Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
Reading: Fenomena Balita Rabun: Mata Minus Datang Lebih Cepat, Negara Datang Terlambat
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
© 2025 Bacaaja.co
Tumbuh

Fenomena Balita Rabun: Mata Minus Datang Lebih Cepat, Negara Datang Terlambat

R. Izra
Last updated: Januari 23, 2026 6:38 pm
By R. Izra
4 Min Read
Share
Ilustrasi anak-anak menjalani pemeriksaan mata.
Ilustrasi anak-anak menjalani pemeriksaan mata.
SHARE

BACAAJA, SEMARANG – Tinggal di kota besar ternyata bukan cuma soal macet dan polusi. Bagi anak-anak, kota juga jadi tempat di mana mata cepat rusak. Bahkan, tak sedikit balita yang telah menderita rabun.

Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia (Perdami) mencatat, 40,5 persen siswa SD di Jakarta mengalami rabun jauh. Angka ini melonjak drastis saat anak naik ke SMP, lebih dari 50 persen.

“Jadi memang tinggi mata minus pada anak di perkotaan,” ujar Ketua Departemen Informasi dan Edukasi Masyarakat Perdami, Kianti Raisa Darusman.

Bacaaja: Urban Parenting dan Mitos “Anak Baik-Baik Saja”
Bacaaja: Hati-Hati! Jaringan Terorisme Sasar Anak-anak Lewat Game Online

Masalah serupa tak hanya terjadi di Jakarta. Surabaya juga mencatat angka tinggi, begitu pula kota-kota besar Asia Tenggara seperti Singapura, Taiwan, dan China.

Secara global, International Agency for the Prevention of Blindness mencatat 165 juta anak mengalami miopia pada 2021, dan jumlahnya diprediksi melonjak menjadi 275 juta anak pada 2050.

Hilangnya ruang bermain dan sekolah fokus pada nilai

Menurut Kianti, lonjakan kasus mata minus tak bisa dilepaskan dari wajah kota yang makin tak ramah anak. Ruang terbuka makin sempit, halaman bermain tergantikan beton dan bangunan.

Anak-anak lebih banyak menghabiskan waktu di dalam ruangan—belajar, bermain, bahkan beristirahat—dengan aktivitas jarak dekat dan minim paparan cahaya matahari.

“Kalau di kota besar seperti Surabaya angkanya tinggi. Tapi kalau agak pinggir, seperti Lamongan atau kota yang tidak terlalu padat, biasanya lebih kecil,” jelas Kianti.

Dokter spesialis mata UGM, Doni Widyandana, menguatkan temuan tersebut. Penelitian menunjukkan anak-anak di kawasan perkotaan memang lebih rentan mengalami rabun jauh.

“Kemarin diteliti memang lebih banyak di perkotaan,” katanya.

Tak hanya gadget, sistem pendidikan juga ikut berkontribusi. Doni menilai sekolah terlalu fokus pada capaian akademik, tapi abai pada kesehatan mata siswa.

“Pendidikan itu idealnya ikut memikirkan kesehatan anak, terutama kesehatan mata,” ujarnya.

Ia menekankan pentingnya aktivitas luar kelas agar anak tidak terus-menerus menatap buku dan layar dalam jarak dekat.

“Harus ada kegiatan luar kelas, supaya mereka tidak terus beraktivitas di jarak dekat,” kata Doni.

Deteksi terlambat

Masalah lain adalah deteksi yang terlambat. Kianti menjelaskan, banyak anak tidak sadar penglihatannya bermasalah sampai skrining kesehatan dilakukan di sekolah.

Di sisi lain, sebagian orang tua menganggap rabun ringan bukan masalah serius. Selama anak masih “bisa melihat”, kacamata sering ditunda.

Padahal, pemeriksaan mata dan kacamata bisa diakses gratis lewat BPJS. Namun stigma masih kuat, kacamata dianggap memalukan atau membuat anak terlihat berbeda.

“Barrier-barrier seperti ini masih sering kami temukan,” kata Kianti.

Anak minim paparan sinar matahari

Ketua Perdami DKI Jakarta, Julie Dewi Barliana, menyebut mata minus kini muncul jauh lebih dini. Bukan lagi anak SD, tapi balita, bahkan usia satu tahun.

Penyebabnya bukan cuma gadget. Anak-anak makin jarang keluar rumah. Minim paparan sinar matahari. Ruang publik menyusut. Kota tidak ramah anak.

