Analis MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana atau yang akrab disapa Didit, mengatakan tekanan terhadap IHSG memang masih sangat besar.
Menurutnya, koreksi pasar belum selesai dan investor masih dibayangi berbagai sentimen negatif.
“Pergerakan IHSG di mana kecenderungan koreksi masih cukup besar,” ujarnya.
Meski sentimen luar seperti konflik geopolitik Timur Tengah dan lonjakan harga minyak dunia ikut memicu tekanan pasar, investor justru mulai lebih sensitif terhadap kondisi dalam negeri.
Salah satu yang paling terasa adalah pelemahan rupiah yang kini sudah menyentuh level Rp 17.600 per dolar AS. Buat pasar, rupiah yang terus melemah bukan cuma soal kurs. Itu dianggap sinyal bahwa tekanan ekonomi domestik makin berat.
Ketika mata uang tertekan, biaya impor naik, industri mulai terganggu, ancaman PHK muncul, dan daya beli masyarakat ikut melemah. Semua itu akhirnya menciptakan ketakutan baru di pasar saham.
Pengamat pasar modal Reydi Octa menyebut kondisi pasar saat ini sedang berada dalam mode risk-off alias investor memilih menjauh dari aset berisiko.
Menurutnya, tekanan jual asing terhadap saham-saham besar makin memperparah kondisi IHSG. Yang bikin pasar makin khawatir adalah kombinasi berbagai masalah yang datang hampir bersamaan.
Mulai dari rupiah yang melemah, aliran dana asing keluar, sampai kepercayaan investor global terhadap struktur pasar Indonesia yang mulai dipertanyakan.

