BACAAJA, SEMARANG- Deretan PLTU batu bara di Jateng kembali jadi sorotan setelah disebut masuk daftar pembangkit paling berbahaya versi pegiat lingkungan dan energi.
Juru Kampanye Energi Fossil Trend Asia, Novita Indri Pratiwi menyebut, ada sekitar 20 PLTU batu bara di Indonesia yang dinilai paling berisiko terhadap kesehatan dan lingkungan.
Dari daftar itu, Jateng jadi salah satu provinsi dengan jumlah PLTU terbanyak. Beberapa di antaranya yakni PLTU Tanjung Jati B, PLTU Rembang, PLTU Cilacap, PLTU Adipala, hingga PLTU Jateng.
Baca juga: Limbah PLTU Disulap Jadi Paving Premium, Warga Binaan Ikut Cuan
Menurut Novi, selama ini batu bara selalu dipromosikan sebagai sumber listrik murah. Namun biaya besar akibat dampak kesehatan dan kerusakan lingkungan justru tidak pernah benar-benar dihitung secara utuh.
“Dibilang murah, tapi kerusakan di hulunya, transportasinya, sampai pembakaran di hilir tidak pernah dimasukkan dalam hitungan ekonomi,” katanya dalam sebuah diskusi, Sabtu (16/5/2026).
Dampak Polusi
Data yang dipaparkan cukup bikin geleng kepala. Polusi udara dari PLTU disebut berkaitan dengan sekitar 156 ribu kasus kematian dini. Bahkan setiap tahun diperkirakan ada sekitar 9.010 orang meninggal lebih cepat akibat dampak polusi udara dari pembakaran batu bara.
Tak cuma urusan kesehatan, kerugian ekonomi dan biaya pengobatan akibat polusi disebut mencapai Rp 1.813 triliun. Sementara potensi kehilangan pendapatan masyarakat diperkirakan menyentuh Rp 48,4 triliun per tahun.
Baca juga: Bukan Paru-paru Dunia, Asia Tenggara Penyumbang Emisi Gas Rumah Kaca Terbesar
Di sisi lain, wilayah Pantura Jawa juga mulai menghadapi ancaman rob dan penurunan muka tanah yang makin terasa dari tahun ke tahun.
Ironisnya, saat air laut makin sering masuk ke daratan, cerobong PLTU masih terus mengepul setiap hari tanpa henti. “Ya memang murah, tapi dampak dan implikasinya terhadap lingkungan besar,” imbuhnya.
Karena kadang yang terlihat murah di tagihan listrik, ternyata mahal di udara yang dihirup dan biaya rumah sakit yang harus dibayar diam-diam. (bae)

