BACAAJA, DEMAK – Kenaikan harga bahan baku plastik lagi bikin efek domino ke mana-mana. Harga produk plastik ikut naik, termasuk karung plastik yang banyak dipakai di sektor pertanian dan industri.
Kondisi ini bikin Mandiri Jaya Plastik sebagai distributor karung plastik dari Demak ikut ngeluh. Tekanan dari harga bahan baku yang terus naik bikin mereka harus putar otak biar tetap jalan.
Owner Mandiri Jaya Plastik, Muhamad Nastain, bilang harga bahan baku yang melonjak langsung ngedorong harga karung ikut naik. Bahkan, kenaikannya bisa terjadi cepat dalam hitungan hari.
Bacaaja: Harga Plastik Naik hingga 50 Persen, Pedagang Kecil di Semarang Kelimpungan
Bacaaja: Selat Hormuz Seret, Industri Plastik Dalam Negeri Mulai Panik
“Kenaikan harga bahan baku biji plastik tentu sangat berdampak bagi kami para distributor karung. Karena berbanding lurus dengan harga karung yang selalu naik setiap 3 hari sekali,” ujarnya, Rabu (8/4/2026).
Menurut dia, tren kenaikan ini mulai terasa sejak konflik geopolitik di Timur Tengah memanas. Efeknya merembet ke harga minyak mentah yang jadi bahan dasar plastik.
“Tren kenaikan mulai sejak terjadinya peperangan antara Iran, Amerika, dan Israel. Dan itu berlangsung sampai saat ini,” katanya.
Di lapangan, ada beberapa penyebab harga makin melambung. Mulai dari mahalnya minyak, bahan baku yang langka, sampai pasokan dalam negeri yang terbatas.
Nastain bilang, produsen saat ini banyak bergantung pada suplai dari dalam negeri yang dikuasai beberapa perusahaan besar. Sementara opsi impor belum dibuka lebar.
“Kalau kran impor dari China bisa dibuka, mungkin akan jadi solusi untuk menekan harga di lapangan,” jelasnya.
Kondisi ini makin berat karena permintaan juga lagi tinggi. Musim panen dan pascapanen bikin kebutuhan karung plastik ikut melonjak.
Di sisi lain, produsen nggak langsung tega menaikkan harga tinggi-tinggi. Mereka coba menyesuaikan pelan-pelan sambil menghabiskan stok yang ada.
“Dengan kondisi ini kita masih mencoba beradaptasi menaikan harga secara perlahan. Tapi kalau stok habis, kita juga kesusahan karena harus nombok untuk kulakan lagi,” ungkapnya.
Meski ditahan, kenaikan harga sudah cukup tinggi. Ia menyebut lonjakannya bisa mencapai 80 sampai 100 persen.
Strategi produksi pun ikut berubah. Produsen mulai fokus ke ukuran karung yang cepat laku, sementara yang sepi peminat dikurangi.
Di pasar, reaksi awal pembeli sempat kaget. Banyak yang memilih menunda beli, tapi belakangan justru makin rugi.
“Respon di pasar awal sih kaget, ada yang menunda beli. Tapi makin ke sini, menunda bukan makin murah, malah makin tinggi,” katanya.
Ia berharap pemerintah bisa segera ambil langkah. Salah satunya dengan membuka keran impor bahan baku plastik supaya harga bisa lebih terkendali.
“Harapannya sih buka kran impor biji plastik agar dapat menekan harga biji plastik nasional yang melambung tinggi,” pungkasnya. (bae)


