BACAAJA, UNGARAN — Di Taman Makam Ratu Damai Girisonta, Bergas, Kabupaten Semarang, tiga petugas sibuk bersihin rumput. Sebuah liang sudah siap.
Gundukan tanah masih di samping makam—nunggu waktunya dipakai. Di sinilah Romo Mudji Sutrisno bakal dimakamkan.
Jenazah Romo Mudji dijadwalkan berangkat dari Jakarta Selasa malam sekitar pukul 22.00 WIB. Diperkirakan sampai Girisonta Rabu (31/12/2025) dini hari, sekitar jam 03.00 WIB.
Bacaaja: Rohaniawan Lintas Iman dan Budayawan Sejati Itu Telah Pergi, Romo Mudji Sutrisno Wafat
“Setelah sampai langsung disemayamkan di gereja, lalu dimakamkan,” kata Heru Purwanto, Kepala Keamanan Girisonta, Selasa (30/12/2025).
Diantar kereta, pelan tapi penuh makna
Pemakaman akan dilakukan setelah ibadah Ekaristi pukul 10.00 WIB. Jenazah Romo Mudji bakal diantar dari gereja ke makam sejauh kurang lebih 100 meter. Uniknya, prosesi ini pakai kereta dorong.
Kereta itu akan didorong delapan orang. Pelan. Hening. Tanpa ribut. Tanpa drama.
“Semua romo yang wafat di sini diantar pakai kereta. Ini tradisi dan bentuk penghormatan terakhir,” ujar Heru.
Peziarah nanti bisa berdiri di pinggir jalur yang dilewati kereta. Menyaksikan kepergian seorang tokoh yang sepanjang hidupnya lebih sering bicara lewat gagasan daripada sorotan.
Karena lahan terbatas, makam di Girisonta menggunakan sistem ditumpuk. Tapi tetap ada aturannya—jenazah baru boleh ditumpuk setelah minimal 100 hari. Untuk Romo Mudji, posisinya nanti ada di bagian bawah.
Sederhana. Tenang. Konsisten dengan cara hidupnya.
Meski begitu, Girisonta bersiap kedatangan banyak pelayat. Romo Mudji dikenal punya jaringan luas, lintas iman dan lintas generasi. Keluarganya juga banyak yang tinggal di Jawa Tengah, dari Klaten sampai Temanggung.
Seorang Romo pemikir
Romo Mudji Sutrisno wafat pada 28 Desember 2025 di Jakarta, dalam usia 71 tahun. Ia lahir di Solo, 12 Agustus 1954.
Semasa hidup, Romo Mudji dikenal bukan cuma sebagai rohaniwan, tapi juga filsuf, profesor, dan pemikir sosial-budaya. Ia lulusan Universitas Gregoriana, Italia, dan sampai akhir hayat mengajar di STF Driyarkara, Jakarta.
Gayanya kalem. Tapi isinya dalem. Gak banyak teriak, tapi pikirannya nyampe.
Dan sekarang, di bawah langit Girisonta yang mendung, Romo Mudji benar-benar pulang.
Tenang. Tanpa gaduh. Seperti caranya hidup selama ini. (*)

