Hidar Amaruddin, dosen FIP Universitas Nahdlatul Ulama Yogyakarta.
Dari paparan gawai dan internet, anak membawa pulang gaya bicara, cara mengejek, cara bercanda, bahkan cara mengucilkan kawan-kawannya sendiri.
Di lampu merah Jalan Kaliurang, seorang ayah mengangkat telepon sambil menahan klakson dari belakang. Anak kelas lima di kursi samping menatap layar, tertawa pelan, lalu cepat-cepat menyembunyikan chat ketika ayahnya menoleh.
“Sekolah aman?” tanya si ayah, pendek, seperti orang mengecek pintu rumah sebelum pergi.
“Aman,” jawabnya. Mobil jalan lagi, obrolan selesai, dan notifikasi dari grup WA kelas masuk bertubi-tubi.
Di kehidupan kota, “anak baik-baik saja” sering berarti satu hal: anak tidak mengganggu jadwal orang dewasa. Tidak rewel, tidak bikin laporan, tidak memancing panggilan dari wali kelas. Padahal yang tidak mengganggu belum tentu benar-benar baik.
Ritme kehidupan masyarakat urban membuat kita terbiasa mengukur baik dan buruk dari indikator yang disederhanakan. Nilai aman, tidak berantem di sekolah, pulang langsung ikut les, lalu anteng bermain di rumah.
Orang tua bukan tidak sayang kepada anaknya. Yang terjadi justru sebaliknya. Rasa sayang orang tuanya habis untuk bertahan menanggung beban hidup: berangkat pagi, macet, pulang sore, masih harus mikir uang sekolah dan cicilan. Anak yang “tidak bikin repot” terasa seperti hadiah kecil di tengah hari yang rumit dan melelahkan.
Masalahnya, “luka” yang anak alami justru jarang datang dalam bentuk yang eksplisit dan kasat mata. Kemunculan “luka” pada anak justru muncul pelan-pelan berupa perubahan sikap yang halus: anak cepat tersulut emosi, sinis kalau dinasihati, semakin sulit minta maaf, atau sebaliknya makin diam dan memilih menjauh dari pergaulan.
Guru-guru SD sering bilang begini: anak yang paling “aman” di kelas kadang paling sulit dibaca. Tidak mengganggu, tapi juga tidak benar-benar hadir. Kepala sekolah mungkin menyebutnya “tidak ada catatan”, dan itu terdengar melegakan. Namun, catatan yang kosong tidak selalu berarti anak itu memiliki ruang batin yang baik-baik saja.
Menyitir ucapan Ki Hadjar Dewantara, pengasuhan anak itu kerja tiga sentra: rumah, sekolah, dan lingkungan. Hari ini, lingkungan itu ikut ditarik ke dalam dunia layar gawai, dan dampaknya menyebar ke mana-mana, bahkan saat orang tua merasa sudah “mengawasi” anak-anaknya. Dari paparan gawai dan internet, anak membawa pulang gaya bicara, cara mengejek, cara bercanda, bahkan cara mengucilkan kawan-kawannya sendiri.
Di rumah, kita menilai aman anak-anak kita karena mereka diam. Di sekolah, kita menilai aman karena anak tidak berkelahi. Di layar, standar aman itu bisa berubah dari yang kita duga: siapa yang lucu, siapa yang pantas ditertawakan, siapa yang harus disingkirkan.
Dalam istilah Pierre Bourdieu, kota pelan-pelan membentuk habitus manusia. Cara kita menentukan “kenormalan” anak juga turut ditentukan. Maka “anak baik-baik saja” kadang sekadar keluarga terlihat beres, sementara yang beres itu sangat mungkin hanya di permukaan belaka.
Upaya yang bisa dilakukan bukan solusi pragmatis, tapi kebiasaan kecil yang konsisten. Pertama, dibandingkan bertanya “aman?”, cobalah untuk berkata “hari ini kamu paling kesal sama apa?”. Dua menit saja, tapi memberi pintu untuk mencurahkan emosi si anak. Beri ruang mereka untuk bercerita.
Kedua, cek pergaulan mereka lewat cerita, bukan interogasi. “Lagi dekat sama siapa?” dan “kalau ada yang bikin kamu tidak nyaman, kamu biasanya ngapain?”. Lewat percakapan dengan anak, orang tua bisa memetakan karakter pergaulan mereka.
Ketiga, sepakati jatah jam bermain gawai yang masuk akal untuk anak-anak. Upayakan ada pedampingan di momen-momen tertentu. Tidak tiap saat. Cukup satu waktu tetapi rutin, agar orang tua tidak selalu terlambat membaca situasi yang sebenarnya terjadi pada anak.
Kadang anak tampak seolah baik-baik saja. Tetapi di dalam kehidupan masyarakat kota, sesuatu yang sering kali tampak baik-baik saja justru yang paling tidak terbaca.(*)
*Tulisan dari penulis esai dan artikel tidak mewakili pandangan dari redaksi. Hal-hal yang mengandung konsekuensi hukum di luar tanggung jawab redaksi.


