BACAAJA, SEMARANG – Makan Bergizi Gratis (MBG) emang idaman, apalagi buat pelajar. Tapi apa jadinya kalo menu makan bergizi gratis justru bikin murid-murid tumbang barengan?
Yep, sepanjang Mei sampai pertengahan September 2025, kasus keracunan massal akibat MBG meledak di mana-mana.
Gak cuma satu atau dua orang, tapi ratusan siswa dari berbagai daerah jadi korban.
Bahkan, Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) merilis data, sejak awal tahun hingga pertengahan September 2025 ini, total sedikitnya 5.360 anak jadi korban keracunan MBG.
Berikut 10 kasus keracunan MBG terbaru dari berbagai daerah, dalam rentang waktu Mei hingga pertengahan September 2025, versi Bacaja.co.
1. 📌 Awal Mei 2025 di Bogor, Jabar.
210 siswa dari 8 sekolah tumbang barengan.
Gejalanya: mual, muntah, dan diare.
Pemerintah langsung ngeset ini sebagai KLB alias Kejadian Luar Biasa. Bukan kaleng-kaleng!
2. 📌 5 Mei 2025 di Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir, (PALI), Sumatera Selatan.
121 siswa dari PAUD sampe SMA tepar setelah makan MBG.
Gejalanya: mual, pusing, muntah. Program MBG di-stop dulu di sana biar gak makin kacau.
3. 📌 Pertengahan Mei 2025 di Kupang, NTT.
Lebih dari 100 siswa SMP Negeri 8 kena gejala mirip.
Banyak yang masuk RS. Untungnya, rumah sakit tanggap dan cepet gerak.
4. 📌 11–14 Agustus 2025 di Sragen, Jateng.
365 orang (siswa, guru, warga sekitar) keracunan massal. Gejalanya? Masih itu-itu lagi: muntah, mual, diare. Sragen langsung hentiin semua distribusi MBG. Posko medis dibuka 24 jam. Serius banget, bro!
5. 📌 27–28 Agustus 2025 di Kabupaten Lebong, Bengkulu.
456 siswa (dari TK sampe MTs) keracunan.
RSUD Lebong sampe kehabisan ranjang!
Suasana: chaotic. Tapi untungnya semua korban ditangani.
6. 📌 15 September 2025 di Gunung Kidul, DIY.
19 siswa keracunan MBG. Skalanya kecil, tapi tetep aja bikin parno satu sekolah.
7. 📌 di 17 September 2025 Banggai Kepulauan, Sulteng.
251 siswa dilarikan ke RS. Beberapa sampe kejang-kejang. Gak main-main, cuy!
8. 📌 18 September 2025 di Garut, Jabar.
150 pelajar keracunan. 14 di antaranya harus dirawat intensif.
9. 📌 18 September 2025 di Sumbawa, NTB.
Ratusan siswa dari berbagai sekolah dibawa ke Puskesmas. Ceritanya sama: makan MBG, bukannya tambah sehat malah keracunan.
10. 📌 18 September 2025 di Baubau, Sultra.
37 siswa jadi korban. Mereka harus dirawat intensif setelah makan siang MBG. Beneran “makan bergizi”, atau makan “berisiko gratis”?
JPPI: 5.360 anak jadi korban keracunan
Baru-baru ini, Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPPI) nge-drop fakta yang bikin geleng-geleng kepala. Sampai pertengahan September 2025, udah ada 5.360 siswa yang keracunan gara-gara makan MBG.
Dan itu baru yang ketahuan. Kata mereka, kemungkinan jumlah aslinya lebih banyak. Soalnya banyak sekolah atau pemda milih bungkam biar gak viral.
“Banyak yang nutupin kasus. Harusnya dilaporin dong, ini soal nyawa,” kata Ubaid Matraji, Koordinator Nasional JPPI.
JPPI gak main-main. Mereka bilang ini bukan lagi kesalahan teknis, kayak “oh mungkin ayamnya basi” atau “nasi kepanasan di box.”
“Kalau cuma sekali, bisa dibilang kesalahan teknis. Tapi ribuan anak, di banyak tempat? Itu namanya gagal sistem,” tegas Ubaid.
JPPI juga blak-blakan bilang, kalau sistemnya gak dibenahi, MBG bisa jadi ancaman. Bukan lagi program perbaikan gizi, malah bisa jadi ancaman kesehatan untuk anak-anak.
“Ini udah bukan program bantuan. Ini malah jadi ancaman buat anak-anak sekolah.”
Karena makin banyak korban, JPPI sekarang minta Presiden Prabowo buat hentikan sementara program MBG, evaluasi total sistem & pengelolaan makanan, utamain keselamatan anak-anak, bukan pencitraan politik.
“Kami gak tega lihat anak-anak harus berjuang di rumah sakit, cuma karena makan siang,” kata JPPI.
Mungkin lo ada yang berpikir. Ah, paling keracunannya ringan, gak separah itu.
Faktanya, mereka ada yang sampai kejang-kejang, ada sekolah yang ratusan siswanya keracunan barengan, rumah sakit sampe kekurangan ranjang buat rawat korban.
Dan ini kejadian bukan sekali-dua kali, tapi sering berulang.
JPPI gak bilang program MBG harus dihentikan selamanya. Tapi please, kalo sistemnya masih berantakan, pause dulu, perbaiki, baru jalan lagi.
Makan gratis itu hak. Tapi nyawa anak-anak? Gak bisa diganti. (*)


