BACAAJA, SEMARANG – Siswa SDN Pendrikan Lor 02, Kota Semarang saban hari belajar dan menyantap MBG di bawah atap kelas yang ambrol. Meski membahayakan, siswa dan guru tak punya pilihan.
Plafon itu sudah lama jebol. Lubang menganga di langit-langit ruang kelas membiarkan rangka atap tua terlihat jelas dari bawah.
Sebagian kayunya mulai lapuk, kusen jendela dan pintunya juga lapuk dimakan rayap. Rangka atapnya juga rawan ambrol karena lama tidak direnovasi. Namun, di bawah ancaman itu, suara anak-anak tetap terdengar.
Bacaaja: Siswa SDN Perdikan Semarang Makan MBG dengan ‘Lauk’ Was-was Ketiban Atap Ambrol
Bacaaja: Detik-Detik Pohon Raksasa Timpa Kelas SDN Sendangmulyo 3
Mereka tetap belajar, meski ruang kelas yang seharusnya memberi rasa aman justru menyimpan kekhawatiran setiap kali angin bertiup atau hujan turun.
Begitulah potret SDN Pendrikan Lor 02, Kota Semarang. Tiga ruangan yang terdiri dari kelas 2A, kelas 2B, dan perpustakaan menjadi bagian bangunan yang kondisinya paling memprihatinkan.
Selama sekitar 15 tahun, ketiga ruangan itu belum pernah tersentuh renovasi besar.
Kepala SDN 2 Pendrikan Lor, Dwi Hartiningsih, mengatakan bangunan sekolah yang berdiri sejak 1950 itu memang sudah termakan usia.
“Bagian kayu-kayunya, terutama kusennya, sudah habis dimakan rayap. Atapnya juga sangat membahayakan untuk anak-anak saat pembelajaran,” kata Dwi, Selasa (28/7/2026).
Menurutnya, pihak sekolah hanya mampu melakukan perbaikan kecil. Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) hanya bisa dipakai untuk pemeliharaan ringan, bukan memperbaiki kerusakan struktur bangunan.
Padahal, pada Desember lalu, sebagian genteng di salah satu ruang kelas sempat ambrol saat hujan. Sekolah kemudian menambal bagian yang rusak menggunakan sebagian dana BOS agar ruang itu masih bisa digunakan.
“Yang roboh kemarin gentengnya. Kami tambal sulam pakai dana BOS, alhamdulillah bisa dipakai lagi. Tapi itu belum menyelesaikan semuanya karena kerusakannya masih berat,” ujarnya. (bae)

