BACAAJA – TikTok lagi kena badai besar di Amerika Serikat. Setelah operasionalnya resmi pindah ke entitas baru berbasis AS, banyak pengguna langsung ambil langkah ekstrem: hapus aplikasi.
Aksi uninstall massal ini bukan tanpa alasan. Banyak pengguna mulai nggak percaya sama manajemen TikTok yang baru, apalagi setelah muncul kabar kalau pengendalinya punya hubungan dekat dengan Presiden AS Donald Trump.
Salah satu nama yang bikin publik makin waswas adalah Oracle. Perusahaan ini disebut ikut terlibat dalam entitas baru TikTok, sementara pendirinya, Larry Ellison, dikenal sebagai sekutu politik Trump. Dari sini, kecurigaan publik langsung meledak.
Bacaaja: Bikin Greget! Ada Drama Aplikasi Wajib di Ponsel Baru India
Di media sosial, warganet ramai membahas perubahan kebijakan TikTok pasca divestasi ByteDance. Isinya bikin banyak orang mikir dua kali buat tetap pakai aplikasi ini. Mulai dari kemungkinan pengumpulan data sensitif, seperti ras, etnis, hingga orientasi seksual, sampai informasi kewarganegaraan, status imigrasi, dan keuangan.
Memang, poin-poin kebijakan itu sebenarnya bukan hal baru. Versi serupa sudah ada sejak 2024. Tapi masalahnya, kebijakan lama itu viral di momen yang salah—tepat saat TikTok berada di bawah kendali perusahaan baru yang dianggap “satu kubu” dengan Trump.
Hasilnya? Sentimen publik langsung negatif.
Bacaaja: Infinix Note 60: HP Murah Gak Bikin Kamu Tersesat, Bisa Nyambung Satelit Anti-Lost Contact!
Situasi makin panas setelah muncul dugaan TikTok mulai membatasi konten yang kritis terhadap Trump dan kebijakan imigrasi AS. Meski TikTok membantah dan menyebut gangguan algoritma disebabkan pemadaman listrik di salah satu pusat data, banyak pengguna terlanjur nggak percaya.
Dampaknya langsung kelihatan. Menurut firma riset Sensor Tower, jumlah pengguna yang menghapus TikTok melonjak 150 persen dibandingkan rata-rata tiga bulan sebelumnya.
Di saat yang sama, eksodus dari TikTok justru bikin aplikasi lain panen durian runtuh. Aplikasi media sosial baru bernama UpScrolled mendadak naik daun dan langsung jadi aplikasi gratis nomor satu di Apple App Store, ngalahin nama-nama besar seperti ChatGPT, Threads, dan Google Gemini.
Sementara itu, TikTok justru melorot jauh ke posisi 27. Mencerminkan penurunan tajam minat publik terhadap TikTok.
Pendiri UpScrolled, Issam Hijazi, mengklaim jumlah pengguna aplikasinya tembus 1 juta orang hanya dalam hitungan hari. UpScrolled memposisikan diri sebagai platform bebas sensor dan anti “shadowban”, sekaligus menyindir platform besar yang dinilai suka membungkam suara pengguna lewat algoritma.
Fenomena ini menunjukkan satu hal: bagi banyak pengguna, kedekatan TikTok dengan kekuasaan politik apalagi Trump jadi red flag besar. Dan ketika kepercayaan hilang, satu klik “hapus aplikasi” terasa jadi keputusan paling logis. (*)


