BACAAJA, PULAU PINANG – Ada cara berbeda yang dilakukan Tim Penelitian Kolaborasi Internasional Indonesia-Malaysia dari UIN Walisongo Semarang dalam memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. Mereka tidak hanya berkumpul dalam forum seremonial, tetapi memilih menyusuri alam sekaligus berdialog tentang bagaimana nilai-nilai Islam diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Kegiatan tersebut berlangsung di Pulau Pinang, Malaysia, Senin (24/8/2026), dengan melibatkan Mokh Syaroni, Thiyas Tono Taufiq, Royanulloh, dan Muhammad Yusuf Pratama.
Rangkaian kegiatan dimulai dari kawasan Bukit Jambul. Tim melakukan pendakian sekaligus tadabbur alam. Perjalanan tersebut menjadi kesempatan untuk berhenti sejenak dari aktivitas akademik dan merefleksikan kembali nilai keteladanan Rasulullah melalui interaksi dengan alam.
Bacaaja: Maulid dan Maulud, Apa Bedanya Menurut Quraish Shihab?
Bacaaja: Surat Siswa Kudus Viral, Tolak MBG Demi Guru Heboh
Dari Bukit Jambul, kegiatan berlanjut ke Pantai Tanjung Asam, Bayan Lepas. Di tempat ini, suasana peringatan Maulid Nabi berubah menjadi ruang diskusi yang lebih serius. Tim peneliti berdialog dengan Cikgu Hani, salah seorang pengajar di lingkungan pendidikan ABIM yang mengajar di Madrasah Uthmaniyah.
Topik yang dibahas pun dekat dengan kehidupan sehari-hari, yakni bagaimana moderasi Islam dan nilai Malaysia Madani diterapkan dalam pendidikan serta kehidupan masyarakat Muslim.
Cikgu Hani mengatakan, Malaysia Madani tidak semestinya hanya dipahami sebagai gagasan di tingkat negara. Nilai-nilainya justru perlu hadir dalam proses pendidikan dan pembentukan karakter anak sejak dini.
“Bagi kami di Madrasah Uthmaniyah, Malaysia Madani cuba diterapkan melalui pendidikan yang membentuk insan secara menyeluruh. Bukan sekadar pencapaian akademik, tetapi juga adab, akhlak, rasa hormat terhadap perbezaan dan tanggungjawab kepada masyarakat,” ujarnya, Kamis (27/8/2026).
Menurutnya, pendidikan tidak cukup hanya mengejar prestasi akademik. Anak-anak juga perlu dibekali kemampuan untuk menghormati perbedaan dan hidup bersama masyarakat yang beragam.
Dengan cara itu, pemahaman agama tidak berhenti pada persoalan teks, tetapi dapat diterjemahkan secara bijaksana dalam kehidupan sosial.
Bagi tim peneliti UIN Walisongo, pengalaman tersebut menjadi bagian penting dalam penelitian kolaborasi Indonesia-Malaysia mengenai moderasi Islam. Sebab, konsep moderasi akan lebih mudah dipahami ketika dilihat dari praktik pendidikan dan kehidupan masyarakat secara langsung.
Thiyas Tono Taufiq mengatakan, semangat tersebut juga selaras dengan makna peringatan Maulid Nabi. Menurutnya, Maulid bukan sekadar mengingat sejarah kelahiran Rasulullah, tetapi menjadi kesempatan untuk menghadirkan kembali keteladanan beliau dalam kehidupan saat ini.
“Maulid Nabi bukan hanya tentang mengingat kelahiran Rasulullah, tetapi juga menghadirkan kembali nilai-nilai keteladanan beliau dalam kehidupan,” kata Thiyas.
Ia menilai, moderasi Islam juga membutuhkan kemampuan untuk membaca realitas, menghargai perbedaan, dan menjaga keseimbangan dalam kehidupan bermasyarakat.
“Melalui tadabbur alam dan dialog bersama masyarakat Muslim Malaysia, kami belajar bahwa moderasi juga membutuhkan kemampuan membaca realitas, menghargai perbedaan, dan menjaga keseimbangan kehidupan,” lanjutnya.
Pertemuan dengan lingkungan ABIM pun tidak berhenti sebagai agenda peringatan Maulid. Diskusi tersebut menjadi bagian dari upaya tim untuk memahami bagaimana organisasi Islam dan lembaga pendidikan di Malaysia menerjemahkan nilai moderasi dalam kehidupan nyata.
Dari perjalanan Bukit Jambul hingga diskusi di Pantai Tanjung Asam, peringatan Maulid Nabi kali ini akhirnya menjadi ruang belajar yang lebih luas. Alam menjadi tempat untuk berefleksi, sementara dialog menjadi jalan untuk memahami bagaimana nilai-nilai Islam yang moderat dapat tumbuh melalui pendidikan dan kehidupan sosial. (dul)

