BACAAJA, SEMARANG- Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng angkat bicara soal jebolnya tanggul Kali Plumbon di Mangkang Kulon, Rabu (4/3/2026) dini hari. Air sempat meluap ke pemukiman warga sebelum akhirnya surut dan menyisakan lumpur.
Menurut Agustina, urusan fisik sungai sebenarnya jadi kewenangan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS). Tapi karena dampaknya dirasakan langsung warga Kota Semarang, Pemkot nggak tinggal diam. “Jam 2 pagi tadi, sekarang sudah tinggal lumpurnya, ya itu sudah dibersihkan,” ujarnya.
Baca juga: 351 KK di Semarang Terendam Banjir, Dampak Tanggul Plumbon Jebol
Artinya, tim langsung turun tangan buat pembersihan dan perbaikan darurat sarana-prasarana warga terdampak. Skemanya? Berbagi tugas. BBWS urus sungainya, Pemkot bantu beresin dampaknya di permukiman.
Agustina juga menyinggung proyek normalisasi Kali Plumbon yang sempat tertunda sejak pandemi Covid-19. Harapannya jelas: kalau anggaran dari pusat sudah siap, perbaikan permanen jangan ditunda lagi.
Tunggu Realisasi
“Mudah-mudahan kalau tahun ini bisa diperbaiki,” katanya. Ia menyebut kehadiran Kementerian PUPR dan BBWS di lokasi jadi sinyal awal, tinggal realisasi anggaran yang ditunggu.
Nggak cuma Mangkang, wilayah Rowosari juga masuk radar perhatian. Secara kontur, kawasan itu lebih rendah seperti mangkok. Kalau debit air naik, potensi genangan lebih besar.
Solusinya? Penguatan tanggul dan penataan ulang struktur. Dari gambar teknis yang dilihat, ada bagian yang dibuat miring dalam prosesnya. Ke depan, Pemkot ingin langkah antisipatif lebih matang.
Baca juga: Banjir Mangkang, Sinyal Riskannya Infrastruktur Semarang
Selain urusan tanggul, Pemkot berencana memperlebar saluran drainase di titik-titik rawan. Tujuannya simpel: air kembali ke “jalurnya”, nggak mampir ke ruang tamu warga. “Karena jalur air itu tetap jalur air,” tegas Agustina.
Buat warga, yang penting bukan cuma lumpur cepat dibersihkan, tapi juga solusi jangka panjang benar-benar kejadian. Soalnya, kalau tiap musim hujan harus siap-siap jadi langganan banjir, bisa jadi yang paling kuat bukan tanggulnya, tapi kesabaran warganya. (tebe)


