Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
Reading: Fenomena “Trial by Netizen” dan Krisis Etika di Ruang Digital
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
© 2025 Bacaaja.co
Opini

Fenomena “Trial by Netizen” dan Krisis Etika di Ruang Digital

Redaktur Opini
Last updated: April 20, 2026 8:29 am
By Redaktur Opini
4 Min Read
Share
SHARE

Khoirul Nikmah, mahasiswi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) UPGRIS.

Situasi kecil bisa menjadi besar karena dibesar-besarkan oleh opini publik yang belum tentu benar.

 

Dalam beberapa tahun terakhir, kita semakin akrab dengan trial by netizen. Itu ditengarai dengan adanya penghakiman di medsos oleh netizen atas kesalahan seseorang, meskipun belum terbukti bersalah oleh pengadilan. Fenomena ini menunjukkan bahwa media sosial perlahan berubah menjadi semacam “pengadilan jalanan digital”. Asas praduga tak bersalah kerap diabaikan demi kepuasan moral sesaat.

Pada dasarnya, semua orang mempunyai hak untuk berpendapat di media sosial. Akan tetapi sekarang batas antara memberi kritik dan sekadar menghujat semakin tipis. Seharusnya, jika ingin mengkritik maka fokuslah ke tindakan atau masalahnya. Bukan malah menyerang orangnya secara pribadi. Akan tetapi kenyataannya yang sering terjadi justru sebaliknya. Banyak komentar kasar, menjatuhkan, bahkan hingga menyebarkan data pribadi (doxing) atau ancaman.

Ditambah lagi dengan media sosial itu mudah sekali membuat sesuatu yang sepele menjadi viral. Sekali ada video atau postingan yang “panas”, orang-orang langsung ikut komentar tanpa pikir panjang. Fitur share dan algoritma juga membuat semuanya makin cepat menyebar. Akhirnya, hujatan datang secara bebarengan dari berbagai arah. Satu orang bisa langsung jadi sasaran ribuan komentar negatif dalam waktu singkat. Dan situasinya jadi sulit dikendalikan.

Dampak dari fenomena ini tidak bisa dianggap sepele. Berbeda dengan sistem hukum formal yang memiliki batas waktu dan mekanisme rehabilitasi, “hukuman” dari netizen bersifat tidak terbatas. Jejak digital akan terus ada bahkan setelah klarifikasi diberikan. Akibatnya, korban bisa mengalami tekanan psikologis serius, kehilangan kesempatan kerja, hingga dikucilkan secara sosial.

Lebih jauh lagi, kondisi ini mencerminkan erosi empati dalam ruang digital. Ketika interaksi terbatas pada layar, banyak orang lupa bahwa di balik video atau foto tersebut terdapat manusia nyata dengan perasaan, keluarga, dan kehidupan yang bisa hancur akibat satu narasi yang belum tentu benar.

Fenomena itu juga mengancam prinsip dasar keadilan, yaitu due process of law. Di media sosial, pihak yang pertama kali membentuk narasi sering kali dianggap paling benar. Sehingga tidak ada ruang yang seimbang bagi pihak yang dituduh untuk memberikan klarifikasi.

Lebih berbahaya lagi, informasi yang beredar sering kali tidak utuh atau bahkan keliru, sehingga potensi risiko salah sasaran menjadi sangat tinggi. Dalam kondisi seperti ini, kebenaran bukan lagi hasil dari proses verifikasi, melainkan hasil dari opini mayoritas yang terbentuk secara cepat dan emosional.

Memang tidak bisa dipungkiri jika kekuatan netizen itu terkadang ada sisi baiknya juga. Ada beberapa kasus yang baru ditangani setelah viral. Istilahnya “no viral, no justice”. Tekanan dari publik bisa membuat suatu masalah jadi diperhatikan dan akhirnya ditindak. Tapi bukan berarti semua hal harus diselesaikan dengan cara “rame-rame menghakimi” di internet.

Jika semua orang langsung ikut menyerang tanpa tahu fakta lengkap, justru bisa jadi bumerang. Orang yang sebenarnya belum tentu bersalah malah terkena dampaknya duluan. Situasi kecil bisa menjadi besar karena dibesar-besarkan oleh opini publik yang belum tentu benar. Di titik ini, yang awalnya terlihat seperti bentuk kepedulian publik bisa berubah jadi serangan ramai-ramai yang berlebihan dan tidak terkendali.

