Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
Reading: Selat Hormuz Seret, Industri Plastik Dalam Negeri Mulai Panik
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
© 2025 Bacaaja.co
Ekonomi

Selat Hormuz Seret, Industri Plastik Dalam Negeri Mulai Panik

Ketua Umum Asosiasi Produsen Plastik Hilir Indonesia, Henry Chevalier, mengungkapkan kalau situasi ini sudah masuk fase mengkhawatirkan, terutama buat industri hilir yang sangat bergantung pada bahan baku impor.

Nugroho P.
Last updated: April 6, 2026 7:41 pm
By Nugroho P.
5 Min Read
Share
ilustrasi pabrik plastik.
SHARE

BACAAJA, JAKARTA – Gejolak global pelan-pelan terasa sampai ke pabrik dalam negeri. Penutupan Selat Hormuz akibat konflik kawasan Timur Tengah kini mulai bikin industri plastik Indonesia ketar-ketir, terutama soal bahan baku yang makin susah dicari.

Dampaknya nggak main-main. Harga bahan baku plastik melonjak tajam, bahkan disebut bisa tembus kenaikan hingga 50 persen. Kondisi ini bikin pelaku usaha harus putar otak supaya tetap bisa jalan di tengah tekanan yang makin berat.

Ketua Umum Asosiasi Produsen Plastik Hilir Indonesia, Henry Chevalier, mengungkapkan kalau situasi ini sudah masuk fase mengkhawatirkan, terutama buat industri hilir yang sangat bergantung pada bahan baku impor.

Menurutnya, gangguan pasokan yang terus berlanjut bisa berdampak langsung ke operasional perusahaan. Kalau produksi mulai tersendat, maka kemampuan perusahaan mempertahankan karyawan juga ikut terancam.

“Arah ke sana sudah mulai terlihat,” kata Henry, menggambarkan indikasi awal potensi pemutusan hubungan kerja di beberapa sektor industri plastik.

Meski belum terjadi secara besar-besaran, tanda-tanda pengurangan tenaga kerja sudah mulai muncul. Beberapa perusahaan disebut masih bertahan karena punya cadangan modal, tapi tidak bisa selamanya menahan tekanan.

Masalahnya bukan cuma harga yang naik, tapi juga ketidakpastian pasokan. Banyak pelaku usaha jadi ragu menerima pesanan baru karena takut tidak bisa memenuhi permintaan akibat bahan baku yang langka.

Situasi makin rumit karena ada kondisi force majeure dari industri hulu di kawasan Timur Tengah. Bahkan, pasokan yang sebelumnya sudah dikontrak bisa tiba-tiba dipangkas hingga setengahnya.

Selain itu, jalur distribusi juga ikut terdampak. Perusahaan asuransi kini enggan menanggung pengiriman yang melewati Selat Hormuz, sehingga banyak pengiriman ditahan demi menghindari risiko.

Efek domino pun terasa ke negara pemasok lain. Negara seperti China, Thailand, dan Vietnam mulai membatasi ekspor dan lebih memprioritaskan kebutuhan domestik mereka sendiri.

Akibatnya, pasokan global makin ketat dan harga makin melambung. Kondisi ini jelas menyulitkan industri dalam negeri yang masih sangat bergantung pada impor.

Kenaikan harga ini juga sudah terasa sampai ke level konsumen. Produk-produk berbahan plastik seperti kemasan makanan, minuman, hingga farmasi mulai ikut naik harga.

Bahkan, barang sederhana seperti kantong plastik juga mengalami lonjakan harga signifikan. Kenaikan ini jadi sinyal bahwa dampak krisis sudah merembet ke kehidupan sehari-hari.

Di sisi lain, daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih membuat situasi jadi makin kompleks. Harga naik, tapi kemampuan beli belum tentu ikut naik.

Kondisi ini berpotensi memicu inflasi yang lebih luas jika tidak segera diatasi. Industri yang tertekan biasanya akan meneruskan kenaikan biaya ke konsumen.

Henry juga menyoroti ketergantungan Indonesia terhadap bahan baku impor yang masih cukup tinggi. Saat ini, industri petrokimia dalam negeri hanya mampu memenuhi sekitar 50 sampai 60 persen kebutuhan.

Artinya, hampir setengah kebutuhan masih harus dipenuhi dari luar negeri. Ketika jalur impor terganggu, dampaknya langsung terasa ke seluruh rantai produksi.

