BACAAJA, BANJARNEGARA – Hujan belum juga reda, dan tanah di dua kecamatan Banjarnegara kembali menunjukkan tanda-tanda tak tenang. Pejawaran dan Pagentan kini jadi fokus utama BPBD Banjarnegara yang terus siaga memantau gerakan tanah di beberapa titik rawan.
Sejak 29 Oktober 2025, status tanggap darurat sudah ditetapkan. Aktivitas tanah yang terus bergerak bikin warga di dua wilayah itu tak bisa sepenuhnya tenang, apalagi tiap kali awan gelap datang membawa hujan deras.
Analis Kebencanaan BPBD Banjarnegara, Junaedi, bilang penanganan besar-besaran baru bisa dilakukan saat musim kemarau. Untuk sekarang, prioritasnya adalah memastikan tidak ada korban jiwa.
“Kalau hujan masih terus turun, kami fokus di langkah antisipasi dulu. Terpal dan logistik sudah dikirim, dan warga yang ngungsi juga terus dipantau,” kata Junaedi saat ditemui di lokasi pemantauan, Senin (3/11/2025).
Selain bantuan darurat, pemerintah juga lagi nyiapin upaya penguatan lahan dengan bronjong dan kemungkinan relokasi warga kalau situasi makin parah. Tapi semua itu, kata Junaedi, butuh anggaran besar dan waktu panjang.
Untuk sementara, BPBD minta warga tetap siaga penuh. Camat, kepala desa, dan perangkat desa diminta rutin patroli, terutama kalau hujan turun tanpa henti.
“Khusus warga di Desa Penusupan, Ratamba, dan Karekan, kami imbau jangan tidur saat hujan deras. Amati lingkungan sekitar. Kalau rumahnya sudah miring atau retak, mending ngungsi dulu aja,” tegas Junaedi.
Dari laporan di lapangan, di Pagentan muncul titik baru pergerakan tanah di Desa Karanggondang. Satu rumah rusak berat, tiga rumah rusak sedang, dan penghuninya terpaksa mengungsi ke rumah kerabat.
“Totalnya sekitar 30 rumah terdampak, termasuk kantor desa dan gedung TPQ. Rumah kepala desa pun retak dan miring, jadi beliau juga harus ngungsi kalau hujan deras,” ujar Junaedi.
Bukan cuma itu, di Desa Ratamba, kondisi makin rumit karena drainase yang buruk dan adanya sesar aktif yang jadi biang utama gerakan tanah berulang.
“Jalan provinsi di sana juga rusak, patah dan terangkat dari konstruksi. Badan Geologi bahkan merekomendasikan relokasi karena posisinya pas di atas sesar aktif,” lanjutnya.
Meski sebagian warga masih lewat jalan itu, risiko tetap tinggi. Kalau sesar kembali bergerak, semua upaya perbaikan bisa jadi sia-sia.
Bagi BPBD Banjarnegara, musim hujan kali ini bukan cuma soal cuaca, tapi juga soal kesiapan mental warga menghadapi ancaman tanah bergerak. Karena, kata Junaedi, “Waspada lebih murah dari menyesal.” (*)

