BACAAJA, JAKARTA – Istilah Maulid dan Maulud cukup sering terdengar setiap kali umat Islam memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW. Sekilas memang terdengar mirip, bahkan dalam obrolan sehari-hari keduanya kerap dianggap punya arti yang sama.
Namun, Prof Quraish Shihab punya penjelasan menarik soal dua istilah tersebut. Menurutnya, Maulid dan Maulud ternyata punya makna yang berbeda, meski sama-sama berkaitan erat dengan sosok Nabi Muhammad SAW.
Penjelasan itu juga membawa kita pada pembahasan yang lebih luas tentang bagaimana kisah kehidupan Nabi dibicarakan sejak zaman dulu. Jadi, bukan sekadar soal istilah, tetapi juga bagaimana umat Islam mengenal dan mengingat perjalanan hidup Rasulullah.
Maulid dan Maulud Beda Makna
Quraish Shihab menjelaskan, kata “maulud” mengarah pada sesuatu atau seseorang yang dilahirkan. Dalam konteks ini, sosok Nabi Muhammad SAW bisa disebut sebagai maulud karena ia merupakan seseorang yang dilahirkan.
Sementara itu, “maulid” lebih berkaitan dengan waktu atau tempat kelahiran. Karena itu, istilah Maulid Nabi biasanya digunakan untuk menyebut momentum atau peristiwa yang berkaitan dengan kelahiran Nabi Muhammad SAW.
Dalam tradisi umat Islam di Indonesia, Maulid umumnya diperingati dengan berbagai kegiatan. Mulai dari pengajian, pembacaan sholawat, ceramah, doa bersama hingga pembacaan kisah perjalanan Nabi.
Meski istilahnya berbeda, tujuan yang ingin dicapai tetap sama, yakni mengenang sosok Nabi Muhammad SAW sekaligus menumbuhkan kecintaan umat kepada Rasulullah.
Bukan Baru Muncul di Zaman Shalahuddin
Menurut Quraish Shihab, ada anggapan bahwa pembahasan tentang Maulid Nabi baru dimulai pada masa Shalahuddin Al-Ayyubi. Ia menilai anggapan tersebut kurang tepat.
Pembicaraan mengenai Nabi Muhammad SAW, kata Quraish Shihab, sudah berlangsung sejak masa sahabat. Bahkan, sosok Nabi sudah dibicarakan sebelum kelahirannya.
Umat Islam juga mengenal kisah Nabi melalui Al-Qur’an. Di dalamnya terdapat banyak ayat yang menceritakan kehidupan, perjuangan, hingga berbagai peristiwa yang dialami Rasulullah.
Karena itu, menurut Quraish Shihab, membicarakan Maulid sebenarnya sudah dilakukan sejak umat Islam mempelajari Al-Qur’an. Kalau kemudian ada peringatan resmi dalam bentuk kegiatan tertentu, itu persoalan yang berbeda.
“Boleh jadi, resmi negara baru dimulai waktu itu,” demikian penjelasan Quraish Shihab seperti dikutip Bincangsyariah.com.
Kisah Nabi Punya Banyak Sumber
Quraish Shihab menyebut setidaknya ada tiga sumber untuk mendapatkan informasi mengenai Nabi Muhammad SAW. Pertama adalah Al-Qur’an yang memuat berbagai kisah dan informasi tentang Rasulullah.
Kedua adalah keterangan yang datang langsung dari Nabi. Salah satu contohnya ketika Rasulullah menjelaskan alasan dirinya berpuasa pada hari Senin.
Nabi Muhammad SAW pernah ditanya tentang puasa Senin. Ia menjawab bahwa hari tersebut merupakan hari kelahirannya.
Sumber ketiga berasal dari berbagai riwayat dan analisis yang membahas kehidupan Nabi. Dari sinilah cerita tentang Rasulullah berkembang dan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Jangan Asal Percaya Cerita
Quraish Shihab juga mengingatkan bahwa tidak semua cerita yang beredar tentang Nabi bisa langsung dipercaya. Menurutnya, masyarakat zaman dahulu punya kebiasaan menikmati cerita karena pilihan hiburan belum sebanyak sekarang.
Dulu, mendengar dongeng atau kisah menjadi salah satu hiburan yang digemari masyarakat. Bahkan, muncul profesi khusus bagi orang-orang yang memang dikenal sebagai tukang cerita atau qashashshiin.
Masalahnya, cerita yang menarik belum tentu benar. Quraish Shihab memberi gambaran lewat kisah Syekh Muhammad Abduh tentang tafsir Surat Al-Kautsar.
Ada riwayat yang menyebut Al-Kautsar sebagai sungai di surga dengan pasir yang terbuat dari berlian. Namun, Syekh Muhammad Abduh disebut tidak langsung mempercayai cerita tersebut.
Menurut Quraish Shihab, banyaknya orang yang mengulang sebuah cerita tidak otomatis membuat cerita itu menjadi benar. Bisa saja sebuah kisah terus menyebar karena orang-orang senang mendengarnya, tetapi tidak pernah mengecek kebenarannya.
Ia kemudian mengibaratkan hal itu seperti cerita tentang hantu di sebuah pondok yang menyebar dari mulut ke mulut. Karena terus diceritakan, orang akhirnya menganggapnya nyata, padahal belum tentu ada faktanya.
Sirah Berbeda dengan Maulud
Dalam penjelasannya, Quraish Shihab juga mengaitkan istilah tersebut dengan “sirah”. Istilah ini lebih dikenal untuk menggambarkan perjalanan hidup Nabi Muhammad SAW secara menyeluruh.
Kalau pembahasannya fokus pada sosok Nabi sebagai seseorang yang dilahirkan, maka istilah yang tepat adalah maulud. Sementara pembahasan yang lebih luas mengenai perjalanan hidup, perjuangan dan berbagai peristiwa yang dialami Nabi masuk dalam pembahasan sirah.
Dengan begitu, memahami istilah Maulid dan Maulud bukan cuma perkara beda penyebutan. Ada konteks bahasa yang membuat keduanya punya penggunaan masing-masing.
Pada akhirnya, Quraish Shihab mengajak umat Islam untuk tidak berhenti pada seremoni. Mengenal Maulid seharusnya juga menjadi pintu untuk mengenal sosok Nabi Muhammad SAW, perjalanan hidupnya, akhlaknya dan nilai-nilai yang ia ajarkan.
Sebab, semakin sering kisah Nabi dipelajari dengan sumber yang jelas, semakin kuat pula kesempatan umat untuk mengambil teladan dari kehidupan Rasulullah SAW. (*)

