BACAAJA, NGAWI – Di tengah zaman yang serba digital, ketika banyak orang lebih hafal tren media sosial ketimbang sejarah daerahnya sendiri, Ngawi punya cara untuk menjaga ingatan tentang masa lalu. Bukan lewat unggahan nostalgia, melainkan melalui Slametan Plangkan Agung Piyandel Pusaka Kabupaten Ngawi.
Tradisi yang digelar di Pendopo Wedya Graha, belum lama ini dihadiri Wakil Bupati Ngawi dr Dwi Rianto Jatmiko yang akrab disapa Mas Antok. Dirinya mengapresiasi masyarakat dan seluruh pihak yang masih konsisten merawat warisan budaya leluhur.
Bagi Mas Antok, melestarikan pusaka bukan sekadar urusan menjaga benda kuno agar tetap utuh. Ada sejarah, nilai kehidupan, dan identitas masyarakat yang ikut dititipkan di dalamnya.
Baca juga: Sekda Mokh Sodiq Pimpin Korpri Ngawi
“Pelestarian tradisi ini bukan sekadar merawat benda pusaka, tetapi juga menjaga nilai-nilai sejarah dan identitas kultural masyarakat Ngawi agar terus hidup di tengah kemajuan zaman,” ujarnya.
Pesan itu bukan tanpa alasan. Dalam tradisi tersebut, pusaka piyandel Kabupaten Ngawi menjadi pusat perhatian. Prosesi utama ditandai dengan pemindahan Tombak Kyai Singkir, Tombak Songgo Langit, serta songsong atau payung pusaka.
Rangkaian Ritual
Para pemangku adat bersama perwakilan perangkat daerah mengikuti rangkaian ritual dengan khidmat. Tidak ada kesan terburu-buru. Setiap tahapan menjadi bagian dari penghormatan terhadap warisan budaya yang telah melewati perjalanan panjang.
Acara kemudian ditutup dengan pemotongan tumpeng dan doa bersama. Selain sebagai ungkapan rasa syukur, prosesi itu juga menjadi permohonan keselamatan dan keberkahan bagi masyarakat serta Pemerintah Kabupaten Ngawi.
Pemkab Ngawi berharap tradisi semacam ini terus hidup dan tidak berhenti sebagai agenda tahunan. Kearifan lokal dan nilai spiritual sejarah diharapkan tetap menjadi fondasi dalam menjaga jati diri daerah, sekalipun modernisasi terus melaju.
Baca juga: Bupati Ngawi Ingatkan Akreditasi RSUD Jangan Cuma Kejar Sertifikat
Sebab, daerah yang sibuk mengejar masa depan tetapi lupa merawat sejarahnya berisiko kehilangan arah. Pusaka memang bisa disimpan di tempat khusus, tetapi nilai-nilai yang menyertainya harus tetap hidup dalam keseharian masyarakat.
Jangan sampai tombaknya dirawat, payung pusakanya dijaga, tumpengnya dipotong, tetapi nilai luhur yang diwariskan justru tercecer entah ke mana. Jangan-jangan yang paling perlu dilestarikan bukan cuma pusakanya, melainkan juga kesadaran untuk tidak melupakan asal-usul sendiri. (tebe)