Pada akhirnya, penting untuk diingat bahwa kebebasan berpendapat bukan berarti bebas tanpa batas dan tanpa pertimbangan. Setiap komentar yang kita tulis tetap memiliki dampak bagi orang lain.

Terkadang hal sederhana seperti menahan diri sejenak sebelum ikut berkomentar atau membagikan sesuatu bisa membawa perbedaan yang besar. Tidak semua hal perlu langsung ditanggapi. Apalagi jika informasi yang beredar belum jelas kebenarannya. (*)

 

*Tulisan dari penulis esai dan artikel tidak mewakili pandangan dari redaksi. Hal-hal yang mengandung konsekuensi hukum di luar tanggung jawab redaksi.

 

You Might Also Like

Indah Bisa Saja Mendatangkan Musibah

Sihir Media Sosial dan Otak yang Pelan Tapi Pasti Menjadi Tumpul

Makan Bergizi Gratis, Tapi Rakyatnya Masuk IGD

Jangan Salahkan Gadget, Tetapi Bangun Kognisi Remaja agar Terbiasa Membaca

Jalan Rusak: Ujian Keseriusan Tata Kelola Infrastruktur Daerah

Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article Turnamen FF, Event Clash Squad 4v4, yang digelar di Warmindo Mayoritas, Semarang, diserbu ratusan peserta. Mode Clash Squad Kian Ngetren, Turnamen FF 4v4 di Warmindo Mayoritas Dipenuhi Peserta
Next Article Ilustrasi mobil diesel dan pesawat terbang. Harga avtur atau BBM untuk pesawat saat ini lebih mahal dari harga solar non-subsidi. (ai) Avtur Lebih Murah dari Harga Solar, Terbang Jadi Lebih Hemat dari Naik Mobil Diesel?

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

RUWATAN - Massa Jateng Guyub meruqyah atau meruwat Kantor Gubernur Jawa Tengah, sebagai simbol tolak bala atas matinya nurani pemerintah.

Massa Jateng Guyub Kantor Gubernur, Tabur Bunga dan Dupa di 8 Penjuru

SIDANG KORUPSI--Enam kades dari Pati jadi saksi sidang terdakwa Sudewo, di Pengadilan Tipikor Semarang, Rabu (22/7/2026). (bae)

Sidang Sudewa Kupas Keterlibatan Anggota hingga Pimpinan DPRD Pati dalam Pengisian Perangkat Desa

Ketua DPD Gerindra Jateng, Sudaryono, resmi ditunjuk sebagai Kepala BGN.

Resmi! Istana Umumkan Sudaryono Jadi Kepala BGN Gantikan Nanik S Deyang

Urgensinya Apa? Puan Sorot Pengiriman 25 Kepala Daerah ke Singapura di Tengah Efisiensi Anggaran

AKSI DAMAI - Petani tembakau dari Temanggung dan sejumlah daerah lain di Indonesia menggelar aksi damai di depan kantor Kemenko PMK, desak pemerintah kaji ulang regulasi tembakau, terutama terkait pembatasan tar dan nikotin.

Desakan Petani Tembakau Menguat, Kemenko PMK Janji Kaji Ulang Aturan Pembatasan Tar dan Nikotin

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

Opini

Pemimpin yang Selalu Butuh Afirmasi

Juli 20, 2026
Opini

Menengok Metode Suzuki, Upaya Menjaga Jarak dari Apropriasi Budaya

Februari 4, 2026
Opini

Iman dan Nilai-Nilai Kemanusiaan di Hadapan Ancaman Akal Imitasi

Juni 8, 2026
Presiden Prabowo Subianto akhirnya resmi menandatangani Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 79 Tahun 2025 tentang Pemutakhiran Rencana Kerja Pemerintah (RKP) Tahun 2025. Dalam Prepres ini, Pemerintah bakal menaikkan gaji Aparatur Sipil Negara (ASN), khususnya buat guru, dosen, tenaga kesehatan, penyuluh, TNI/Polri, dan pejabat negara.
Opini

Naikin Gaji ASN, Prabowo Main Aman atau Efisien?

September 20, 2025

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: Fenomena “Trial by Netizen” dan Krisis Etika di Ruang Digital
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?