“Kalau gadget dikurangi tapi anak tidak pernah keluar rumah, itu sama saja,” tegas Julie.

Artinya, masalah ini bukan sekadar pola asuh, tapi desain kebijakan:

  • kota yang minim ruang bermain
  • sekolah yang makin digital tanpa jeda
  • regulasi gawai yang nyaris nihil
  • dan skrining kesehatan mata yang belum jadi standar nasional.

Bukan masalah sepele

Wakil Menteri Kesehatan Dante Harbuwono menegaskan, gangguan penglihatan bukan masalah sepele. Dampaknya bisa menjalar ke perkembangan kognitif, emosional, dan sosial anak.

“Melalui penglihatan, anak-anak belajar dan berinteraksi dengan lingkungannya,” ujar Dante.

Jika dibiarkan, gangguan penglihatan bisa menurunkan prestasi akademik, membatasi peluang kerja di masa depan, hingga meningkatkan risiko depresi.

Di tengah ambisi menuju Indonesia Emas 2045, satu pertanyaan mengemuka: bagaimana generasi bisa menatap masa depan, jika hari ini saja penglihatannya sudah buram? (*)

You Might Also Like

Awal Tahun Polda Jateng “Oper Gigi”, Enam Pejabat Utama Berganti

Enam Hari Pencarian, Dua Korban Longsor Pemalang Ditemukan

Ada 104 Daerah se-Indonesia yang Naik PBB-nya. Pati Hanya Pemantik

Sabar, UMP-UMK Jateng 2026 Bakal Diketok 24 Desember

Begini Cara Ngecek Daftar Penerima BLT Rp900.000, Buruan Cek Ya!

TAGGED:anak rabunanak-anakbalitaheadlinekesehatan mata anakmata minusmata rabunrabun mata
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article Dirreskrimsus Polda Jateng Kombes Pol Djoko Julianto diwawancara di Kota Semarang, Jumat (23/1/2026). Foto: Eka Setiawan Warga Kalbar Tersangka Penyelundupan Ratusan Ton Bawang Bombai di Semarang
Next Article Ilustrasi perbandingan karyawan SPPG dan guru honorer. Pendidikan Kalah Sama Makan Siang? Guru Honorer Curhat Sulitnya jadi PPPK saat SPPG Diprioritaskan

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

Wali Kota Solo Respati Ardi meninjau TPA Putri Cempo, Senin (11/2/2026).

Respati Turun Gunung ke Putri Cempo Solo, Bawa Alat Berat Buat Beresin Drama Sampah

Keseruan Meet & Greet Densus di SMAN 6 Semarang, Selasa (10/2/2026). Acara seperti ini menjadi langkah penting untuk sosialisasi pencegahan intoleransi dan radikalisme anak-anak di Jawa Tengah.

Bank BJB, Telkomsel, Larissa, hingga Uncle Bao Dukung Bacaaja ‘Meet & Greet Densus’ di SMAN 6 Semarang

Bukan Cuma Kolesterol: CKG Kini Urus Scabies sampai Kusta

Siswa SMAN 6 Semarang, Khansareta Prayunita menjelaskan kesannya ikut Meet & Greet Densus di sekolahnya, Selasa (10/2/2026). (bae)

Pengakuan Siswa SMAN 6 Semarang: Auto Melek Isu Radikalisme Usai Meet & Greet Densus

Mantan Bupati Purworejo, Agus Bastian (batik hijau) dan tiga orang lain bersaksi di sidang korupsi BPR Purworejo, Selasa (10/2/2026). (bae)

Mantan Bupati Purworejo Dicecar Soal BPR saat Jadi Saksi Sidang Korupsi di Semarang

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

Wakil Gubernur Jateng, Taj Yasin. (ist))
Hukum

Gus Yasin Respons OTT KPK Bupati Pati Sudewo: Pelayanan Publik Tetap Jalan

Januari 20, 2026
Daerah

452 Desa Sudah Didampingi, Pemprov Jateng: Nggak Cuma Kota yang Boleh Maju

Desember 17, 2025
Daerah

Kursi Panas Pati Kini di Tangan Chandra, Wagub: Fokus Kerja, Warga Jangan Kena Imbas

Januari 21, 2026
Hukum

Aset Rp510 Miliar Bos Sritex Disita Kejagung

September 12, 2025

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: Fenomena Balita Rabun: Mata Minus Datang Lebih Cepat, Negara Datang Terlambat
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?