Orang Ngesti Pandowo di Taman Budaya Raden Saleh (TBRS) Semarang, beberapa waktu lalu. (Foto: Ist)
SHARE

BACAAJA, SEMARANG- Di tengah pesatnya perkembangan zaman dan derasnya arus media sosial, kesenian tradisional di Semarang perlahan mulai tergeser. Generasi muda kini lebih akrab dengan tren modern, sementara budaya lokal justru semakin jarang dilirik.

Hal ini dirasakan langsung oleh Suryo Edi (45), warga Bringin, Ngaliyan, Semarang. Baginya, kesenian seperti wayang kulit, wayang orang, hingga tradisi Dugderan sebenarnya masih menyimpan daya tarik yang kuat, terutama dari sisi filosofi.

“Kalau saya pribadi, kesenian tradisional itu tetap menarik. Nilainya dalam, tidak sekadar hiburan,” ujarnya. Senin (20/4/2026).  Namun ia tidak menolak, ketertarikan itu kini tidak lagi sekuat dulu, khususnya di kalangan generasi muda.

Ia bahkan mengaku sudah sangat lama tidak menonton pertunjukan secara langsung. Terakhir kali ia menyaksikan Dugderan sekitar 17 tahun lalu saat anaknya masih kecil, sementara wayang orang sudah hampir 20 tahun tidak ia tonton di gedung kesenian.

Baca juga: Dugderan 2026: Tradisi Lama, Energi Baru

Kini, jika ingin menikmati wayang, ia lebih sering mengaksesnya lewat YouTube. Selain lebih praktis, cara ini juga dirasa lebih nyaman dibanding harus datang langsung ke lokasi pertunjukan.

Menurutnya, perubahan ini tidak lepas dari pengaruh budaya asing yang semakin mudah diakses lewat media sosial. Anak muda cenderung mengikuti tren luar, sehingga perlahan menjauh dari budaya sendiri.

“Sekarang semuanya serba mudah diakses. Budaya luar lebih cepat masuk, akhirnya yang lokal jadi kalah menarik,” katanya. Meski begitu, ia menilai kesenian tradisional masih bisa bertahan, asalkan terus diperkenalkan.

Dukungan Pemerintah

Ia menekankan pentingnya peran pendidikan serta dukungan pemerintah dalam menghidupkan kembali minat generasi muda. “Harus sering dikenalkan lagi, misalnya lewat kegiatan di sekolah atau lomba kesenian. Kalau tidak kenal, ya tidak akan tertarik,” tambahnya.

Pandangan yang sama juga disampaikan Suparno (40), yang Tinggal di Gedawang, Banyumanik, Kota Semarang. Ia melihat bahwa di lingkungan perkotaan, budaya kini lebih sering diposisikan sebagai hiburan semata, bukan sebagai sesuatu yang perlu dijaga, Senin (20/4/2026).

“Di kota, budaya itu seperti tontonan saja. Bukan hal yang dianggap penting untuk dilestarikan,” ujarnya. Menurutnya, gaya hidup masyarakat kota yang sibuk membuat perhatian terhadap budaya semakin berkurang.

Bahkan, ia sendiri mengaku tidak terlalu mengenal beberapa kesenian khas Semarang, dan lebih familiar dengan hal-hal yang lebih dekat dengan keseharian, seperti kuliner atau tradisi populer.

Suparno juga menyoroti faktor biaya sebagai salah satu penghambat. Ia menilai, banyak pertunjukan budaya yang kurang terjangkau, sehingga tidak menarik minat masyarakat untuk datang.

Baca juga: Wayang Orang on The Street di Kota Lama Semarang Sedot Perhatian, Penonton Berjubel

“Kalau ingin banyak yang tahu, ya harus sering dipertontonkan. Kalau bisa gratis, supaya orang mau datang dan mengenal dulu,” katanya. Baginya, keterbukaan akses menjadi kunci. Semakin mudah masyarakat menjangkau pertunjukan budaya, semakin besar pula peluang untuk menumbuhkan kembali minat, terutama di kalangan anak muda.

