BACAAJA, TEMANGGUNG – Dari panggung desa sampai panggung nasional, jaran kepang beneran jadi “kendaraan” yang ngangkat nama Temanggung.
Berkat konsistensinya nguri-uri kesenian tradisional ini, Bupati Temanggung Agus Setyawan resmi masuk nominasi Anugerah Kebudayaan PWI Pusat 2026.
Bupati yang akrab disapa Agus Gondrong itu jadi salah satu dari 10 kepala daerah se-Indonesia yang lolos ke babak final.
Bacaaja: Longsor di Gemawang Temanggung Bikin Jalan Putus Total, Warga Harus Memutar 15 Km
Bacaaja: Taj Yasin: Wayang Nggak Cuma Buat Orang Tua
Next step? Presentasi langsung di depan dewan juri PWI Pusat, alias penentuan hidup-mati siapa yang bakal pulang bawa penghargaan.
Pengumuman nominasi dilakukan pas malam Tahun Baru 2026. Timing-nya pas, vibes-nya dapet. Direktur Anugerah Seni dan Kebudayaan PWI Pusat, Yusuf Susilo Hartono, bilang proses seleksinya enggak main-main.
Proposal yang masuk dicek detail, mulai dari video program, dokumen pemajuan kebudayaan, regulasi daerah, liputan media, sampai dokumentasi foto. Tebalnya? Bukan main—ada yang sampai ratusan halaman.
Biar enggak cuma manis di kertas, para nominator wajib presentasi langsung di PWI Pusat pada 8–9 Januari 2026.
Di sini, kepala daerah diuji: paham enggak sama programnya sendiri, berdampak enggak ke masyarakat, dan sejauh mana inovasinya.
Dewan jurinya juga bukan kaleng-kaleng. Ada Sudjiwo Tejo, Agus Dermawan T, Dr. Nungki Kusumastuti, Akhmad Munir, dan Yusuf Susilo Hartono. Penilaian mencakup isi materi, cara penyampaian, sampai kesiapan pendukung presentasi.
Dari total sepuluh nominasi, tiga di antaranya adalah wali kota, sementara tujuh lainnya bupati. Agus Setyawan bersaing dengan kepala daerah dari Malang, Samarinda, Mataram, Blora, hingga Manokwari.
Anugerah Kebudayaan PWI Pusat 2026 sendiri mengusung tema “Pemajuan Kebudayaan Daerah yang Inklusif dan Berkelanjutan Berbasis Media dan Pers”.
Fokusnya jelas: program budaya yang bukan cuma estetik, tapi juga hidup, relevan, dan berdampak luas.
Penghargaan ini pertama kali digelar pada 2016 dan sudah masuk edisi ke-10. Sejumlah nama besar pernah menerima anugerah ini, mulai dari Dedi Mulyadi, Abdullah Azwar Anas, sampai Eri Cahyadi.
Tahun ini, PWI Pusat juga nambah kategori baru “Wartawan dan Komunitas” buat ngasih panggung ke jurnalis dan pegiat budaya yang konsisten jaga napas kebudayaan daerah.
“Puncak penganugerahan Anugerah Kebudayaan PWI Pusat 2026 akan digelar pada peringatan Hari Pers Nasional di Banten, 9 Februari 2026,” tutur Yusuf.
Dari jaran kepang ke panggung nasional, bukti kalau budaya lokal, kalau dikelola serius, bisa tetap relevan dan naik level. (*)

