Harga kedelai impor terus merangkak naik sejak awal 2026. Akibatnya, banyak produsen tempe mulai pusing mikirin biaya produksi yang makin berat.
Salah satunya dirasakan Adip Muharam, pengusaha tempe rumahan di kawasan Pandean Lamper, Gayamsari, Semarang.
Menurut Adip, mayoritas bahan baku tempe yang dipakai saat ini masih bergantung pada kedelai impor. Jadi ketika dolar AS makin mahal dan rupiah melemah, harga kedelai otomatis ikut melonjak.
“Kalau bisa ya pemerintah itu ditekanlah dolarnya itu,” kata Adip saat ditemui di rumah produksinya, Selasa (19/5/2026).
Ia mengaku kondisi sekarang cukup memberatkan pelaku usaha kecil seperti dirinya. Soalnya kenaikan harga bahan baku terjadi terus-menerus sementara daya beli masyarakat belum tentu ikut naik.
Buat pengusaha tempe skala rumahan, situasi seperti ini bikin serba salah.
Kalau harga tempe dinaikkan, takut pembeli kabur. Tapi kalau dipertahankan, keuntungan makin tipis bahkan bisa nombok.
Adip bilang para produsen sekarang benar-benar bergantung pada kondisi impor karena pasokan kedelai lokal masih belum mencukupi kebutuhan pasar.
“Kita produsen juga bergantung sama impor,” lanjutnya. (*)