Dari dua sudut pandang tersebut, terlihat bahwa tantangan pelestarian budaya tidak hanya soal minat, tetapi juga soal akses dan cara memperkenalkannya. Di tengah perubahan zaman, kesenian tradisional Semarang dituntut untuk beradaptasi, agar tidak sekadar menjadi cerita masa lalu, tetapi tetap hidup dan dikenal generasi berikutnya.

Ironisnya, kita rela hafal tren luar sampai detail, tapi lupa cerita dari budaya sendiri. Mungkin masalahnya bukan budaya lokal yang kurang menarik, tapi kita yang lebih sibuk ngejar yang viral, daripada yang bermakna. (dul)

You Might Also Like

Iran Gak Tinggal Diam, Balas Serangan Israel-AS: Serang Pangkalan Militer AS di Timur Tengah

Keracunan MBG Berulang, Wagub Jateng Gus Yasin Sorot Pergantian Penjamah Makanan

Gerakan “Ibu Jogo Anak” Resmi Digas: Saatnya Emak-Emak Turun Tangan Lawan Radikalisme Online!

Menolak Pembayaran Tunai Itu Melanggar Hukum Lho! DPR Soroti Praktik Cashless

Rasain! Tiga Kades Pati Komplotan Sudewo Peras Perangkat Desa Dituntut Bui, Ada yang 7,5 Tahun

TAGGED:hari jadi semarangheadlinepemkot semarangwayang semarangwo ngesti pandowo
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article Kuasa hukum terpidan kasus penggelapan, Rayhan Abdillah dan tim menunjukkan pendaftaran PK di PN Semarang, Selasa (21/4/2026). (bae) Kisah Pilu Bella, Audit Janggal Antarkan Dia ke Penjara dan Dipaksa Pisah dari Bayinya
Next Article IPG Kota Semarang 78,71, Agustina: Bukti Perempuan Semarang Kian Berdaya

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

Bupati Wonosobo, Afif Nurhidayat.

Disdikpora Wonosobo bakal Dipecah, Afif: 2027 Dispora Jadi OPD Sendiri

BARANG BUKTI: Barang bukti kasus judi togel dari 3 daerah yang diungkap tim Polda Jateng, dipamerkan saat konferensi pers, Selasa (20/10/2026). (ist)

Polda Jateng Bongkar Jaringan Togel di Tiga Wilayah, Rp2,4 Miliar Diblokir

SIKAPI PERCERAIAN: Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng bersama pihak Pengadilan Agama Semarang menjalin kerja sama menyikapi kasus perceraian. (ist)

Tiap Tahun Ribuan Pasutri Cerai, Pemkot Semarang Pikirkan Nasib Janda dan Anaknya

Ilustrasi pengemudi ojek online (ojol).

Harapan Ojol Jateng di Tengah Rencana Revisi UU Lalu Lintas

Demo Memanas di Eropa, KBRI Diminta Siaga Lindungi WNI

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

Flyer penukaran uang baru di Stasiun Semarang Tawang dan Poncol.
Info

Serunya Mudik Naik Kereta Sekalian Berburu Uang Baru, Ada di Stasiun Tawang dan Poncol

Maret 13, 2026
Ilustrasi Akal Imitasi (AI) bisa menjadi ancaman bagi tenaga kerja.
Tumbuh

Teknologi Ngebut, SDM Kedodoran: Indonesia Rawan PHK Massal di Era AI

Desember 30, 2025
ARTJOG TANGKAP SENIMAN - Seniman ARTJOKES ditangkap oleh pihak keamanan ARTJOG 2026 saat melakukan performing art sebagai bentuk protes atas keterlibatan putra Presiden Prabowo, Didit, dalam penyelenggaraan ARTJOG 2026. (ist)
Info

Seniman Ditangkap ARTJOG saat Teatrikal Protes, ARTJOKES Singgung Intimidasi

Juni 20, 2026
Ilustrasi korban tenggelam/hanyut di sungai.
Info

6 Mahasiswa KKN UIN Walisongo Hanyut di Kendal, 4 Ditemukan Meninggal

November 4, 2025

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: Budaya Lokal Semarang Makin Tenggelam di Timeline
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?