BACAAJA, JAKARTA – Rencana kebijakan WFH sehari setelah Lebaran yang diumumkan pemerintah lewat Airlangga Hartarto langsung jadi bahan obrolan hangat, bukan cuma di kalangan ASN tapi juga pelaku usaha. Banyak yang mulai ngitung-ngitung dampaknya ke aktivitas harian dan perputaran ekonomi. Soalnya, perubahan pola kerja sekecil apa pun bisa bikin efek domino ke berbagai sektor.
Dari sisi dunia usaha, suara paling kencang datang dari Kamar Dagang dan Industri Indonesia. Lewat perwakilannya, Sarman Simanjorang, mereka menilai kebijakan ini berpotensi bikin konsumsi rumah tangga jadi agak seret. Padahal konsumsi itu salah satu mesin utama penggerak ekonomi.
Sarman bilang, sektor transportasi bakal jadi yang pertama kena imbas. Kalau orang lebih sering kerja dari rumah, otomatis mobilitas turun dan penumpang juga ikut berkurang. Ujung-ujungnya, pendapatan di sektor ini bisa ikut terkoreksi.
Nggak cuma itu, pelaku UMKM yang biasa jualan di area perkantoran juga bisa ikut terdampak. Pedagang makanan, minuman, sampai jajanan ringan yang ngandelin karyawan kantor bakal kehilangan pasar. Kondisi ini bikin omzet mereka rawan turun, apalagi kalau terjadi secara rutin tiap minggu.
Kekhawatiran makin terasa karena masuk kuartal II 2026, nggak ada lagi momen besar yang biasanya ngedorong belanja masyarakat. Berbeda dengan awal tahun yang penuh event seperti Imlek dan Lebaran, periode berikutnya cenderung lebih sepi. Jadi kalau konsumsi ikut melemah, pertumbuhan ekonomi bisa kena imbas.
Sarman juga menyoroti bahwa nggak semua sektor bisa ikut skema WFH ini. Bidang pelayanan seperti mal, hotel, restoran, transportasi, hingga kesehatan tetap harus jalan normal. Artinya, kebijakan ini terasa nggak merata dampaknya di lapangan.
Di sisi lain, pemerintah punya alasan sendiri kenapa kebijakan ini tetap dijalankan. Salah satunya adalah untuk efisiensi energi di tengah harga minyak dunia yang lagi naik. Dengan mengurangi mobilitas, konsumsi BBM diharapkan bisa ditekan.
Bahkan, perhitungan dari pemerintah menyebut WFH sehari bisa menghemat hingga sekitar 20 persen penggunaan BBM. Angka ini dianggap cukup signifikan untuk membantu pengeluaran negara. Jadi, ada sisi penghematan yang jadi pertimbangan utama.
Meski begitu, pemerintah tetap kasih batasan biar produktivitas nggak ikut turun. WFH cuma diberlakukan sehari dalam seminggu supaya kerjaan tetap jalan normal. Skema ini juga diharapkan jadi jalan tengah antara fleksibilitas kerja dan stabilitas ekonomi.
Menariknya lagi, kalau WFH jatuh di hari Jumat, otomatis bakal tercipta long weekend tiga hari. Pemerintah berharap efek ini bisa sedikit menggerakkan sektor pariwisata dan aktivitas keluarga. Jadi walau ada kekhawatiran dari pelaku usaha, kebijakan ini tetap dipasang dengan harapan ada efek positif di sisi lain. (*)


