BACAAJA, TEMANGGUNG – Program ‘Rumah Singgah’ Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Temanggung sudah setahun berjalan. Keberadaan rumah singgah gratis ini memberi begitu banyak manfaat untuk pasien maupun keluarga pasien yang sedang berobat ke Semarang atau Jogja.
Tercatat, fasilitas yang berada di Semarang dan Jogja itu sudah dimanfaatkan 409 kali kunjungan oleh warga Temanggung.
Data Dinas Sosial mencatat, jumlah tersebut merupakan akumulasi penggunaan rumah singgah sejak 25 Juni 2025 hingga 20 Juni 2026.
Bacaaja: Mulai 2027, Trans Jateng Sambungkan Magelang-Temanggung
Bacaaja: Polemik Revisi PP Kesehatan, Agus Gondrong Harap Keresahan Petani Tembakau Didengar
Rumah singgah ini disiapkan sebagai tempat transit atau menginap sementara bagi warga Temanggung yang memiliki keperluan mendesak di luar kota, mulai dari mendampingi anggota keluarga yang sakit, mengikuti lomba, mencari pekerjaan, hingga urusan darurat lainnya.
Bupati Temanggung, Agus Setyawan (Agus Gondrong), mengatakan program tersebut lahir dari pengalaman yang sering ia temui saat masih aktif turun ke lapangan. Banyak warga Temanggung yang harus tidur di selasar rumah sakit karena tak mampu menyewa penginapan ketika mendampingi keluarga berobat.
“Alhamdulillah bermanfaat. Karena betapa susahnya kalau ada anggota keluarga sakit. Jangan ditambah beban biaya penginapan lagi. Rumah singgah ini gratis untuk pendamping pasien, pelajar, pencari kerja, hingga keperluan darurat. Yang penting warga ber-KTP Temanggung,” kata politikus PDIP itu, kemarin.
Manfaat rumah singgah juga dirasakan langsung oleh warga. Mereka tak lagi kebingungan tempat menginap saat berobat atau mengantar keluarga yang sedang berobat.
Ifwandi Yusuf mengaku terbantu saat mendampingi keluarganya menjalani pengobatan rawat jalan di Yogyakarta. Menurutnya, keberadaan rumah singgah membuat keluarganya tidak perlu bolak-balik Temanggung–Jogja yang tentu menguras biaya dan tenaga.
“Cukup bagus tempatnya. Ada saudara yang periksa rujukan dari RS Temanggung hasilnya menunggu tiga hari. Daripada pulang pergi, Rumah Singgah ini sangat membantu dari segi biaya dan capeknya pasien,” ucap Ifwandi.
Pengalaman serupa juga dibagikan Leli Emiliya. Ia mengetahui keberadaan rumah singgah saat membesuk tetangganya yang dirawat di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta.
Menurutnya, fasilitas tersebut sangat membantu pasien yang harus menjalani rangkaian pemeriksaan atau pengobatan sehingga tidak perlu bolak-balik ke Temanggung.
“Karena suatu prosedur, daripada pasien bolak balik Temanggung-Jogja, jadi Rumah Singgah ini bisa dipergunakan. Tempat lumayan luas, bersih, dan sangat layak untuk transit pasien dan keluarga yang menemani,” ungkapnya.
Berdasarkan data Dinas Sosial, Rumah Singgah Semarang mencatat 207 kunjungan. Mayoritas penggunanya merupakan pencari kerja, pelajar yang mengikuti kompetisi, hingga atlet daerah.
Sementara itu, Rumah Singgah Yogyakarta melayani 202 kunjungan, yang sebagian besar dimanfaatkan pasien rawat jalan, pasien kemoterapi, serta keluarga yang mendampingi pasien rujukan di RSUP Dr. Sardjito.
Bagi warga Temanggung yang membutuhkan tempat menginap sementara di Semarang maupun Yogyakarta, syaratnya cukup mudah. Mereka hanya perlu menunjukkan KTP Temanggung, selama kamar masih tersedia.
Lewat program ini, Pemkab Temanggung berharap masyarakat yang sedang menghadapi kondisi sulit tidak lagi terbebani biaya penginapan saat harus menjalani pengobatan, mencari pekerjaan, maupun mengurus kepentingan penting di luar daerah. (*)