Selain itu, teknologi industri dalam negeri juga masih tertinggal dibanding negara lain. Banyak negara sudah menggunakan bahan baku berbasis gas, sementara Indonesia masih bergantung pada nafta.

Kondisi ini membuat biaya produksi jadi lebih tinggi dan daya saing industri nasional ikut tertekan di pasar global.

Henry pun mendorong pemerintah untuk segera mengambil langkah strategis, terutama melalui kebijakan non-tarif yang bisa membantu menekan biaya produksi.

Menurutnya, kebijakan berbasis tarif seperti kenaikan bea masuk justru bisa memperparah situasi karena menambah beban industri yang sudah tertekan.

Pendekatan non-tarif dinilai lebih fleksibel dan bisa menjaga keseimbangan antara industri hulu dan hilir, sekaligus memperkuat daya tahan sektor manufaktur.

Di tengah ketidakpastian global, pelaku industri berharap ada solusi cepat agar roda produksi tetap berputar dan tidak berujung pada gelombang PHK.

Kalau kondisi ini terus berlarut, bukan cuma industri plastik yang terdampak, tapi juga sektor lain yang bergantung pada produk turunannya.

Krisis di Selat Hormuz ini jadi bukti bahwa gangguan di satu titik dunia bisa langsung terasa sampai ke dapur industri dalam negeri. (*)

You Might Also Like

Rawit Lagi “Pedas”, Pemprov Gelontor Tiga Ton ke 15 Daerah

Inggris Datang, Jateng Pamer Inovasi Hijau dan Potensi Wisata

Luthfi: Pelaku Ekraf Jangan Cuma Viral, Tapi Juga Buka Peluang Kerja

Pemkot Gelar Bazar Ramadan di 177 Kelurahan

Luthfi: Bank Jateng Jangan Cuma Simpan Uang, UMKM Harus Dibikin Naik Kelas

TAGGED:plastikselat hormuz
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article Rangkaian gerbong Kereta Api (KA) Bangunkarta relasi Jombang-Pasarsenen anjlok di Bumiayu, Senin (6/4/20206). Kereta Anjlok di Bumiayu, Dua Rute KA dari Semarang Batal Berangkat
Next Article Pihak pengadilan mengambil sumpah 3 saksi dalam sidang tersakwa AKBP Basuki dala. kasus kematian dosen Levi, Senin (6/4/2026). (bae) Saksi Bongkar Kelakuan AKBP Basuki: Rutin Ninggalin Istri demi Nginap di Kos Teman Wanita

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

PETA KEKERINGAN - Peta monitoring wilayah hari tanpa hujan di Jateng yang dirilis BMKG. (ist)

Jateng Makin Kering, Tiga Wilayah Sudah Lebih 100 Hari Tanpa Hujan

Cinta Qulhu Bikin Allah Sayang, Kata Gus Baha

BREAKING NEWS: Rektor Unsoed Diciduk KPK dalam OTT, Ada Uang Ratusan Juta

Meski Saat Haid, Pahala Ibadah Sholat Perempuan Tetap Bisa Mengalir

Doa Belum Terkabul? Coba Cek Diri Sendiri

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

Ekonomi

Sembiz 2025, Langkah Semarang Nge-boost Investasi

November 19, 2025
Gubernur Jateng Ahmad Luthfi saat mendiskusikan persoalan sumur minyak tua di Jateng bersama SKK Migas Jabanusa, Kamis (11/9/2025). Di Jawa Tengah terdapat sekitar 5.300 sumur minyak tua siap dioptimalkan menjadi “ATM energi” sesuai Permen ESDM No. 14/2025. Pemerintah dan SKK Migas mendorong pengelolaan sumur oleh BUMD, KUD, atau UMKM dengan teknologi tepat guna, demi meningkatkan PAD dan swasembada energi secara aman.. Foto: dok/humas
DaerahEkonomi

5.300 Sumur Minyak di Jateng Siap Balik Jadi ATM Energi

September 11, 2025
Ekonomi

Duo Hartono Masih yang Tertajir

Desember 27, 2025
Ekonomi

Bandara A Yani Semarang Tambah Rute Surabaya, Terbang Makin Praktis Tanpa Ribet Transit!

September 21, 2025

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: Selat Hormuz Seret, Industri Plastik Dalam Negeri Mulai Panik
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?